JOGJA - Kiper asing PSS Sleman Alan Bernardon yang tidak ikut tampil saat skuad Laskar Sembada kalah 0-1 dari Semen Padang FC di Stadion STIK pada pekan ketiga kompetisi Liga 1 musim 2024/2025, Senin (26/8) lalu membuat banyak publik bertanya-tanya. Pasalnya, kiper berkebangsaan Brasil itu dinilai cukup baik dalam dua laga awal yakni saat melawan Persebaya Surabaya (11/8) dan Persik Kediri (19/8).
Ya, sampai pekan ketiga kompetisi Liga 1 Alan dinilai bermain cukup mengejutkan di bawah mistar gawang PSS. Tercatat ada 11 penyelamatan yang dilakukannya. Namun saat menghadapi Kabau Sirah, posisi Alan digantikan Ega Rizky yang membuat kesalahan di menit awal dengan melanggar salah satu pemain Semen Padang FC di dalam kotak pinalti. Sehingga wasit memberikan hadiah pinalti untuk tim lawan yang dieksekusi sangat sempurna oleh Kenneth Ngwoke dan menyebabkan kekalahan bagi PSS.
Pelatih Kepala PSS Sleman Wagner Lopes menjelaskan alasan tidak memasang Alan saat laga melawan Semen Padang FC karena itu strateginya. Di mana pada saat laga itu, Lopes hanya ingin ada enam pemain yang turun ke lapangan. "Itu strategi saya untuk enam pemain itu bermain di lapangan," ungkapnya kemarin (30/8).
Sejalan dengan Lopes, Manajer tim PSS Leonard Tupamahu juga mengatakan tidak dipasangnya Alan karena sebuah taktikal dari sang pelatih. Walaupun pihaknya tahu kalau sejak Alan datang ke tim semua orang sudah meragukannya. Tapi baginya Alan adalah salah satu pemain yang bisa menjawab ribuan keraguan orang-orang itu.
"Mental seperti itu setiap pemain harus punya dan harus mencontoh Alan. Walaupun diragukan orang, dia bisa menjawab dengan permainan yang baik," katanya.
Lonard menambahkan, tidak dimasukkannya Alan di laga kontra Semen Padang FC karena jajaran pelatih PSS ingin memaksimalkan para pemain depannya. "Di belakang sudah ada Ega, kiper kami yang kualitasnya sama seperti Alan. Pelatih pun percaya. Jadi kalau Alan tidak dicadangkan, ada salah satu pemain asing kami yang di depan itu jadi cadangan," tandasnya. (ayu/laz)
Editor : Satria Pradika