Mengenal Sunu Handoko, Dua Dekade Mengabdi, Menjaga Nyawa di Pesisir Selatan Gunungkidul

Dzika Fajar • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Koordinator SAR SRI Wilayah I Gunungkidul Sunu Handoko. (ISTIMEWA)
Koordinator SAR SRI Wilayah I Gunungkidul Sunu Handoko. (ISTIMEWA)

GUNUNGKIDUL - Suara takbir dari laut lepas menjadi salah satu kenangan yang tidak pernah dilupakan Sunu Handoko Bayu Sagara. Malam itu, ketika gelombang Pantai Parangtritis menjadi saksi pencarian lima orang yang dilaporkan hilang, ia mulai memahami bahwa dunia SAR bukan hanya soal tugas. Tetapi juga tentang tanggung jawab dan kemanusiaan.

Peristiwa itu terjadi pada 2010. Dari Pos SAR Linmas Wediombo, Handoko ikut memantau proses pencarian yang dilakukan anggota SAR Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah I Gunungkidul. Namun, komunikasi dengan tim di lapangan sempat terputus.

Situasi tersebut menjadi ujian tersendiri. Di tengah tekanan warga dan anggota yang menunggu kabar, Handoko harus memastikan proses pencarian tetap berjalan. Setelah dua hari pencarian, lima orang yang sebelumnya dinyatakan hilang akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat.

 Baca Juga: Rizky Alifian Ramadhan Diterima di UI, UGM dan Belasan PT Bergengsi Luar Negeri

Pengalaman itu menjadi salah satu perjalanan yang membekas baginya. Saat itu, Handoko belum membayangkan bahwa dunia SAR akan menjadi bagian besar dalam hidupnya selama dua dekade berikutnya.

Handoko bergabung dengan SAR pada 2006. Ketika pertama kali masuk, ia hanya menjadi anggota biasa tanpa bayangan untuk menduduki posisi kepemimpinan.

Namun, kemampuan mengoperasikan komputer yang dipelajarinya secara otodidak sejak SMP perlahan membuka jalan baru. Keahlian tersebut ia gunakan untuk membantu administrasi, penyusunan laporan, hingga pengelolaan aplikasi SAR yang saat itu belum banyak dikuasai anggota. Tepat pada 2008, Handoko dipercaya menjadi sekretaris. “Saya di-SK-kan menjadi sekretaris,” kenangnya.

Kepercayaan itu kemudian berlanjut. Pada 2012, Handoko ditunjuk sebagai wakil koordinator Satlinmas setelah pejabat sebelumnya meninggal dunia. Setahun berselang, posisi koordinator kosong setelah pejabat sebelumnya diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Handoko pun dipercaya memimpin SAR SRI Wilayah I Gunungkidul.

 Baca Juga: Perkuat Silaturahmi dan Beri Solusi Finansial, Gelar Hajatan FIFGROUP Cabang Sleman II

Sejak 2013 hingga sekarang, amanah tersebut masih dijalankannya.

Perjalanan panjang di dunia SAR tidak membuat Handoko berhenti mengembangkan diri. Di sela tugasnya, ia melanjutkan pendidikan hingga menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Gunungkidul dan meraih gelar SIP.

Dua puluh tahun berada di dunia pencarian dan penyelamatan, membuat Handoko memahami bahwa menjadi koordinator bukan sekadar memimpin anggota. Setiap keputusan yang diambil di lapangan berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.

Salah satu kondisi yang paling menyulitkan, menurutnya, adalah ketika sebuah kejadian tidak memiliki saksi. Tahun ini, ia menyebut ada dua kejadian dengan kondisi tersebut.

Tanpa adanya saksi, petugas harus membuka berbagai kemungkinan dalam proses pencarian. Area pencarian pun dapat meluas, baik di darat maupun laut.

“Itu menyulitkan kami, karena banyak kemungkinan sehingga kami lakukan pencarian di darat maupun di laut,” ujarnya.

 Baca Juga: Perkuat Silaturahmi dan Beri Solusi Finansial, Gelar Hajatan FIFGROUP Cabang Sleman II

Meski telah lama memimpin tim, Handoko tidak menganggap keberhasilannya bertahan selama ini sebagai hasil kemampuan pribadi. Ia justru menyebut kekuatan utama berada pada anggota yang selalu mendukung tugas SAR.

“Teman-teman anggota memiliki inisiatif dan dedikasi yang luar biasa, yang menjadikan saya dapat terus menjalani tugas sebagai koordinator,” katanya.

Menurutnya, semangat anggota untuk terus meningkatkan kemampuan menjadi modal penting dalam setiap operasi. Berbagai pelatihan dan sertifikasi penyelamatan maupun penyelaman selalu mendapat antusiasme dari anggota. “Bahkan keahlian beberapa dari mereka lebih dari yang saya miliki,” tuturnya.

Dua dekade mengabdi membuat SAR tidak lagi sekadar tempat bertugas bagi Handoko. Ia juga berupaya mengenalkan sisi lain dunia penyelamatan melalui media sosial.

Melalui akun @kabarsegoro, Handoko membagikan aktivitas SAR sekaligus memperkenalkan potensi kawasan pesisir Gunungkidul. Konten yang dibagikan tidak hanya mengenai operasi penyelamatan. Tetapi juga pariwisata, UMKM, hingga aktivitas para pemancing di wilayah kerjanya.

Bagi Handoko, media sosial menjadi cara untuk memberikan apresiasi kepada para anggota SAR yang bekerja di balik setiap operasi penyelamatan.

“Untuk mengapresiasi teman-teman SAR yang mempertaruhkan nyawa dan mempertaruhkan banyak hal,” katanya.

Kepeduliannya terhadap kawasan pesisir juga mendorong Handoko mengangkat potensi masyarakat sekitar. Salah satunya ikan panjo di kawasan Pantai Wediombo. (cr1/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
Sunu Handoko Bayu Sagara SAR Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah I Gunungkidul SAR penyelamatan pesisir selatan