JOGJA - Rumah Pocong Sumi di Kotagede, Banguntapan, menyimpan kisah mistis yang membuat rumah bergaya Belanda itu ditakuti sebagian masyarakat. Namun, stigma tersebut ingin diubah Sabar Riadi dengan berjualan Dawet Bayat di rumah yang juga disebut Omah Indhise tersebut.
Pria paro baya berusia 56 tahun itu mengatakan, sekitar 2018 terdapat salah satu stasiun televisi yang meliput rumah tersebut. Hal itu kemudian membawa dampak munculnya anggapan tempat itu angker. Oleh karena itu, dia ingin mengubah narasi tersebut dan menunjukkan rumah itu aman dengan cara berjualan di sekitarnya.
“Sekaligus membawa narasi, ini rumah sejarah dan budaya bukan hanya sekadar rumah mistis,” katanya saat ditemui di Rumah Pocong Sumi Kotagede di Gang Soka, Minggu (23/8/2026).
Baca Juga: 17 Ketua DPC Baru Dilantik, PAN Sleman Siap Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
Dia mencoba menetralisir stigma-stigma negatif tersebut. Sebab, sekitar 1970-an, Gang Soka ramai oleh warga yang berjualan. Beberapa pedagang menjual gudeg, rujak, tahu, jenang, dan berbagai makanan lainnya.
“Memang dulu banyak yang ke sini, karena banyak perajin juga, jadi banyak yang jualan,” tuturnya.
Namun, saat ini gang tersebut berubah sepi, terutama setelah muncul narasi-narasi mengenai Rumah Pocong Sumi. Sebagai pengelola desa wisata setempat, dia pun khawatir dengan kondisi tersebut. Maka dari itu, setelah pensiun sebagai pembela hak asasi wanita, dia memutuskan untuk menghidupkan kembali gang tersebut sekaligus menghilangkan stigma negatif yang berkembang.
Baca Juga: Obat Anti Depresi Kini Marak di Masyarakat DIY; Lolos Resep Dokter, Diperjualbelikan secara Ilegal
Dia masih ingat betul niat untuk mengubah stigma tersebut diawali Sabtu (11/7) lalu, saat hari pertama membuka usaha sebagai pedagang Dawet Bayat. Dia bahkan belajar jauh-jauh bersama temannya di Klaten karena Dawet Bayat berasal dari Klaten.
“Dua minggu pertama penjualan sangat ramai, kita baru buka sudah banyak yang beli, jadi agak riweh, dua jam sudah habis,” bebernya.
Sebab, banyak konten kreator yang meliputnya, sehingga usahanya banyak dikenal oleh orang-orang. Dia bahkan berpikir untuk menambah stok penjualan karena dagangannya begitu cepat habis. Namun, niat itu kembali diurungkan karena warga kelahiran Kotagede, Banguntapan, tersebut ingin mengamati pasar terlebih dahulu.
Baca Juga: Pemkot Jogja Mulai Bentuk Kantong Data UMKM, Sasar 18 Ribu Pelaku Usaha
“Satu hari ya 1,5 kilogram pati aren, pokoknya habis nggak habis kita pertanahankan di situ,” tegasnya.
Akhirnya, stigma mengenai rumah mistis itu pun perlahan mulai reda. Semakin banyak warga maupun wisatawan yang membeli dawetnya dan tidak merasa takut. Terdapat pula bunga bugenvil di rumah bernuansa Belanda itu sebagai ikon yang semakin menarik wisatawan untuk datang.
Pantauan Radar Jogja di lokasi sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 menunjukkan pembeli silih berganti mendatangi dagangan milik Sabar.
“Kami buka setiap hari kecuali di hari Jumat, dari jam 10 pagi sampai tiga sore,” katanya.
Baca Juga: Pelatih PSIM Jogja Van Gastel Masih Petakan Starting Eleven Timnya
Nama dawetnya dinamai Dawet Posmalang karena di sekitar lokasi terdapat pos jaga yang dulunya menjadi tempat warga berjualan. Maka dari itu, dia menamai dagangannya Dawet Posmalang.
Selain itu, dia memilih minuman tradisional karena sudah ada minuman modern di gang tersebut. Dia ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda.
“Saya ingin memgembalikan suasana di gang ini kembali menjadi pusat kuliner,” harapnya.
Sabar berharap dengan berjualan di gang tersebut, semakin banyak warga setempat yang terdorong untuk membuka usaha di sana setiap hari, dengan berbagai jenis kuliner makanan tradisional khas Kotagede. Sebab, jika semakin banyak kuliner yang berbeda-beda di Gang Soka, kawasan tersebut akan semakin menarik perhatian pembeli maupun wisatawan yang berkunjung.
“Kita manfaatkan dan memaksimalkan gang soka ini,” ajaknya. (cin)
Editor : Winda Atika Ira Puspita