GUNUNGKIDUL - Meski kini lebih banyak bertanding di luar negeri, Veda Ega Pratama kali pertama mengaspal justru di sirkuit Pasar Sapi Siyono. Pelatih sekaligus ayah Veda, Sudarmono, 40, mengakui Veda tidak lahir dari sirkuit megah. Melainkan dari sirkuit simulasi yang dibuatkan di pasar sapi.
"Dari Pasar Sapi Veda lahir sebagai pembalap. Sekarang dia sudah balapan di kelas internasional," ujar Sudarmono saat ditemui di rumahnya Senin (23/6).
Veda mulai dikenalkan motor oleh Sudarmono sejak umur empat tahun. Saat itu, menurut cerita Sudarmono, ia membelikan Veda motor GP mini. Ketika baru memiliki motor GP, Sudarmono mengaku sudah melihat anaknya langsung memiliki ketertarikan terhadap motor balap. Sehingga, dia membawa Veda kecil ke Alun-Alun Wonosari. Dari sinilah kali pertama Veda diajari oleh ayahnya bagaimana menggunakan sepeda motor.
"Veda naik motor GP mini muter-muter di Alun-Alun Wonosari,” ujarnya. Ia membelikan Veda sebuah motor balap bukan tanpa alasan. Menurutnya, dia sengaja membelikan anaknya motor balap. Sebab, Sudarmono juga seorang pembalap Motor GP.
Waktu itu, ayah Veda mengaku ingin melihat apakah anaknya juga sama seperti dirinya. Sehingga setelah berkali-kali Veda kecil bermain motor GP mini di Alun-Alun Wonosari, Sudarmono pun mulai melatihnya. "Ya, ternyata darah seorang pembalap juga mengalir di Veda," ujarnya.
Tak langsung dibawa ke Pasar Hewan Siyono, pada usia 6 tahun Veda terlebih dahulu diikutkan balapan motor cross kelas kecil. Sudarmono mengaku, selama satu tahun penuh pembalap kelahiran Wareng, Wonosari, itu sudah menyabet juara di balapan motor cross.
Menyaksikan keberanian anaknya dalam ajang balapan, Sudarmono yakin anaknya memiliki bakat di bidang ini. "Berlanjut terus balapan motor cros sampai umur 7 tahun, mental pembalapnya sudah terbentuk,” tuturnya.
Melihat tekad anaknya yang ketagihan balapan, akhirnya Sudarmono meracik sepeda motor bebek untuk Veda. Dari sinilah, saat Veda menginjak 8 tahun, tepatnya ketika 2016 pembalap asal Gunungkidul ini mulai berlatih di Pasar Hewan Siyono.
Bahkan Sudarmono melatih Veda secara khusus. Dia membuatkan jadwal latihan untuk Veda tiga kali dalam satu pekan. Masih sama seperti kali pertama Veda kecil bermain motor GP mini di Alun-Alun Wonosari. Sudarmono kembali memberikan kiat-kiat menggunakan sepeda motor balap.
“Umur 8 tahun sudah saya latih balapan menggunakan motor bebek. Kali pertama Veda menginjak aspal di Pasar Sapi Siyono,” cerita Sudarmono.
Sejak saat itu Sudarmono melatih ketangkasan Veda. Menurutnya, lintasan sirkuit di Pasar Sapi Siyono dibuatnya sendiri. Bermodal ban mobil bekas, Sudarmono membuat rute simulasi balapan dengan berkelok. Tak hanya itu, dia mengaku terkadang sengaja membuat kelokan tajam untuk melatih anaknya. Bahkan di jalur lurus pun dibuatnya mendadak berkelok.
Veda berlatih di Pasar Hewan Siyono selama satu tahun penuh. Hingga akhirnya Sudarmono mulai mencarikan program penjenjangan balapan profesional untuk anaknya. “Dari situlah berlatihnya,” ungkap Sudarmono.
Ketika usia Veda menginjak 9 tahun, Veda sudah berhasil masuk program penjenjangan langsung di bawah asuhan Honda. Upaya ini pun membuahkan hasil. Pada usia 11 tahun, Sudarmono mengaku anaknya sudah mulai masuk dalam balapan kelas nasional. Sampai pada akhirnya menyabet juara nasional pada saat Veda usia 12 tahun. “Iya balapan lotres, motor bebek itu,” ujarnya.
Jatuh bangun saat Veda latihan di Pasar Hewan Siyono inilah yang menunjukkan Sudarmono membawa anaknya meraih finis pertama di Race 2 pada balapan kedua yang digelar di Sirkuit Mugello, Italia kemarin. (cr1/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita