JOGJA - Jauh sebelum menjadi Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono pernah menjalani tujuh tahun sebagai pemain PSIM Jogja di tengah kesibukannya bersekolah dan membantu usaha hotel keluarga. Sejak muda, ia dituntut pintar membagi waktu, disiplin, dan bertanggung jawab menjalani pendidikan sekaligus sepak bola.
Kecintaan terhadap sepak bola sudah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar. Deddy kecil rutin berlatih di lapangan Minggiran, Mantrijeron, Kota Jogja. Saat itu, sang ayah memiliki klub sepak bola yang menjadi tempatnya menempa kemampuan.
"Dulu pulang sekolah pasti ke lapangan Minggiran buat latihan," kenangnya, Minggu (20/9/2026).
Bakat tersebut kemudian membawanya masuk SMAN 1 Jogja melalui jalur prestasi olahraga. Saat berusia sekitar 19 tahun dan duduk di kelas satu SMA, Deddy mulai bergabung dengan PSIM. Perjalanannya berlanjut dari tim junior hingga senior dan berlangsung sekitar tujuh tahun.
Baca Juga: Bekali Keterampilan, Disnakertrans DIY Dorong Lansia Tetap Produktif Berwirausaha
Kala itu, PSIM masih berkompetisi secara amatir. Fasilitas yang diterima pemain pun jauh berbeda dengan sepak bola profesional saat ini. Mendapat sepatu atau jaket sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Sementara uang saku yang diterima berkisar Rp 25 ribu hingga paling tinggi Rp 50 ribu setiap pertandingan.
"Saya tahun 90-an, waktu itu masih amatir. Dapat sepatu Adidas saja sudah senang, dapat jaket sudah senang," ujarnya.
Deddy lebih banyak bermain sebagai stopper atau libero. Sesekali pelatih mencoba menempatkannya sebagai penyerang. Namun, posisi di lini belakang membuatnya lebih nyaman.
Baca Juga: Disdikpora DIY Minta Layanan SPPG Dievaluasi, Kasus Keracunan Jadi Peringatan
Menjadi pemain sepak bola bukan berarti membuat Deddy mengabaikan pendidikan dan pekerjaan. Justru sejak muda, ia telah dididik orang tuanya untuk bertanggung jawab dan mampu membagi waktu.
Ayahnya tidak membiasakan Deddy menerima uang saku begitu saja. Jika membutuhkan uang, Deddy harus bekerja membantu usaha hotel keluarga. Ketika ada pertandingan atau latihan PSIM, ia harus mengatur waktu dengan pekerjaan dan sekolah.
"Saya harus bisa membagi waktu. Intinya saya dididik untuk bisa membagi waktu dan bertanggung jawab," jelasnya.
Beruntung, sang ayah juga memahami kecintaannya terhadap sepak bola. Bahkan, ayahnya kerap mengawal Deddy ketika bermain. Namun, status sang ayah sebagai pengurus PSIM tidak membuat Deddy mendapat perlakuan khusus. "Pelatih yang memilih saya. Bapak tidak pernah mengharuskan saya dimainkan. Kalau saya tidak baik, ya tidak akan dimainkan," tegasnya.
Baca Juga: Jemput Bola ke Sekolah, Kejar Target Perekaman KTP-el bagi 1.818 Pelajar Berusia 17 Tahun
Justru hal tersebut menjadi pelajaran penting. Ia tidak ingin memanfaatkan posisi sang ayah untuk mendapatkan tempat di tim. Semua harus diperoleh melalui kemampuan dan kedisiplinan.
Namun, perjalanan sebagai pemain PSIM juga tidak selalu mulus. Cedera menjadi salah satu risiko yang harus diterimanya sebagai pemain belakang. Ia pernah mengalami tangan bergeser hingga harus menjalani pemulihan. Cedera paling parah terjadi ketika bertanding di Surabaya.
Saat itu, tulang Deddy patah setelah terkena tendangan pemain lawan. Cedera tersebut terjadi ketika dirinya masih duduk di semester empat kuliah.
"Kalau cedera itu memang duka. Saya berhenti karena patah tulang. Itu risiko sebagai pemain," ungkapnya.
Baca Juga: Cucu Sultan HB X Minta Tindak Tegas Pungli; Merugikan Iklim Pariwisata Jogja
Meski sudah tidak lagi aktif sebagai pemain, kecintaan Deddy terhadap sepak bola tidak pernah hilang. Ia masih kerap berkumpul bersama mantan pemain PSIM dan mengikuti kegiatan PSIM Veteran. Jika bermain pun, ia memilih sekadar menendang bola dari pinggir lapangan.
Bagi Deddy, sepak bola pada masa mudanya memberikan banyak pengalaman. Selain menyalurkan hobi, sepak bola juga membuka kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman bepergian. "Bisa bertamasya gratis, dapat sepatu, dan bisa masuk sekolah favorit karena prestasi olahraga," terangnya.
Kini, Deddy berharap pengalaman tersebut bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda yang ingin menekuni sepak bola. Menurutnya, pemain muda harus berani menentukan pilihan dan menjalaninya secara serius.
"Kalau tekun dan berprestasi, akan memudahkan kita dalam hidup, baik untuk belajar maupun profesional. Tapi harus disiplin dan bisa membagi waktu," pesannya.
Baca Juga: PSIM Jogja Didenda Komdis PSSI Sebesar Rp 110 Juta, PSS Sleman Rp 30 Juta
Deddy juga mengingatkan agar generasi muda tidak menjalani sepak bola secara setengah-setengah. Jika sudah yakin, pilihan tersebut harus ditekuni dengan sungguh-sungguh. "Saya berharap perjalanan PSIM di level profesional semakin berprestasi," imbuhnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita