SLEMAN - Sebanyak 40 atlet dari tiga kabupaten/kota, yakni Bantul, Sleman, dan Kota Jogja, adu ketangkasan dan teknik dalam cabang olahraga (Cabor) angkat berat pada Pekan Olahraga Daerah (PORDA) XVII DIY 2025.
Pertandingan digelar di Gedung Serbaguna Kantor Kalurahan Condongcatur, Sleman, selama dua hari, pada 13 dan 14 September.
Ketua Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) DIY Reno Candra Sangaji menjelaskan, bahwa PORDA tahun ini terpusat dan dilaksanakan di Gunungkidul. Namun karena adanya sejumlah penyesuaian, penyelenggaraan Cabor angkat berat akhirnya dilakukan di Sleman.
"Pelaksanaan di Condongcatur ini lebih efisien, karena atlet yang bertanding hanya dari tiga kabupaten/kota. Dari sisi fasilitas maupun sarana prasarana juga sudah teruji, termasuk saat Kejurda sebelumnya," ungkap Reno pada Radar Jogja, Sabtu (13/9/2025).
Secara statistik, dari total 40 peserta, 12 atlet merupakan perempuan, dan 28 lainnya laki-laki.
Pada Cabor ini, ada 9 kategori kelas berat yang dipertandingkan, mulai dari 57 kg hingga 105 kg, dengan tiga jenis angkatan, yakni squat, bench press, dan deadlift.
Reno menambahkan, belum adanya pengurus kabupaten (Pengkab) Pabersi di Gunungkidul dan Kulonprogo membuat dua daerah tersebut belum bisa mengirimkan atlet.
Meski begitu, komunikasi untuk pembentukan organisasi sudah dilakukan.
Dengan harapan, Gunungkidul dan Kulonprogo bisa mengirimkan atletnya di gelaran Porda selanjutnya.
"Targetnya, saat PORDA 2027 nanti lima kabupaten/kota di DIY bisa ikut semua di angkat berat," ujarnya.
Selain fokus pada pembentukan Pengkab, Reno menekankan pentingnya regenerasi atlet.
Menurutnya, perkembangan gym yang kian menjamur bisa menjadi peluang untuk mendorong anak muda menekuni angkat berat.
"Harapannya ke depan bisa ada kategori pelajar, sehingga pembibitan atlet muda berjalan. Sekarang olahraga sudah jadi lifestyle," tambah Reno, yang juga menjabat sebagai Lurah Condongcatur.
Reno juga menambahkan, bahwa dewan juri untuk Cabor angkat berat ini didatangkan dari luar daerah.
Hal tersebut dilakukan untuk menjaga objektivitas penilaian, dan transparansi.
"Ada dua dewan juri, dari Bandung dan Solo. Agar objektif dan fair. Karena kita ini berproses mencari atlet terbaik yang nanti akan mewakili provinsi DIY untuk maju ke PON," bebernya.
Sementara itu, salah satu atlet yang tampil adalah RA Clarissa Muafa, perempuan berusia 23 tahun tersebut menjadi salah satu wakil Kabupaten Bantul yang turun di kelas 84 kg.
Clarissa tercatat sudah tiga kali mengikuti PORDA DIJ, yakni pada 2017, 2019, dan 2025.
"Tahun 2022 saya tidak ikut karena kelas beratnya tidak ada, dan saya juga harus operasi. Jadi baru bisa turun lagi tahun ini," kata Clarissa.
Menyiapkan PORDA kali ini, setelah sempat vakum, ia mengaku sudah memulai persiapan sejak tahun lalu, dengan latihan terprogram yang ditingkatkan intensitasnya tiga bulan terakhir.
Meski sempat mengalami cedera lutut, Clarissa tetap bertekad menorehkan hasil terbaik.
"Untuk PORDA kali ini ekspektasi saya realistis, targetnya bisa meraih medali perunggu," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva