JOGJA - Kebijakan terbaru PT Liga Indonesia Baru (LIB) terkait penambahan kuota pemain asing di Kompetisi Super League musim 2025/2026 yang mengizinkan setiap tim mendaftarkan maksimal 11 nama pemain asing, memicu perubahan signifikan dalam perencanaan PSIM Jogja. Meskipun mengapresiasi tujuan di balik kebijakan itu demi kemajuan liga, diakui manajemen hal itu malah mengganggu strategi yang sudah disusun.
Manajer PSIM Jogja Razzi Taruna mengatakan, sebenarnya manajemen memahami sepenuhnya langkah yang diambil PT LIB dan PSSI terkait regulasi 11 pemain asing. Menurutnya, kebijakan itu diambil pasti juga untuk kebaikan liga dan menaikkan peringkat liga yang sekarang bisa dikatakan masih di level yang tidak seharusnya.
Namun, apresiasi itu tidak menampik fakta bahwa implementasi kebijakan tersebut secara mendadak juga tetap akan berdampak langsung terhadap tim. "Cuma memang dari segi tim, saya menyatakan planning tim kami jadi berubah," ujarnya kepada wartawan di Stadion Mandala Krida, Jogja, Senin (14/7) sore.
Bagi Razzi, perubahan terkait kuota 11 pemain asing memang menjadi hal yang sangat krusial untuk timnya. Mengingat PSIM merupakan tim promosi yang baru saja kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia setelah sekian lama.
Dampak paling terasa dari kebijakan itu adalah pada strategi rekrutmen pemain. Sebab, sebelumnya Laskar Mataram hanya berencana memaksimalkan kuota delapan pemain asing untuk mengarungi kompetisi nanti.
"Kalau dari sisi tim jujur emang planning-nya bisa jadi berubah. Karena kalau kami delapan main semua, perekrutannya mungkin tidak seperti musim ini," katanya.
Meski begitu, sebagai tim promosi, PSIM tetap menyatakan kesiapannya untuk beradaptasi dengan kebijakan baru itu. Sebab, menurut Razzi, adaptasi merupakan salah satu kunci untuk bisa bersaing di level tertinggi sepak bola Indonesia.
"Tapi balik lagi kami sebagai pendatang baru, kami akan coba memaksimalkan diri di kompetisi Super League nanti," tegasnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan penambahan pemain, khususnya pemain asing, Razzi belum bisa menentukan masalah ini. Pria asal Menteng, Jakarta ini masih ingin berdikusi secara internal dengan manajemen, termasuk dengan Pelatih Kepala Jean-Paul Van Gastel untuk menentukan langkah selanjutnya.
"Kemarin udah kami patok, tapi dengan kondisi seperti ini kami akan diskusi ulang," lontarnya.
Walaupun saat ini terbilang waktu persiapan kian mepet dan perubahan kebijakan cukup mendasar, tetapi manajemen PSIM akan terus berkomitmen mendukung penuh upaya pelatih agar tim bisa tampil maksimal di kompetisi nanti. "Kami dari manajemen berkomitmen semaksimal mungkin agar kami bisa bantu pelatih tampil maksimal di Liga Super League," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun