Dr. John Cook Bennett dan Sejarah Tomat: Dari Buah yang Dianggap Beracun hingga Dipercaya sebagai Obat Ajaib

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 11:23 WIB
Dr. John Cook Bennett
Dr. John Cook Bennett

 

Tomat (Solanum lycopersicum) kini menjadi salah satu bahan pangan paling populer di dunia. Meski identik sebagai pelengkap berbagai hidangan, tomat ternyata menyimpan sejarah panjang yang penuh kontroversi, mulai dari pernah dianggap beracun hingga dipercaya sebagai obat mujarab pada abad ke-19.

Secara ilmiah, tomat sebenarnya termasuk buah karena berkembang dari bunga dan mengandung biji. Namun, dalam dunia kuliner, tomat lebih sering digunakan sebagai sayuran. Perbedaan pandangan ini bahkan pernah menjadi sengketa hukum di Amerika Serikat.

Pada 1893, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa tomat dikategorikan sebagai sayuran untuk kepentingan tarif impor. Keputusan tersebut bukan didasarkan pada ilmu botani, melainkan karena tomat lebih umum disajikan dalam hidangan utama dibandingkan sebagai makanan penutup.

Pernah Dijuluki "Apel Beracun"

Jauh sebelum menjadi makanan favorit, tomat sempat memiliki reputasi buruk di Eropa pada abad ke-18. Kala itu, buah ini dijuluki "The Poison Apple" atau apel beracun karena dianggap menyebabkan kematian.

Baca Juga: Dr. John Cook Bennett dan Sejarah Tomat: Dari Buah yang Dianggap Beracun hingga Dipercaya sebagai Obat Ajaib

Belakangan diketahui bahwa anggapan tersebut keliru. Keracunan yang dialami kalangan bangsawan sebenarnya disebabkan oleh piring berbahan pewter yang mengandung timbal. Kandungan asam pada tomat melarutkan timbal dari piring tersebut, sehingga memicu keracunan, bukan karena buah tomat itu sendiri.

Dr. John Cook Bennett Ubah Citra Tomat

Perubahan besar terhadap citra tomat terjadi pada tahun 1834 berkat seorang dokter sekaligus botanis amatir asal Ohio, Dr. John Cook Bennett.

Melalui berbagai publikasi dan ceramah, Bennett mengklaim bahwa tomat memiliki khasiat luar biasa untuk mengatasi berbagai penyakit. Ia bahkan mendorong masyarakat mengonsumsi ekstrak tomat yang diolah menjadi saus kental—cikal bakal saus tomat modern—serta pil berbahan dasar tomat.

Promosi tersebut memicu fenomena nasional yang dikenal sebagai Tomato Pill Craze pada dekade 1830-an. Saat itu, pil tomat dijual di berbagai apotek sebagai obat alami yang dipercaya mampu mengatasi beragam gangguan kesehatan.

Namun, popularitas tersebut juga dimanfaatkan oleh oknum yang memproduksi pil palsu tanpa kandungan tomat. Banyak produk hanya berisi bahan pencahar biasa tetapi dipasarkan sebagai pil tomat. Seiring berkembangnya ilmu kedokteran dan minimnya bukti ilmiah atas klaim Bennett, tren tersebut akhirnya meredup pada dekade 1850-an.

Warisan Besar bagi Dunia Kuliner

Meski klaim medis Dr. Bennett tidak terbukti secara ilmiah, kontribusinya tetap dianggap penting dalam sejarah pangan.

Kampanye yang ia lakukan berhasil menghapus ketakutan masyarakat terhadap tomat. Perlahan, tomat diterima sebagai bahan makanan sehari-hari, sementara saus tomat bertransformasi dari produk herbal di apotek menjadi salah satu kondimen paling populer di dunia.

Bahkan Pernah Dibawa ke Luar Angkasa

Keunikan tomat tidak berhenti di situ. Pada 1984, NASA membawa benih tomat dalam sebuah misi luar angkasa untuk meneliti pengaruh radiasi kosmik terhadap daya tumbuh tanaman.

Setelah kembali ke Bumi, benih tersebut berhasil ditanam kembali sebagai bagian dari penelitian mengenai ketahanan tanaman di lingkungan ekstrem.

Kaya Nutrisi dan Senyawa Bioaktif

Selain memiliki sejarah yang menarik, tomat juga dikenal sebagai salah satu sumber nutrisi penting bagi tubuh.

Baca Juga: Iran Ancam Tak Ada Negara yang Bisa Jual Minyak Jika Penjualannya Dihalang-halangi AS

Terdapat lebih dari 10.000 varietas tomat di dunia dengan beragam warna, mulai dari merah, kuning, hijau hingga ungu kehitaman. Tomat mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti likopen, asam klorogenat, naringenin, dan tomatidine, yang telah banyak diteliti manfaatnya bagi kesehatan.

Likopen berperan sebagai antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh dari paparan radikal bebas, sementara tomatidine diketahui berpotensi membantu mengurangi penyusutan massa otot akibat proses penuaan. Di sisi lain, serat serta polifenol yang terdapat pada kulit dan biji tomat berfungsi sebagai prebiotik untuk menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa senyawa fitokimia di sekitar biji tomat memiliki efek yang menyerupai aspirin dosis ringan dalam membantu menjaga kelancaran aliran darah. Namun, manfaat tersebut masih terus diteliti dan tidak dapat menggantikan terapi medis yang diresepkan oleh tenaga kesehatan.

Kini, tomat bukan hanya menjadi bahan utama berbagai hidangan di seluruh dunia, tetapi juga menjadi contoh bagaimana persepsi masyarakat terhadap suatu makanan dapat berubah drastis seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan penelitian.

Editor : Bahana.
Dr John Cook Bennett Sejarah Tomat Tomato Pill Craze tomat manfaat tomat