BANTUL - Bagi mantan Kapolda DIY yang kini menjabat sebagai Asisten Logistik (Aslog) Kapolri, Suwondo Nainggolan, Nasirun bukan sekadar pelukis ternama. Melainkan sahabat diskusi sekaligus sosok bijaksana yang banyak memberi pandangan hidup.
Kedekatan Suwondo dengan Nasirun terjalin sejak dirinya menjabat Kapolda DIY. Berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan yang melibatkan Polda DIY bersama para budayawan menjadi awal persahabatan keduanya. "Dari situ hubungan kami terjalin dan terus berlanjut," katanya saat ditemui di rumah duka.
Namun, yang paling membekas bagi Suwondo bukan hanya peran Nasirun di dunia seni. Menurutnya, almarhum kerap berbagi pandangan mengenai kehidupan sosial masyarakat. Mulai dari persoalan kemiskinan, daerah yang mengalami kesulitan air, hingga potensi yang dimiliki setiap wilayah. "Dari situ kami mendapat pemahaman yang lebih utuh soal masyarakat sebelum mengambil langkah-langkah kepolisian," ungkapnya.
Di mata Suwondo, Nasirun juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan terbuka. Ia mengaku kerap datang ke rumah sang maestro tanpa membuat janji. Lalu menghabiskan waktu berbincang hingga larut malam. Percakapan mereka memang banyak membahas seni, tetapi tidak jarang berlanjut pada nilai-nilai kehidupan. "Beliau selalu memberi nasihat bagaimana menyikapi sesuatu dengan arif dan bijaksana," ujarnya.
Baca Juga: Maestro Seni Rupa Nasirun Berpulang, Sosoknya Tak Terganti, Karyanya Abadi
Salah satu petuah yang paling diingat Suwondo adalah filosofi Semar yang disampaikan Nasirun melalui sebuah lukisan pada 2024. Menurutnya, Nasirun memaknai Semar sebagai sosok yang menaungi seluruh lapisan masyarakat, termasuk aparat kepolisian.
Bagi Suwondo, pemikiran dan keteladanan itulah yang membuat Nasirun memiliki tempat istimewa di hati banyak orang. Di balik reputasinya, Nasirun yang meninggal di usia 60 tahun itu dikenang sebagai pribadi yang mampu menjembatani seni, budaya, dan kehidupan sosial dengan kebijaksanaan yang sederhana, tetapi penuh makna.
Sementara bagi Ketua Lakpesdam NU DIY Hairus Salim, Nasirun selalu membuka ruang bagi siapa pun. Menurut Hairus, keramahan itu membuat rumah Nasirun nyaris tak pernah sepi. Seniman, budayawan, akademisi, tokoh agama, hingga masyarakat umum diterima dengan hangat.
"Beliau tidak pernah menutup diri kepada siapa pun. Rumahnya menjadi tempat bertemu, berdialog, dan berbagi," ujarnya.
Bagi Hairus, kecintaan Nasirun terhadap seni juga tercermin dalam kesehariannya. Saat mendampinginya ke Belanda untuk agenda kebudayaan, Nasirun lebih memilih membawa buku gambar daripada telepon genggam. Di sela perjalanan, ia membuat sketsa berbagai suasana yang ditemuinya.
"Saat orang lain memotret, Mas Nasirun justru menggambar. Dari ruang tunggu bandara sampai suasana perjalanan, semuanya direkam lewat sketsa," kenangnya.
Tak hanya berkarya, Nasirun juga dikenal gemar berbagi. Ketika Hairus bersama kolega merintis Pesantren Bumi Cendekia di Sleman, Nasirun menyumbangkan sebuah lukisan yang kemudian dilelang untuk membantu operasional awal pesantren.
Selain itu, rumah dan museum pribadinya beberapa kali dibuka sebagai ruang belajar bagi para santri. Menurut Hairus, Nasirun selalu memilih membantu melalui kemampuan yang dimilikinya sebagai seniman. "Beliau selalu bilang, kalau bisa membantu sesuai kapasitasnya sebagai seniman, pasti akan membantu. Itulah yang membuat beliau begitu istimewa di mata banyak orang," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita