RADAR JOGJA - Padel, olahraga yang merupakan perkembangan dari tenis ini sedang naik daun di kancah global.
Padel pertama kali muncul di Meksiko pada tahun 1969.
Baru-baru ini, olahraga tersebut semakin menjamur di Indonesia sehingga banyak investor yang memanfaatkan peluang ini dengan membuka sejumlah lapangan padel.
Tren olahraga padel yang notabenenya tumbuh pesat bukan berarti hal yang bagus, artinya padel bukan olahraga yang disenangi masyarakat secara natural.
Akibatnya, olahraga padel perlahan akan redup dan akan dengan mudah tergantikan oleh yang lain.
Padel yang menjadi tren global di beberapa negara kini tengah mengalami penurunan minat dari masyarakat, seperti yang sedang terjadi di Swedia dan Chile.
Dari sejumlah informasi yang dihimpun, di kedua negara tersebut, olahraga padel berkembang paling cepat dibanding negara lain.
Pada tahun 2020, yang awalnya ada 1.500 lapangan padel di Swedia, hanya butuh satu tahun saja jumlah lapangan sudah mencapai lebih dari 3.500 dalam waktu yang termasuk singkat.
Kemudian di tahun 2024, terdapat sejumlah 4.200 lapangan padel di Swedia.
Padel mendapat julukan olahraga nasional baru di swedia karena mempunyai sekitar 700.000 pemain aktif di cabor tersebut.
Banyaknya lapangan yang ada merupakan pemicu oversupply dan membuat lapangan-lapangan yang sebelumnya selalu penuh menjadi kosong.
Beberapa pengelola tidak sanggup menutup biaya operasional sewa gedung dan Listrik karena pendapatan turun hingga 10% di hari biasa.
Klub besar Time 4 Padel di Gothenburg telah menutup operasi pada akhir 2024. Lebih dari 600 lapangan tutup permanen di tahun 2024.
Bangkrutnya perusahaan lapangan padel tak hanya terjadi di Swedia, hal yang sama menimpa Chile.
Pada 2024, dilaporkan ada sebanyak 80-100 klub yang tutup karena turunnya minat masyarakat yang beralih ke jenis olahraga lainnya.
Jumlah lapangan padel yang membludak tak terkontrol dalam waktu yang relatif singkat, serta penurunan minat masyarakat menjadi penyebab utama kebangkrutan cabor padel.
Perusahaan tak mampu membayar biaya operasional yang tinggi dan persaingan antarklub dengan jumlah peminat yang tidak seberapa membuat banyak lapangan harus tutup.
Ditambah kondisi ekonomi beberapa negara yang sedang mengalami inflasi seperti di Chile.
Olahraga yang awalnya sebagai hiburan kemudian menjadi gaya hidup di Indonesia ini mulai menunjukkan peristiwa yang dialami Swedia.
Investor di Indonesia tentunya harus waspada akan hal ini, pembukaan lapangan padel harus berdasarkan studi pasar termasuk pemetaan permintaan masyarakat, dan rencana jangka panjang. (Nugrahaningtyas)