RADAR JOGJA - Silaturahmi antarsupporter PSIM Jogja dan Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jumat (28/11), tak hanya menyisakan euforia penonton saja. Tapi juga sebagai ajang promosi jajanan khas Jogja bakpia di Jakarta. Hingga nilai-nilai kemanusiaan.
Inisiatif itu datang dari para anggota Bala Mataram Rescue (BMR) 1929, elemen suporter PSIM yang punya concern terhadap kegiatan penyelamatan. Sebelum keberangkatan ke Jakarta, anggota BMR 1929 bergerilya mencari bakpia di seputaran Kota Jogja. Sebagai buah tangan bagi The Jak, suporter Persija Jakarta.
"Akhirnya kami hanya bisa membawa sekitar 4.000 bakpia, tidak sesuai target awal memang," kata Wakil Ketua BMR 1929 Fikar Yunizar Eka Pramana di Jogja, Senin (1/12). Empat ribu bakpia tersebut kemudian dibungkus dalam kertas mika dengan isi lima bakpia dengan ditempeli stiker BMR 1929. "Supaya lebih mudah dibagikan."
Kenapa mimilih bakpia? "Dibanding semisal gudeg, bakpia relatif mudah dibawa dan bisa dinikmati banyak orang," ungkapnya.
Tak sekadar jadi oleh-oleh, BMR 1929 yang merupakan bagian dari supporter pecinta Laskar Mataram PSIM Yogyakarta ini sekaligus mengampanyekan bakpia asli khas Jogja. Sehingga bakpia yang dibawa adalah bakpia kacang hijau. Bukan yang dalam bentuk bolu maupun kukus. "Ya turut mengingatkan kembali bakpia orisinal asli Jogja," tuturnya.
Bakpia yang dibungkus tersebut kemudian dibagikan selama perjalanan masuk ke Stadion GBK. Mulai dari ring dua di parkiran hingga jelang masuk ke gate tribun. Responnya pun baik. Di jagat media sosial, banyak suporter Persija yang mengunggah dalam postingan media sosialnya.
Fikar yang turut menjadi saksi mata langsung pertandingan terakhir PSIM di Jakarta pada 2006 silam, saat main di Stadion Lebak Bulus, itu mengaku terharu. "Enggak nyangka setelah 19 tahun bisa lihat PSIM main lagi di Jakarta, bahkan sekarang di stadion kebanggan masyarakat Indonesia GBK," ungkapnya.
Tapi bukan berarti tugas BMR 1929 rampung usai membagikan bakpia. Ketika para suporter mulai berdatangan masuk ke tribun stadion GBK, tugas BMR 1929 sebenarnya baru dimulai. Mereka mulai menyisir, memastikan tidak ada suporter PSIM yang tertinggal di luar stadion.
Tantangan berikutnya saat menuju tribun untuk suporter PSIM di lantai atas. Harus menaiki empat lantai. Fikar yang sehari-hari bekerja di TRC BPBD DIJ itu menyebut, sebenarnya kondisi tersebut kurang ideal untuk jalur evakuasi jika terjadi sesuatu. "Untungnya sampai akhir pertandingan tidak terjadi apa-apa," ujarnya.
Tapi naik anak tangga sampai empat lantai bukan perkara mudah. Terbukti banyak suporter yang mengeluhkan nyeri kaki dan pinggang. Fikar bahkan menjumpai ada suporter tuan rumah yang tampak kepayahan untuk menaiki anak tangga. Dengan keluhan nyeri dada. Tim BMR 1929 pun yang memberikan pertolongan pertama.
Tapi mereka sempat kesulitan menemukan tim kesehatan. Tim BMR 1929 harus turun keluar stadion untuk mencari tandu dan tim kesehatan. Karena di timnya tidak ada yang dokter. "Akhirnya dibawa ke RSAL dr Mintohardjo, komunikasi terakhir dengan keluarganya sudah membaik dan siap away ke Jogja di putaran kedua nanti," jelasnya.
Selama pertandingan BMR 1929 pun lebih banyak di lorong stadion dibanding menonton pertandingan. Sesekali mereka ke tribun untuk memastikan tidak ada suporter yang mengalami gangguan. Tapi tim BMR 1929 malah menjadi yang terakhir keluar stadion. Mereka melakukan cleaning area. Menyisir jika ada suporter PSIM atau ada barang yang tertinggal. "Kami temukan beberapa suporter yang tertinggal, kalau masih kuat jalan sendiri, yang tidak kuat ya kami bopong," jelasnya.
Ternyata tugas BMR 1929 belum usai. Dalam perjalanan pulang sempat terjadi insiden di dalam tol. Saat bus rombongan suporter PSIM memasuki wilayah Cirebon, Jawa Barat terdapat lemparan batu. "Meski kaca bus rusak tapi tetap bisa melanjutkan perjalanan pulang, aman sampai Jogja," jelasnya.(pra)
Editor : Satria Pradika