Lahan Terbatas, Tak Halangi Kelompok Tani Swakaton Asri Tanam Padi di Tengah Kota dengan Galon Bekas

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 21:32 WIB
Sagio sedang mengecek tanaman padi yang yang berada di perkebunan Kelompok Tani Swakaton Asri. Cintia Yuliani/Radar Jogja
Sagio sedang mengecek tanaman padi yang yang berada di perkebunan Kelompok Tani Swakaton Asri. Cintia Yuliani/Radar Jogja

JOGJA - Keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti bercocok tanam. Kelompok Tani Swakaton Asri di Wirobrajan, Kota Jogja, membuktikannya dengan menanam padi menggunakan galon bekas. 

Sebanyak 120 galon bekas dimanfaatkan sebagai media tanam padi di lahan seluas sekitar 5 x 5 meter. Inovasi tersebut berawal dari program pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dengan pemantauan dari Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogjakarta yakni Sagio.

Sagio mengatakan, tanaman padi tersebut mulai ditanam sekitar empat bulan lalu. Saat ini, padi telah memasuki masa panen dengan usia tanaman sekitar 110 hari.

"Rencananya panen tanggal 20 bulan ini, tetapi karena ada acara, kami sekalian panen bersama pada tanggal 23," katanya saat ditemui di lokasi perkebunan Minggu (13/9/2026). 

Baca Juga: Bukan Cuma Datang Saat Bencana, Ini Pesan Penting Jusuf Kalla untuk PMI DIY di Tengah Pelantikan

Menurut Sagio, menanam padi menggunakan galon justru memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya adalah penggunaan pupuk yang lebih efektif karena nutrisi tidak mudah terbawa air.

"Pupuk tidak ke mana-mana karena tidak terkena banjir atau air yang mengalir ke mana-mana," jelasnya.

Selain itu, budidaya padi dalam galon dinilai lebih mudah dalam pengaturan air. Petani dapat mengontrol kebutuhan air tanaman tanpa harus membuat lahan tergenang. Selama ini, kata Sagio, masih ada anggapan tanaman padi harus terus-menerus digenangi air. Padahal, pada fase awal pertumbuhan, kebutuhan air justru perlu diatur.

"Mulai tanam sampai umur 35 hari, airnya tidak perlu banyak. Sedikit saja, karena saat itu sedang terjadi proses pembentukan anakan," terangnya.

Baca Juga: Warga Dikejutkan dengan Penemuan Mayat Terbakar di Tebing Parit Mlati Sleman

Dari sisi biaya, metode tersebut juga relatif murah. Harga satu galon bekas sekitar Rp 1.000. Sementara kebutuhan tanah dan pupuk kandang tidak sampai Rp 10 ribu per wadah. 

"Galonnya juga bisa kuat lima tahun. Jadi bisa digunakan lagi," ujarnya.

Menariknya, kelompok tani tersebut juga mengembangkan pengelolaan limbah menjadi kompos. Pupuk yang digunakan untuk tanaman padi pun tidak bergantung pada pestisida.

"Kami menggunakan kotoran kambing dan limbah dari lele yang dimasukkan ke media tanam," kata Sagio.

Baca Juga: Tak Punya Tradisi Membatik, Warga Mulyodadi Kembangkan Batik Gayam hingga Jadi Usaha BUMDes

Keberadaan padi dalam galon juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak di perkotaan. Sebab, tidak sedikit anak-anak yang hanya mengenal beras sebagai bahan makanan, tetapi tidak mengetahui bagaimana tanaman padi tumbuh hingga menghasilkan beras.

"Dengan adanya seperti ini kami mencoba memperkenalkan prosesnya," ungkapnya.

Mulai dari menyiapkan media tanam, menanam, merawat hingga memanen akan dikenalkan kepada para siswa.

Rencana edukasi tersebut semakin mendapat perhatian setelah tanaman padi dalam galon milik kelompok tani tersebut viral di media sosial. Unggahan Sagio bahkan ditonton hingga jutaan kali.

Baca Juga: Sasar Anak dan Dewasa, Pemkot Deteksi Penularan TBC dengan Terapkan Pemeriksaan Active Case Finding

Kabar tersebut membuat sejumlah masyarakat dari luar daerah penasaran dan datang langsung. Beberapa di antaranya berasal dari Jakarta, Tangerang, Sidoarjo, hingga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Mereka penasaran, ingin memastikan benar atau tidak. Karena itu banyak yang datang ke sini melihat langsung seperti apa menanam padi di galon," tuturnya.

Kegiatan edukasi tidak hanya sebatas tanaman padi. Anak-anak juga akan diajak mempraktikkan penanaman berbagai jenis sayuran. Sebab, lahan seluas 1 ribu meter juga dimanfaatkan untuk berbagai tanaman hortikultura. Di antaranya kacang panjang, terong, selada, sawi, bayam, bawang merah, seledri, cabai, kangkung, dan lainnya. 

Dengan biaya sekitar Rp 5 ribu per orang, peserta bisa belajar membuat media tanam, mengenal tanaman, hingga membawa pulang tanaman yang ditanamnya sendiri.

Baca Juga: Sasar Anak dan Dewasa, Pemkot Deteksi Penularan TBC dengan Terapkan Pemeriksaan Active Case Finding

Hasil panen sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan anggota kelompok. Sebagian lainnya dijual kepada masyarakat dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan harga pasar. Hasil penjualan kemudian digunakan kembali untuk membeli bibit, media tanam, dan pupuk kandang

Sagio berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu solusi bagi masyarakat perkotaan yang memiliki lahan terbatas. Kendati hasil padi yang diperoleh tidak sebanyak di sawah, setidaknya metode tersebut bisa menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan.

"Bisa untuk hiburan, bisa untuk hiasan. Ketika kita menanam seperti ini, tanamannya bagus, pikiran dan hati kita senang," pungkasnya. (cin)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Swakaton Asri keterbatasan lahan Bercocok Tanam kelompok tani galon bekas