BANTUL - Darah seniman Subandi Giyanto mengalir dari orangtuanya yang juga menjadi seniman perajin wayang. Namun dia ingin karyanya berbeda dari yang lain. Ide membuat wayang di atas kaca pun muncul.
Bagi Subandi, wayang bukan sekadar karya seni, tetapi sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak masih anak-anak. Ia mengaku mulai menatah wayang saat berusia tujuh tahun.
"Pekerjaan seni saya sampai sekarang sudah 61 tahun," ujarnya saat ditemui di rumah produksinya, Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan, Selasa (14/7).
Keputusannya menggunakan kaca sebagai media berkarya lahir dari keinginan untuk bereksplorasi. Baginya, kaca hanyalah medium untuk mengungkapkan gagasan melalui motif-motif wayang.
Baca Juga: Angkat Kisah Kelinci Bijak, Wayang Relief Borobudur Sarat Nilai Moral dan Spiritual
Dia mengaku, karyanya lebih banyak dikenal saat mengadakan pameran tunggal dan memamerkan lukisan kacanya. Hampir seluruh karakter wayang menjadi favoritnya. Namun tokoh Hanoman menjadi karakter yang paling disukainya.
"Tetapi untuk lukisan kaca saya cenderung menggunakan Punakawan sebagai perwujudan karya-karya saya," ungkapnya.
Menurutnya, tokoh Punakawan memberikan ruang yang luas untuk menyampaikan pitutur atau pesan-pesan kehidupan. Selain itu, karya-karyanya juga kerap memuat kritik sosial maupun politik.
"Ada juga (karya saya, Red) tentang pemilu dan macam-macam lagi yang kaitannya dengan ketimpangan di dalam kehidupan bernegara," katanya.
Karya-karya Subandi telah tersebar hingga ke berbagai negara. Meski demikian, ia enggan menyebutkan harga karya-karyanya.
Kolektornya berasal dari berbagai negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, Jerman, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Di Amerika Serikat, karya-karyanya juga berada di California, San Francisco, dan New York.
Tak hanya dimiliki kolektor pribadi, karya Subandi juga menjadi koleksi sejumlah museum di luar negeri seperti Prancis. Di Indonesia, karya-karyanya menjadi koleksi Galeri Nasional dan Kementerian Pendidikan yang kini dialihkan ke Kementerian Kebudayaan.
"Kalau datang ke Kementerian Kebudayaan, di ruang wakil menteri itu ada lukisan saya di situ," katanya.
Perjalanan seninya dimulai sejak tahun 1965 saat masih duduk di kelas 1 sekolah dasar. Saat kelas 4 SD, ia mulai dipercaya mewakili Kabupaten Bantul dalam berbagai lomba seni.
Tahun 1969 seniman yang kini berusia 69 tahun itu mengikuti lomba di Bantul, kemudian tahun 1970 di Kulon Progo, dan tahun 1971 di Kota Jogja dalam ajang tingkat provinsi. Selain aktif mengikuti lomba, sejak kecil Subandi juga telah membantu ayahnya yang merupakan perajin wayang.
Baca Juga: Polemik Artjog 2026, Begini Peran Didit Putra Presiden Prabowo di Balik Dukungan Sponsor
Dari sanalah ia mulai belajar menjual hasil karya. "Saya kan bantu bapak saya, tukang wayang juga. Jadi saya selalu diajak bapak saya untuk jual wayang," ujarnya.
Karya pertamanya yang dibeli kolektor luar negeri terjadi saat ia masih duduk di kelas 2 SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Jogja. Pembelinya Woody Van Amen dari Belanda, seorang tokoh pelukis neoromantisme. "Itu kali pertama karya saya dibeli oleh orang luar negeri," katanya.
Dalam proses pembuatan lukisan kaca, waktu pengerjaan bergantung pada ukuran dan tingkat kesulitan. Paling cepat dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu, sedangkan yang paling lama mencapai dua bulan. Ukuran terkecil yang pernah dibuatnya adalah A5, sementara yang terbesar mencapai 240 sentimeter.
Subandi juga membuka kesempatan bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin belajar membuat wayang di rumah produksinya. Ia tidak memungut biaya bagi siapa pun yang ingin belajar. "Selain kaca, saya juga melukis di atas kanvas," katanya.
Sementara itu, Lurah Bangunjiwo Parja mengatakan, dengan adanya kerajinan ini diharapkan dapat membuka peluang generasi penerus agar bisa melanjutkan kerajinan yang ditekuni oleh Subandi. "Tidak hanya dari anak-anak Bangunjiwo yang bisa belajar di sini, tapi dari luar juga bisa," katanya.
Dia ingin semakin banyak generasi muda yang menekuni kerajinan wayang. Karena di daerahnya yang dulu hampir seluruhnya menjadi seniman wayang, saat ini hanya kurang dari 10 orang tersisa. (laz)
Editor : Herpri Kartun