SLEMAN - Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Sleman terus menunjukkan komitmennya dalam membenahi ekosistem sepak bola di wilayah Bumi Sembada.
Tidak hanya berfokus pada kompetisi, pihak Askab kini juga tengah gencar mendorong profesionalisme melalui sertifikasi manajemen klub, lisensi pelatih, hingga peningkatan kualitas wasit.
Ketua Umum Askab PSSI Sleman Wahyudi Kurniawan menjelaskan dorongan untuk meningkatkan profesionalisme melalui sertifikasi manajemen klub, lisensi pelatih, hingga peningkatan kualitas wasit itu diambil sebagai respons atas kondisi di lapangan.
Sebab, pihaknya menilai masih banyak Sekolah Sepak Bola (SSB) maupun perkumpulan sepak bola yang dikelola secara konvensional dan amatir.
Selain itu, pihak Askab PSSI Sleman juga menilai bahwa sebuah klub yang sehat harus memiliki pengelolaan yang baik. Hal ini mencakup manajemen yang tersertifikasi serta jajaran pelatih yang memiliki lisensi resmi.
Namun, realitas yang terjadi saat ini menunjukkan masih adanya kesenjangan kualitas di tingkat akar rumput.
"Banyak SSB maupun perkumpulan ini masih dikelola secara konvensional. Rata-rata masih amatir dan belum ada pelatih-pelatih yang berlisensi," ucapnya, Senin (17/11/2025).
Berangkat dari kondisi itu, pihak Askab PSSI Sleman langsung menunjukkan perhatian khusus terhadap beberapa hal tersebut. Mengingat peran vital klub-klub daerah itu sebagai pemasok talenta ke Timnas Indonesia.
"Padahal kami ini adalah fondasi untuk tim nasional," tegasnya.
Guna menjembatani kesenjangan itu, Wahyudi mengaku pihak Askab PSSI Sleman tidak hanya menuntut, tetapi juga memberikan solusi konkret.
Baca Juga: Dapat Peran Baru dari Van Gastel, Deri Corfe Bahas Perubahan Posisi di PSIM Jogja
Pihak asosiasi secara aktif akan memberikan fasilitas dan menstimulasi adanya program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di dalamnya.
Program-program itu meliputi pelatihan untuk pelatih lisensi D, dasar lisensi C, hingga pelatihan untuk perangkat pertandingan atau wasit. Tujuannya adalah agar seluruh elemen dalam football family, mulai dari manajemen klub, pelatih, hingga wasit supaya bisa naik kelas.
Dampak jangka panjang dari program ini, rencananya akan diproyeksikan supaya bisa mempermudah jenjang pembinaan di tingkat yang lebih tinggi.
Jika fondasi di tingkat kabupaten sudah kuat dengan SDM yang berlisensi dan memiliki jam terbang tinggi, maka tugas Asosiasi Provinsi (Asprov) akan menjadi lebih ringan.
"Nanti tingkatan yang di atasnya seperti Asprov dan sebagainya sudah tidak perlu pusing-pusing mengadakan seleksi wasit atau seleksi pelatih. Sudah tidak perlu, karena datanya sudah tersedia dan teruji," ujarnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun