JOGJA - Lulus sebagai insinyur pertanian, Surya Ananta justru menghabiskan lebih dari dua dekade terakhir mengelola pusat perbelanjaan. Perjalanan kariernya bahkan diawali sebagai banker selama 11 tahun sebelum akhirnya berlabuh di Ambarrukmo Plaza. Bagi Surya, jalan hidup tak pernah ditentukan oleh selembar ijazah. Melainkan oleh kemauan untuk terus belajar.
"Orang jangan statis. Jangan merasa nasib saya hanya seperti ini. Background saya bertolak belakang, tetapi ternyata semuanya bisa dipelajari kalau memang mau belajar," kata lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) ini Jumat (17/7).
Prinsip tersebut terus ia pegang hingga kini saat menjabat sebagai Mall Cluster General Manager yang menaungi Ambarrukmo Plaza (Amplaz) dan Plaza Malioboro (Plazmal). Tak hanya itu, dia juga menahkodai Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DIY.
Saat pertama kali bergabung di Amplaz pada 2005, laki-laki yang kini berusia 56 tahun ini awalnya menangani divisi accounting and finance. Tugasnya mengelola arus kas pembangunan mal yang saat itu belum resmi beroperasi. Namun setelah grand opening pada 5 Maret 2006, manajemen justru memintanya berpindah ke divisi operasional. Bidang yang sama sekali belum pernah ia tekuni.
Baca Juga: Pemkot Jogja Bergantung Kesiapan Sirip-Sirip, Kejar Target Malioboro Full Pedestrian di November
Alih-alih menolak, Surya memilih mempelajarinya dari nol. Dalam empat tahun berikutnya, ia berpindah-pindah menangani hampir seluruh divisi. Mulai dari operasional, engineering, human resources, leasing, legal, hingga general affair. Seluruh proses tersebut dijalaninya melalui learning by doing.
"Kalau industri hotel ada sekolahnya, industri penerbangan juga ada. Tapi pengelolaan mal tidak ada sekolahnya. Jadi semua ilmunya otodidak," katanya.
Menurut Surya, kemampuan teknis sebenarnya relatif mudah dipelajari. Yang jauh lebih sulit justru kemampuan untuk memimpin manusia.
Karena itu, dia selalu menekankan kepada seluruh kepala divisi bahwa tugas seorang pemimpin bukan sekadar memastikan pekerjaan selesai. Tetapi juga membangun orang-orang yang bekerja bersamanya.
Baca Juga: 7 Hal Penting Sebelum Membeli Samsung A17 5G di Promo Salebration Blibli
"Kalau anak buah bermasalah jangan langsung dikirim ke HRD. Itu anakmu, kamu yang harus membimbing dan membangun mereka," pesannya.
Bagi Surya, seorang pemimpin harus hadir sebagai leader. Bukan sekadar boss. Secara pribadi, ia tidak sepakat dengan anggapan bahwa pemimpin yang baik harus ditakuti bawahannya. "Lakukanlah tegas, lakukanlah fair, dan tetap disukai. Kalau akhirnya ada yang tidak suka, itu dampak dari keputusan, bukan tujuan kita memimpin," ujarnya.
Filosofi lain yang terus ia pegang adalah selalu memasang standar pencapaian setinggi mungkin. Ia mengaku tidak pernah memaknai kegagalan sebagai sesuatu yang benar-benar jatuh. Melainkan ketika hasil yang diraih masih berada di bawah target yang sudah ditetapkan. "Kalau pencapaiannya baru 60 persen, menurut saya itu sudah gagal," lontarnya.
Diakuinya, cara berpikir tersebut turut mendorong dirinya untuk terus belajar, berdiskusi, dan melakukan evaluasi sebelum mengambil keputusan.
Setelah hampir dua dekade berkecimpung di industri pusat perbelanjaan, Surya mengaku ukuran keberhasilan yang paling membahagiakan bukanlah angka penjualan semata. Namun saat pengunjung atau customer merasa aman, nyaman, dan ingin kembali datang ke mal. "Itu artinya apa yang kami kerjakan berhasil," ujarnya.
Sebab menurutnya, dua mal yang dikelolanya memiliki karakter yang berbeda. Amplaz yang secara karekteristik berfokus pada pelanggan lokal yang datang berulang kali. Sementara Plazmal lebih banyak melayani wisatawan. Menurut Surya, perbedaan karakter itu menuntut strategi pelayanan, komposisi tenant, hingga pengalaman pengunjung yang berbeda pula. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita