Dalam PON Bela Diri 2025 itu terdapat 10 cabang olahraga (cabor) seperti taekwondo, karate, shorinji kempo, pencak silat, judo, gulat, sambo, tarung derajat, jujitsu, dan wushu.
"Tahapan-tahapan sudah dilakukan seperti entry by name (EBN) dan rencananya untuk chief de mission (CdM) dan delegation registration meeting (DRM) akan dilaksanakan di Kudus, 4-6 Oktober," ujar Wakil Ketua Umum (WKU) I KONI DIY Rumpis Agus Sudarko, Senin (6/10/2025).
Rumpis berharap para atlet yang akan mengikuti ajang itu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, sehingga mampu menghasilkan prestasi terbaik untuk DIY.
Disinggung soal target, ia bersama-sama pengurus daerah (pengda) cabor akan melakukan verifikasi sekaligus memetakan atlet yang berpeluang lolos dan meraih medali.
Sementara itu, PON Bela Diri yang mengusung tema "Bela Diri Itu Prestasi" merupakan kolaborasi KONI Pusat bersama Djarum Foundation, induk cabor, dan kontingen, dalam rangka meningkatkan prestasi olahraga Indonesia guna mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Terdata sementara ada 2.656 atlet dari 38 provinsi akan berlaga pada 223 nomor pertandingan, dengan jumlah ofisial sebanyak 1.107 orang.
"Terima kasih, apresiasi dan penghormatan yang tinggi juga kepada seluruh kontingen, KONI provinsi bersama anggotanya, yang tentu didukung kepala daerah masing-masing," ujar Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.
Menurutnya, prestasi olahraga merupakan tanggung jawab bersama. Kemudian dari kompetisi tersebut dapat menjaring dan menyaring yang terbaik untuk mewakili Indonesia pada kejuaraan internasional.
Lebih lanjut dijelaskan, PON XXII/2028 di NTT-NTB sendiri kini fokus mempertandingkan cabor olimpiade, unggulan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) dan cabor pilihan tuan rumah.
Oleh karena itu, KONI Pusat membuat PON terobosan bagi cabor bela diri yang dipertandingkan pada PON sebagai tambahan dan juga mewadahi cabor lain. Sebagai informasi, ajang ini akan diadakan setiap dua tahun sekali.
"PON Bela Diri merupakan terobosan, di mana kita memberikan multievent nasional tambahan di luar PON. Karena atlet berprestasi dunia lahir dari latihan keras yang selalu diuji pada kompetisi berkualitas, kemudian dievaluasi dengan melibatkan sport science," ungkapnya.
Diakui oleh Marciano, program terobosan bukanlah hal mudah, baik untuk penyelenggara dan juga peserta. Pasalnya tidak ada rujukan multievent nasional sebelumnya selain PON.
Meski demikian, para atlet yang akan bertanding nantinya agar menjadikan multievent ini sebagai wadah pembuktian diri sekaligus sarana pembelajaran untuk menjadi lebih tangguh secara mental, fisik, dan teknik.
Di sisi lain, PON Bela Diri Tahun 2025 juga diharapkan menjadi ajang unjuk prestasi sekaligus momentum untuk meningkatkan pembinaan olahraga bela diri di Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Ajang ini juga menjadi salah satu langkah konkret KONI Pusat dalam memperkuat cabang olahraga non-olimpiade. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun