RADAR JOGJA - Para petinggi sepak bola Eropa dan Serikat Pemain Global, FIFPRO bersatu untuk mengkritik FIFA terkait jadwal padat sepak bola global saat mereka mengajukan keluhan antimonopoli terhadap badan pengatur sepak bola global tersebut.
FIFPRO dan Liga-Liga Eropa, yang mewakili 37 liga domestik, bersama-sama mengajukan pengaduan di Komisi Eropa di Brussels di mana mereka berpendapat bahwa badan sepak bola dunia FIFA menyalahgunakan haknya sebagai penyelenggara turnamen dan regulasi.
Presiden La Liga, Javier Tebas mengatakan salah satu hari terpenting dalam sepak bola dan membandingkan kasus ini dengan Liga Super Eropa yang gagal, sementara bos Premier League, Richard Masters mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sepak bola telah mencapai titik kritis.
La Liga bukan anggota dari Liga-Liga Eropa namun menjadi bagian dari keluhan tersebut.
FIFPRO, organisasi perwakilan pemain sepak bola profesional di seluruh dunia, mengatakan telah mencoba menegosiasikan masalah ini dengan FIFA namun mengatakan bahwa badan pengatur tersebut secara konsisten menolak untuk berkonsultasi dengan mereka.
FIFPRO juga menggambarkan niat FIFA untuk menjadi tuan rumah kompetisi Piala Dunia Antarklub yang diperluas di Amerika Serikat pada musim panas ini sebagai langkah yang terlalu jauh.
Kompetisi musim panas ini sepertinya tidak akan terpengaruh mengingat waktu yang singkat sebelum kompetisi tersebut berlangsung.
“Hari ini adalah salah satu hari terpenting dalam sepak bola,” ujar Tebas.
“Bagi saya, ada dua hari bersejarah dalam sepak bola. Pertama pada tahun 2019 ketika kami menghentikan reformasi Liga Super dan hari ini kami telah memberikan langkah yang sangat penting dalam apa yang kami yakini sebagai jalan untuk mengubah tata kelola institusi sepak bola dan kami tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja,” imbuhnya.
Beban kerja pemain telah menjadi topik hangat dalam sepak bola selama beberapa musim terakhir, dengan para pemain dan pelatih berulang kali mendesak penyelenggara untuk tidak memadatkan jadwal dan memberi waktu istirahat yang lebih banyak kepada para pemain.
Bulan lalu, gelandang Manchester City, Rodri mengatakan bahwa para pemain hampir mogok bermain karena masalah ini.
“Hal ini sudah mencapai titik kritis,” kata Masters dalam sebuah pernyataan.
“Umpan balik yang kami dapatkan dari para pemain adalah bahwa ada terlalu banyak sepak bola yang dimainkan dan ada ekspansi yang konstan. Liga Inggris tidak berubah bentuk. Apa yang telah berubah selama beberapa dekade terakhir adalah maraknya kompetisi sepak bola internasional dan regional,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala eksekutif Serie A, Luigi De Siervo, mengatakan liga divisi utama di Italia seperti hampir semua Liga Eropa lainnya, dalam 20 tahun terakhir tidak menambah jumlah pertandingan.
“Sebaliknya FIFA dan UEFA, dari siklus ke siklus, telah meningkatkan jumlah kompetisi mereka secara konstan untuk klub dan tim nasional dan kami sekarang telah mencapai titik jenuh dalam kalender,” ungkap De Siervo.
FIFA berargumen bahwa jadwal terbarunya, yang ditetapkan hingga 2030, telah disetujui oleh dewannya yang termasuk FIFPRO dan badan-badan liga.
Hal itu dikatakan pada bulan Juli, ketika keluhan antimonopoli pertama kali diumumkan.
“Kalender FIFA adalah satu-satunya instrumen yang memastikan bahwa sepak bola internasional dapat terus bertahan, hidup berdampingan, dan berkembang bersama sepak bola klub domestik dan kontinental,” jelas FIFA.
FIFA percaya Piala Dunia Antarklub akan memiliki dampak minimal pada jadwal sepak bola atau pada kesejahteraan pemain, mengingat itu akan diadakan setiap empat tahun sekali, dengan maksimal tujuh pertandingan.
Sebuah analisis terbaru yang diterbitkan oleh Opta menunjukkan bahwa, sementara Manchester City memainkan pertandingan terbanyak musim lalu (59), mayoritas tim di Eropa memainkan kurang dari 50 pertandingan, dengan lima tim Premier League memainkan 42 pertandingan musim lalu.
Penelitian lain yang dilakukan oleh CIES Football Observatory menemukan bahwa hanya ada sedikit perbedaan dalam jumlah pertandingan yang dimainkan para pemain per musim dibandingkan dengan beberapa dekade sebelumnya.
Namun, FIFPRO mengatakan penelitian mereka menunjukkan 72% pemain mendukung pengurangan kalender dan memastikan periode istirahat yang sesuai, serta data yang menunjukkan 17% pemain membuat lebih dari 55 penampilan musim lalu dan 30% memiliki enam pertandingan “back-to-back”.
FIFPRO dan Liga-Liga Eropa berpendapat bahwa FIFA menyalahgunakan statusnya sebagai badan pengatur dan penyelenggara turnamen, dengan mengatakan bahwa badan tersebut lebih mementingkan kompetisi mereka sendiri daripada memperhatikan kesejahteraan pemain.
“Cukup sudah, kami tidak tahan lagi,” kata Mathieu Moreuil, direktur hubungan sepak bola internasional dan urusan Uni Eropa di Premier League.
“Kami sekarang memiliki kalender pertandingan internasional yang sudah di luar batas... Kami telah mencoba untuk terlibat dengan FIFA dalam hal itu selama bertahun-tahun tanpa ada tanggapan positif. Jadi sudah cukup,” tegasnya.
Keluhan antimonopoli bukanlah satu-satunya kasus yang menimpa FIFA terkait padatnya jadwal pertandingan internasional.
Serikat pemain domestik di Inggris, Prancis dan Italia mengambil tindakan hukum terhadap badan yang mengatur di Pengadilan Perdagangan Brussels pada bulan Juni dan mereka berusaha untuk membawa kasus ini ke Pengadilan Eropa.
Kasus tersebut berpusat pada hukum ketenagakerjaan dan hak-hak pemain untuk berlibur. Salah satu tujuan mereka adalah untuk memiliki waktu istirahat yang diamanatkan (antara tiga hingga empat minggu per tahun) bagi para pemain untuk memulihkan diri.
Badan pengatur Eropa UEFA juga telah meningkatkan jadwalnya, terutama dengan format Liga Champions dan Liga Europa yang baru, namun tidak menjadi target dalam pengaduan kepada regulator.
Moreuil mengatakan itu karena FIFA bertanggung jawab atas kalender internasional dan hubungan yang berbeda dengan UEFA berkat dialog.
Editor : Bahana.