Mengenal Lebih Dekat Suratini Yang Berhasil Kenalkan Umbi-umbian lewat Konten Uniknya

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:30 WIB
Suratini. Dokumentasi Pribadi
Suratini. Dokumentasi Pribadi

JOGJA  - Kimpul bagi Suratini bukan sekadar umbi yang tumbuh di tanah. Ada cerita masa kecil, tentang bertahan hidup ketika beras tak selalu mampu dibeli. Kini, perempuan 47 tahun yang berdomisili di Kapanewon Kasihan, itu justru membawa pangan yang saat ini tak banyak diketahui untuk dikenalkan ke generasi muda. 

Lewat konten memasak, Suratini mengolah kimpul dan berbagai umbi-umbian menjadi menu yang lebih akrab dengan lidah dan mata anak muda. Tidak ada resep baku. Tidak pula ada latar belakang pendidikan tata boga atau teknologi pangan. Semuanya berangkat dari pengalaman hidup.

“Dulu beras itu jarang bisa keluarga kami jangkau. Jadi makanan saya umbi-umbian,” ungkapnya Jumat (21/8/2026). 

Baca Juga: Belum Kantongi Izin, Pembangunan Tower Telekomunikasi di Kemadang Dihentikan

Kegelisahan itulah yang kemudian menemukan ruang di media sosial. Suratini mulai membuat konten pada Januari 2026. Kala itu, ia bahkan belum memiliki arah yang jelas. Akun tersebut merupakan akun media sosial pertamanya. Sebelum mulai aktif, ia meminta izin kepada suami dan anak.

"Saya berharap dari awal, semoga aktivitas membuat konten yang dicoba itu bisa memberi manfaat setahun ke depan," tuturnya. 

Awalnya, konten Suratini tidak langsung berbicara soal makanan. Ia mengunggah keseharian, termasuk keresahannya melihat kondisi pasar yang menurutnya semakin sepi.

“Penjual sama pembelinya itu banyakan penjual,” ujarnya.

Baca Juga: Yogyakarta Dibidik Jadi Pasar Strategis Wisata Kesehatan Malaysia, Ini Pertimbangannya!

Lalu, ia sempat mencoba membuat konten resep. Namun, lambat laun dia merasa lelah dan tidak nyaman. Suratini akhirnya kembali pada aktivitas yang memang dijalaninya setiap hari yakni memasak.

Makanan yang ia masak bukan sesuatu yang baru. Justru makanan itulah yang sudah dikenalnya sejak kecil. Suratini kemudian membagikan pengalaman memasak berbagai olahan makanan dengan bahan dasar kimpul melalui konten. 

"Ternyata, banyak orang yang penasaran. Apa itu kimpul? Bagaimana rasanya? Bisa diolah menjadi apa saja?," terangnya. 

Baca Juga: Diduga Henti Jantung, Seniman Ketoprak Meninggal Dunia saat Pentas di Panggung

Di antara berbagai umbi yang ia kenalkan, kimpul menjadi salah satu yang paling sering muncul. Alasannya sederhana. Kimpul relatif mudah ditemukan sepanjang tahun, harganya murah, masa panennya lebih cepat dibandingkan sejumlah umbi lain, serta bisa diolah menjadi berbagai macam makanan.

Sekitar tiga bulan setelah mulai rutin mengangkat tema umbi-umbian, perubahan terjadi pada akun Suratini. Pengikut yang sebelumnya banyak berasal dari kelompok usia sebaya, perlahan bergeser. 

“Follower jadi berbelok arah ke anak-anak muda, anak Gen Z,” katanya.

Dari nol pengikut, kini jumlah pengikutnya telah mencapai ratusan ribu. Popularitas itu datang tanpa pernah direncanakan. Suratini bahkan mengaku tidak menyangka kontennya bisa diterima seluas itu.

Baca Juga: Pemkot Jogja Siapkan Lahan SG Seluas 1.000 Meter Persegi untuk KKMP di Kelurahan Giwangan

Ia pun tidak merasa perlu membandingkan kimpul dengan nasi atau kentang. Baginya, kimpul ya kimpul. Memiliki rasa dan tekstur sendiri. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa bahan pangan tersebut bisa diolah dan dinikmati dengan berbagai cara.

Menurutnya, kimpul memiliki rasa cenderung tawar. Namun, justru karakter tersebut membuatnya mudah dipadukan dengan berbagai rasa. Prinsip itu pula yang membuat Suratini berani bereksperimen di dapur.

“Saya berharap ini pintu sedikit terbuka. Anak-anak mulai menoleh, ternyata ada sumber karbohidrat selain nasi,” katanya.

Baca Juga: DPRD DIY Soroti Akurasi Data Desil 9-10 soal Rencana Pembatasan Pembelian BBM Subsidi

Suratini ingin semakin banyak anak muda mengenal pangan lokal. Tidak harus langsung menggantikan nasi. Tidak pula harus berhenti mengonsumsi pangan impor. Menurutnya, pangan lokal cukup diberi ruang untuk bersanding dengan makanan modern. Ia membayangkan suatu saat pemilik restoran maupun hotel mulai menyelipkan olahan pangan lokal dalam menu mereka. 

"Tidak perlu banyak. Satu atau dua menu saja sudah menjadi langkah untuk mengenal umbi-umbian," tuturnya. 

Dengan begitu, umbi-umbian tidak hanya dikenal sebagai makanan masa lalu. Tetapi bisa memiliki tempat di meja makan generasi sekarang.

Baca Juga: Ada The Rain dan Jikustik, Suadesa Festival 2026 Meriahkan Tiyasan Sleman

Lebih jauh, ia berharap petani yang menanamnya juga mendapat manfaat. Tanaman yang sejak dahulu tumbuh di tanah sendiri itu bisa terus dibudidayakan dan menjadi sumber penghidupan.

Harapan tersebut juga ia tujukan kepada pemerintah. Suratini berharap ada penelitian, edukasi, maupun pendampingan kepada petani dan anak-anak muda agar pangan lokal bisa berkelanjutan.

“Saya mungkin hanya sedikit sebagai clue bahwa ini anak-anak muda mau diajak belajar,” ucapnya.

Viralnya konten-kontennya mengenai kimpul pun membuat kehidupannya berubah. Saat ini dia hampir setiap hari membuat konten yang dapat menyita waktunya. Bahkan usaha konveksi yang selama ini dikerjakan di rumah sempat terbengkalai.

Baca Juga: Sesuai Kalender Jawa, Hadeging ke-221 Kadipaten Pakualaman Digelar Dua Kali Tahun Ini: Ini Acaranya!

"Tawaran kerja sama juga berdatangan. Tapi, nggak semuanya saya diterima," katanya. 

Suratini masih ingin menjaga kontennya tetap organik. Pesan mengenai pangan lokal tidak ingin tenggelam di antara konten komersial. 

Setelah dikenal, ia berharap orang-orang  mulai mencari umbian-umbian untuk dikonsumsi. Setelah mencari, muncul ketertarikan. Lalu, makanan-makanan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan generasi sebelumnya itu kembali hadir di meja makan anak-anak muda.

"Tidak harus mengambil porsi besar, yang penting, tidak hilang," harapnya. (cin)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Kimpul Konten Unik umbi-umbian Mengenal