RADAR JOGJA - Tidak pernah terbayang bagi Deddy Pranowo Eryono bahwa kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) justru membawanya menekuni dunia perhotelan. Kini, pria 50-an tahun itu menjadi ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY.
Perjalanannya tidak dimulai dari ruang manajemen. Sang ayah, pemilik Hotel Ruba Grha di Mantrijeron, Kota Jogja, justru meminta Deddy belajar dari posisi paling bawah. Hotel tersebut dibangun sekitar 1985. Sebelum menjadi hotel, lahan milik keluarga itu sempat digunakan untuk usaha toko batik, peternakan ayam, hingga usaha makanan ternak.
Ketika hotel mulai berdiri, Deddy masih berstatus mahasiswa. Ia sempat bertanya-tanya mengapa harus masuk ke dunia yang sama sekali berbeda dengan bidang kuliahnya. “Saya kuliah hukum di UII. Kok saya (harus kerja, Red) di hotel, kan beda banget,” kenangnya saat ditemui di Hotel Ruba Grha, Kamis (27/8).
Baca Juga: Anggaran Turun Bertahap, Sleman Diperkirakan Baru Miliki Taman Budaya pada 2031
Namun, keraguan itu perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu. Deddy mulai belajar dari para pekerja hotel dan mengikuti berbagai pelatihan. Ia mempelajari public relations (PR), berinteraksi dengan para general manager (GM), hingga memahami bahwa perhotelan bukan sekadar soal menjual kamar.
Baginya, pelayanan, komunikasi, dan kemampuan membangun hubungan sama pentingnya. Pelajaran pertama justru datang dari pekerjaan yang paling dasar. Deddy ditempatkan di bagian housekeeping selama sekitar satu setengah tahun. Karena masih kuliah, ia harus membagi waktu antara kelas dan pekerjaan. Jika kuliah sore, ia bekerja pada shift pagi dan sebaliknya.
Baca Juga: Adaptasi Mulus, Pieter Huistra Nilai Chemistry Para Pemain PSS Sleman Makin Padu
Setelah itu, ia berpindah ke bagian storekeeper selama sekitar enam bulan. Tugasnya menerima dan mengelola barang. Dari sana, ia kemudian masuk ke front office sebelum dipercaya menjadi asisten manajer. Barulah setelah melalui berbagai posisi tersebut, Deddy memahami maksud sang ayah.
“Setelah saya menjadi GM menggantikan ibu, saya baru sadar. Oh, saya itu dididik bapak dari bawah supaya tahu permasalahan jabatan di bawahnya,” ujarnya.
Deddy kemudian mulai aktif dalam organisasi public relations di Jogjakarta. Dari sana, lingkar pertemanannya semakin luas. Ia bertemu banyak pelaku perhotelan dan pariwisata.
Jejaknya berlanjut ke PHRI. Ia mengawali kiprah sebagai humas, kemudian menjadi wakil sekretaris, sekretaris, hingga dipercaya sebagai ketua PHRI DIY. Saat ini, ia telah menjalani dua periode.
Menurut Deddy, dunia hospitality tidak bisa berjalan tanpa hubungan baik. “Hospitality itu butuh link. Sekalian saya belajar menjalin koneksi,” tuturnya.
Bagi Deddy, memimpin PHRI bukan pekerjaan yang menghasilkan gaji. Organisasi tersebut merupakan ruang pengabdian bagi dunia pariwisata Jogjakarta. “PHRI ini kan nonprofit. Istilahnya ngibadah untuk pariwisata Jogja, khususnya hotel dan restoran,” katanya.
Ia tetap menjalani peran tersebut di tengah kesibukannya mengelola hotel dan membagi waktu dengan keluarga. Baginya, organisasi sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Ada satu pesan sang ayah yang masih ia pegang hingga kini. “Jangan malu bertanya,” lontarnya.
Baca Juga: Meski Viral, Bahan Mentah Kimpul di Pasar Tradisional di Bantul Tetap Tidak Ramai Pembeli
Deddy menerapkannya dalam dunia usaha maupun organisasi. Memiliki hotel yang tidak sebesar jaringan hotel lain, menurutnya, bukan alasan untuk berhenti belajar. Kini, setelah puluhan tahun berkecimpung di dunia perhotelan, Deddy masih melihat banyak tantangan di depan mata. Kondisi ekonomi, keamanan, hingga kebijakan efisiensi anggaran masih berpengaruh terhadap industri pariwisata.
Karena itu, semangat kebersamaan yang selama ini ia pegang belum ingin ditinggalkan. Menurutnya, pelaku usaha harus terus mencari cara agar tetap bertahan dan berkembang. “Kita kan harus memutar otak bagaimana teman-teman bisa eksis. Mau tidak mau itu yang harus kita programkan,” tandasnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita