JOGJA - PSIM Jogja akan menjalani rangkaian laga berat di awal kompetisi BRI Super League 2025/2026. Setelah menghadapi Persebaya Surabaya pada 8 Agustus lalu, Laskar Mataram dijadwalkan bertemu lawan-lawan tangguh di sisa bulan ini.
Pada 16 Agustus, PSIM akan menjamu Arema FC di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul pukul 15.30. Seminggu kemudian atau 24 Agustus pukul 15.30, PSIM bakal berhadapan dengan Persib Bandung. Bulan Agustus ditutup dengan laga tandang melawan Malut United, 30 Agustus pukul 19.00.
Di atas kertas, lawan-lawan itu unggul dari segi kualitas dan komposisi pemain. Namun pengamat sepak bola sekaligus dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi menilai, situasi ini justru bisa menjadi momentum bagi PSIM untuk menguji kemampuan dan meraih poin berharga.
"PSIM adalah pendatang baru di kasta tertinggi setelah lama berada di Liga 2. Beberapa kali nyaris promosi tapi gagal, dan akhirnya tahun ini bisa kembali ke Super League," ujar Fajar kepada Radar Jogja Minggu (10/8/2025).
Menurutnya, persiapan PSIM terbilang cukup matang. Tim sudah menggelar latihan dan eksperimen taktik sejak awal Juli 2025. Di bursa transfer, PSIM juga merekrut sejumlah pemain kunci seperti mantan kapten Persebaya Reva Adi Utama, gelandang kreatif Ze Valente, penyerang Deri Corfe dan Nermin Haljeta, gelandang bertahan Rahmatsho Rahmatzoda, serta kiper timnas Cahya Supriadi.
Untuk diketahui, Fajar sendiri dikenal aktif menulis buku, melakukan riset, berbicara di forum sepak bola, hingga mengoleksi berbagai jersey klub lokal maupun internasional. Sehingga kepakaran Fajar di dunia sepak bola sudah tak diragukan lagi.
Lebih lanjut Fajar juga menyoroti peran pelatih baru PSIM Jean-Paul van Gastel asal Belanda. Kedatangan pelatih ini jadi angin segar untuk tim kebanggaan Brajamusti dan The Maident.
"Van Gastel ini diharapkan bisa membawa filosofi bermain kontemporer dan efisiensi taktik," tambahnya.
Secara umum ia mengapresiasi kemenangan PSIM di laga perdana melawan Persebaya. Diakui, bermain tandang menghadapi tim yang bahkan melakukan persiapan dengan training center di Australia, dan mampu menang, merupakan capaian positif.
"PSIM mampu beradaptasi cepat dengan standar permainan dan intensitas Super League," puji Fajar.
Terkait laga-laga berat di Agustus, Fajar menilai menghadapi lawan yang secara kualitas lebih baik justru akan memberi manfaat bagi tim Laskar Mataram. "Pemain langsung menghadapi tekanan tinggi sejak awal musim. Mendapat hasil imbang saja sudah baik, apalagi kalau bisa meraih tiga poin di laga-laga berat ini," tuturnya. (iza/laz)