Tapi persepsi itu berubah ketika saya memutuskan berangkat untuk menonton sekaligus meliput PSIM Jogja dalam laga tandang ke markas Persita Tangerang di Indomilk Arena, Jumat (17/10/2025).
Saya memaknai perjalanan ini bukan sekadar tugas liputan. Di dalamnya, saya belajar memahami bagaimana rasanya menjadi bagian dari perjalanan panjang para suporter.
Orang-orang yang dengan sadar memilih hadir, meski jarak dan waktu tak selalu bersahabat.
Musim ini PSIM tampil sebagai tim promosi di BRI Super League, kasta tertinggi sepak bola Indonesia setelah penantian 18 tahun.
Naik kasta bukan berarti hanya soal naiknya kualitas permainan, tapi juga soal jarak yang harus ditempuh dalam laga-laga tandang.
Dari delapan pertandingan sejauh ini, para pemain PSIM sudah menyambangi Surabaya, Maluku Utara, Gianyar, Parepare, hingga Tangerang.
Saya yakini setiap kota menyimpan cerita tersendiri. Dan di setiap stadion, selalu ada wajah-wajah familiar, mereka yang setia mengibarkan panji Laskar Mataram di tanah rantau.
Kamis malam (16/10/2025), saya berangkat sendiri dari Jogja dengan kereta malam. Tiba di Jatinegara dini hari.
Saya menunggu waktu sambil menahan kantuk, lalu transit ke Tanah Abang sebelum melanjutkan perjalanan ke Parung Panjang.
Total jarak yang saya tempuh dari Jogja menuju Indomilk Arena kurang lebih 580 kilometer. Jarak yang tidak pendek untuk sebuah pertandingan yang sejatinya hanya berdurasi 90 menit.
Harus saya akui perjalanan panjang ini melelahkan, tapi anehnya terasa ringan, karena di ujungnya ada stadion yang menanti.
Baca Juga: Setelah Sukses di Jakarta, AWMI Akan Gelar Super Fight di Yogyakarta
Dua jam sebelum kick off, saya sudah tiba di Indomilk Arena. Di sana saya mengobrol dengan beberapa suporter lokal dan beberapa orang Jogja yang juga datang jauh-jauh.
Mereka tak punya fasilitas khusus atau kemewahan, hanya semangat yang tak pernah padam.
Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang hanya demi satu hal; menyaksikan tim kesayangannya bertanding dari dekat.
Sebagai seseorang yang biasa menonton dari layar kaca, atau setidaknya dari jarak dekat di laga kandang, pengalaman duduk di tribun tandang ini memberikan sensasi yang benar-benar berbeda.
Sorakan, dentuman drum, nyanyian dukungan yang menggema, semuanya menyelimuti hari itu menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pertandingan sepak bola.
Bagi sebagian orang, menjadi suporter tandang mungkin terdengar sederhana. Tapi kenyataannya tidak, banyak yang harus dikorbankan.
Waktu, tenaga, biaya, dan kadang kenyamanan. Namun di situlah letak loyalitas. Ia tak butuh sorotan atau tepuk tangan.
Ia tumbuh dari niat yang tulus, dari langkah kaki yang menempuh jarak jauh, dari suara serak yang terus bersenandung sepanjang laga.
Kini saya paham, menjadi suporter bukan hanya soal berdiri di tribun kandang. Tapi juga menemani, memastikan tim agar tidak berjalan sendirian.
PSIM kini bermain di kasta tertinggi. Dan saya dengan kerelaan hati, akan terus berusaha menemani.
Tak hanya di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul yang kini menjadi home base, tapi juga di stadion-stadion lain, di kota-kota yang mungkin jauh dari rumah, tapi selalu dekat di hati. Kota-kota yang menuntut perjuangan dan perjalanan jauh, tapi sepadan untuk ditempuh. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun