Sejak kecil, ia telah diajarkan mengenai pendidikan agama, menghafal Al-Qur’an, dan mempelajari prinsip-prinsip dasar teologi Islam.
Di akhir tahun 1950-an, Khamenei melanjutkan pendidikannya ke hawza di Mashhad dan seterusnya ke Qom, yang merupakan pusat pendidikan ulama Syiah di Iran.
Di kota tersebut, ia mulai aktif dalam perbincangan politik-keagamaan dan terpengaruh oleh ide-ide perlawanan terhadap monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang pada waktu itu dianggap sebagai pemerintahan yang otoriter dan berpihak kepada Barat.
Revolusi Iran dan Karier Politik Awal
Aktivisme politik Khamenei menyebabkan ia ditangkap dan diawasi oleh pihak keamanan kerajaan beberapa kali.
Setelah keberhasilan Revolusi Iran pada tahun 1979 yang menjatuhkan sistem monarki, dia muncul sebagai figur kunci dalam pemerintahan baru Republik Islam.
Karier politiknya melonjak dengan cepat hingga ia berhasil terpilih sebagai Presiden Iran pada tahun 1981, sebuah jabatan yang dipegangnya selama dua periode hingga tahun 1989.
Masa jabatannya ditandai oleh konflik Iran-Irak serta upaya pembunuhan pada tanggal 27 Juni 1981 yang mengakibatkan cedera permanen di lengannya.
Pemimpin Tertinggi dan Warisan Politik
Setelah meninggalnya Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989, Khamenei terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, posisi paling tinggi dalam struktur politik negara itu.
Selama lebih dari 30 tahun, ia memimpin arah politik, militer, serta kebijakan luar negeri Iran.
Kepemimpinannya dikenal tegas, menentang Barat, dan berupaya memperkuat pengaruh Iran di kawasan, akan tetapi juga mendapat sorotan tajam terkait isu demokrasi dan hak asasi manusia.
Meskipun terdapat berbagai kontroversi, Ali Khamenei tetap menjadi tokoh utama yang menentukan citra Iran masa kini.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.