MAGELANG - Berbekal pengalaman sebagai HRD, public relation, marketing promotion hingga pembawa acara, Sasmiati Satya Widyastuti memilih jalan berbeda dalam perjalanan kariernya. Alih-alih terus berada di dunia korporasi, ia memilih membagikan pengalaman dan ilmunya melalui pendidikan nonformal.
Pilihan itu diwujudkannya dengan mendirikan Solve All Solution (SAS) Center di Kota Magelang pada 2016. Lembaga tersebut fokus memberikan pelatihan public speaking, personality, dan pengembangan soft skill.
Bagi Sasmiati, keterampilan teknis saja tidak cukup untuk mengantarkan seseorang menghadapi dunia kerja maupun kehidupan sosial. Kemampuan berkomunikasi, membawa diri, dan membangun kepercayaan diri juga memiliki peran penting. “Saya berpikir, kenapa ilmu saya tidak saya bagikan untuk masyarakat dalam konteks dunia pendidikan?” kata Sasmiati saat ditemui, Jumat (11/9).
Baca Juga: Kontrak Setahun, Marvin Loria Ingin Bertahan Lebih Lama di PSIM meski Belum Rasakan Debut
Sebelum mendirikan SAS Center, Sasmiati sempat meniti karier di New Armada. Ia menjalani sejumlah posisi, mulai HRD, public relation, hingga marketing promotion. Di luar pekerjaan tersebut, ia aktif sebagai MC dan pernah dipercaya memandu sejumlah acara yang dihadiri Presiden ke-2 Soeharto hingga Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Pengalaman berhadapan dengan banyak orang itulah yang kemudian menjadi bekal ketika ia memutuskan keluar dari perusahaan dan membangun lembaga pelatihan sendiri.
Sejak berdiri, SAS Center berkembang sebagai lembaga pendidikan nonformal di bawah pembinaan dinas pendidikan dan kebudayaan (Disdikbud) setempat. Lembaga itu kini telah terakreditasi dan meluluskan ratusan siswa dari berbagai latar belakang. Mulai pelajar, mahasiswa, ASN, TNI, Polri, hingga masyarakat umum.
Pesertanya juga tidak hanya berasal dari Magelang. Untuk kelas tatap muka, siswa datang dari Temanggung, Wonosobo, Semarang, hingga Jogja. Sementara ketika pandemi, Sasmiati memanfaatkan pembelajaran daring yang membuat jangkauan siswanya meluas hingga Jakarta dan Banjarmasin.
Baca Juga: Aksi Heroik Bittu Tabahi, Mahasiswa Asal India Bersihkan Sungai Ajnar Seorang Diri Setiap Sore
Namun, ia kini lebih memilih pembelajaran tatap muka karena dapat memberikan koreksi secara langsung. Termasuk soal gestur, cara berdiri, duduk, berbicara hingga membangun kepercayaan diri. "Kalau offline, saya bisa langsung melihat dan membetulkan," ujarnya.
Dia menjelaskan, SAS Center menerapkan pembelajaran bertahap. Kelas dasar public speaking memadukan teori dan praktik, kemudian dilanjutkan dengan kelas yang lebih banyak praktik.
Materi selanjutnya pun disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Termasuk untuk mereka yang ingin menjadi pemandu acara, moderator, menghadapi wawancara kerja, maupun meningkatkan kemampuan presentasi.
Menurut Sasmiati, tantangan terbesar justru menghadapi siswa dengan kebutuhan yang sangat beragam. Karena itu, ia selalu menggali tujuan peserta sebelum menentukan materi.
Selain public speaking, attitude menjadi satu nilai yang terus ditekankan. Dia menilai, kemampuan membawa diri merupakan fondasi penting dalam pendidikan, pekerjaan maupun organisasi. "Attitude itu dasar untuk seseorang meniti karier dan menempatkan diri di mana pun berada," sebutnya.
Di tengah perjalanan itu, penghargaan Inspiring Woman 2018 dari Jawa Pos Radar Semarang menjadi satu momen yang semakin menguatkan keyakinannya untuk terus bergerak di pendidikan nonformal.
Bagi Sasmiati, keberhasilan lembaganya tidak semata diukur dari jumlah peserta. Kepuasan terbesar justru muncul ketika melihat para siswanya mampu tampil percaya diri dan berkembang.
Baca Juga: Menuai Kritik, France Football Coret 5 Nama Besar dari Ronaldo hingga Pedri dari Ballon d’Or 2026
Ia mencontohkan, seorang siswa dari SMA Kolese De Britto Jogja yang pernah mengikuti pelatihan di SAS Center. Setelah mengikuti kelas, siswa tersebut dipercaya sekolahnya untuk melakukan presentasi dan menyampaikan sambutan dalam sebuah kegiatan di Belanda. "Sebagai pendidik, kebahagiaan saya ketika melihat siswa sukses," ucapnya.
Kini, Sasmiati ingin SAS Center terus berkembang dan bersinergi dengan lebih banyak lembaga. Ia ingin pengalaman dan kemampuan yang dimiliki dapat memberi manfaat lebih luas. "Yang saya inginkan, hidup saya bisa bermanfaat dengan versi terbaik yang saya miliki," tandasnya. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita