Digelar 25-26 Juli 2025 di The Ratan, pameran ini menjadi bagian dari rangkaian acara Rise Above yang diinisiasi perwakilan suporter PSIM, Brajamusti.
Belasan jersey ikonik PSIM dari berbagai era, mulai tahun 1993 hingga jersey musim lalu saat Laskar Mataram berlaga di Pegadaian Liga 2 2024/2025, terpajang dengan narasi yang menggugah rasa bangga.
Founder Bawahskor sekaligus kurator pameran, Dimaz Maulana menjelaskan, ini merupakan kali kedua Museum of Laskar Mataram digelar. Ini setelah kali pertama diadakan pada 2020.
"Sekarang secara eskalasi lebih meningkat. Selain jersey, kami juga tampilkan medali, arsip berita, hingga tayangan ulang pertandingan PSIM," kata Dimaz saat ditemui Radar Jogja, Jumat (25/7/2025).
Menariknya, kontributor pameran datang dari berbagai pihak. Pemain aktif PSIM seperti Savio Sheva dan Yusaku Yamadera turut meminjamkan medali juara, jersey, dan sepatu mereka.
Dukungan juga datang dari para legenda PSIM serta suporter. "Ada suporter yang memang koleksi jersey. Ada juga 16 jersey miliknya lintas era untuk dipamerkan," paparnya.
Lebih lanjut Dimaz menyebut ada sejumlah item yang sempat direncanakan tampil, tetapi terpaksa ditiadakan karena kendala perizinan.
Seperti piala juara Divisi I Liga Indonesia tahun 2005, serta trofi Pegadaian Liga 2 yang baru diraih beberapa bulan lalu.
"Selain itu, sepeda motor Suzuki Smash yang dulu diberikan kepada para pemain PSIM ketika juara, juga gagal dipajang karena saat ini lokasinya ada di Magelang," tuturnya.
Meski begitu, pameran tetap berlangsung meriah dan berhasil menarik antusiasme pengunjung. Menurut Dimaz, salah satu tujuan utama acara ini untuk mengedukasi para suporter agar lebih mengenal sejarah panjang PSIM.
"Kami ingin suporter tahu, PSIM ini tim dengan sejarah panjang dan layak dicintai," tambahnya.
Ia menekankan, pameran Museum of Laskar Mataram menjadi salah satu cara merawat ingatan kolektif. "Sekaligus pengingat PSIM Jogja punya cerita panjang perjuangan yang patut diwariskan," lontarnya.
Salah seorang perwakilan supporter PSIM Bagas Widodo mengapresiasi pameran ini. Ia menilai, Museum of Laskar Mataram bukan hanya tempat nostalgia, tetapi juga ruang belajar bagi generasi muda Brajamusti.
"Banyak yang baru tahu sejarah PSIM dari sini. Buat kami, ini bukti kecintaan pada klub yang tidak hanya soal menang-kalah di lapangan," ujar Bagas.
Secara pribadi, Bagas mengaku kagum dengan koleksi yang ditampilkan dalam pameran. Menurutnya, ini adalah momen penting yang mungkin akan jarang terulang.
"Jadi banyak tahu koleksi dan sejarahnya. Cukup beruntung karena saya bisa datang dan melihat langsung," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Herpri Kartun