Pemain asal Jepang itu didatangkan sejak musim lalu dan menjadi salah satu pemain yang turut membawa PSIM promosi dari Pegadaian Liga 2 2024/2025 menuju kasta tertinggi, BRI Super League 2025/2026.
Sejauh ini Yusaku menilai ada perbedaan antara Liga 2 dan Liga 1. Salah satunya adalah perbedaan jumlah pemain asing.
Saat di Liga 2 lalu, tiap tim hanya diperkenankan memiliki tiga pemain asing, sementara di Liga 1 atau Super League kali ini setiap tim punya kuota maksimal mengontrak 11 pemain asing.
"Itu jadi perbedaan dan persaingannya jadi lebih berat. Pemainnya juga lebih berkualitas," katanya kepada Radar Jogja, Kamis (23/10/2025).
Sejauh ini, dari sembilan pertandingan yang sudah dijalani PSIM di Super League, Yusaku sendiri juga selalu menjadi pilihan Pelatih PSIM Jean Paul van Gastel di lini belakang tanpa pernah tergantikan.
Diakui, ia merasa senang dengan kepercayaan yang diberikan. Namun ia juga berkomitmen untuk terus bisa meningkatkan performanya.
Selain guna mengamankan tempat di tim utama, ia juga menyadari peta kekuatan penyerang di Super League.
"Ada banyak pemain berkualitas dan sangat variatif, baik pemain lokal atau asing di Super League," lontarnya.
Dari tim-tim yang sudah dihadapi PSIM sejauh ini, Yusaku menyebut pemain yang paling sulit dihadapi olehnya adalah Francisco Rivera.
Ia memaparkan, gelandang serang milik Persebaya Surabaya asal Meksiko itu memiliki pergerakan yang sangat sulit untuk diantisipasi.
"Dia memiliki football IQ yang bagus. Gerakannya juga lincah dan tidak terprediksi," bebernya.
Yusaku mengungkapkan, baginya lebih susah untuk menghadapi pemain setipe Rivera, di mana ia tidak sepenuhnya mengandalkan kekuatan fisik atau otot, namun lebih mengedepankan visi bermain dan otak.
"Rasanya lebih sulit menghadapi pemain seperti itu dibanding pemain yang punya fisik dan tubuh besar," ungkap Yusaku. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun