RADAR JOGJA - Combat sport di Indonesia semakin mendapat sorotan, termasuk acara yang digelar oleh CEO Holywings Sport Show (HSS), Paris Pernandes.
Pada 15 Desember 2024, Holywings Sport Night (HSN) kembali diadakan di HW Superhouse Satrio, Jakarta.
Meski acara ini sempat dinantikan banyak penggemar, hasilnya justru menuai banyak kritik dari netizen.
Netizen mengungkapkan kekecewaannya terhadap kualitas acara ini, mulai dari pemilihan petarung hingga keputusan wasit yang dinilai kurang memuaskan.
Banyak yang membandingkan HSN Jakarta dengan acara sebelumnya di Surabaya, yang dianggap lebih menarik dan menghibur.
Kritik Tajam untuk Pemilihan Petarung
Salah satu sorotan utama adalah pemilihan petarung yang dianggap kurang tepat.
Banyak netizen merasa Paris Pernandes tidak selektif dalam memilih peserta, sehingga kualitas pertandingan utama menurun.
“Kali ini Paris blunder. Salah pilih orang! Banyak petinju brutal di luar sana, tapi malah pilih petarung yang enggak greget di main event,” tulis seorang netizen di kolom komentar Instagram Paris.
Pertarungan antara Calisrox dan Kingkong Man yang diharapkan menjadi laga seru justru mengecewakan banyak orang.
Pertandingan ini berakhir dengan KO sebelum ronde pertama selesai, membuat penonton merasa antiklimaks.
“Lain kali pilih petarung yang layak. Jangan kasih partai utama ke ‘ayam-ayam sayur’. Ini combat sport atau lawak sih?” kritik netizen lainnya.
Hal serupa juga terjadi pada laga Nelson vs Yenson, yang dianggap tidak menarik.
“Partai utama sangat tidak seru. Host sampai jengkel karena lebih banyak ejekan dibandingkan jual beli pukulan,” ujar seorang penonton di Instagram.
Respons Paris Pernandes
Menanggapi berbagai kritik, Paris Pernandes mengunggah permintaan maaf melalui akun Instagram-nya.
Dalam unggahannya, ia berjanji akan mengevaluasi acara tersebut untuk memberikan yang lebih baik di masa depan.
Namun, tidak semua komentar bernada negatif. Ada juga penggemar yang memberikan semangat kepada Paris untuk terus belajar dan berkembang.
“Semangat terus, Lek! Hinaan orang adalah pembelajaran. Perbaiki apa yang kurang, dan acara selanjutnya pasti akan lebih baik. Jangan menyerah!” tulis seorang penggemar.
Meski didera kritik tajam, acara ini tetap menjadi pembelajaran besar bagi Paris Pernandes dan timnya untuk meningkatkan kualitas pertunjukan di masa depan. (Reinerd Adventhree K)
Editor : Winda Atika Ira Puspita