SLEMAN - Setelah bertahun-tahun mengabdi di berbagai daerah di Indonesia timur, Tutut Heri Wibowo akhirnya kembali ke tanah kelahirannya. Sejak dipercaya memimpin Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) pada Januari 2026, putra asli Sleman itu tak hanya ingin menjaga kelestarian Merapi. Tetapi juga mengembangkan potensi hayatinya agar memberi manfaat bagi masyarakat.
Alumni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini ingin mengoptimalkan potensi wilayah seluas 6.607,52 hektare. Salah satunya pemanfaatannya adalah dengan bioprospeksi. Kegiatan eksplorasi, ekstraksi, dan penapisan sumber daya alam di TNGM, disebutnya sudah sangat maju.
Baca Juga: Optimalisasi TPST Modalan Masuk Tahap Lelang, Kapasitas Pengolahan Sampah Ditarget Naik Jadi 60 Ton
Prosesnya dimulai sejak 2018 lewat eksplorasi tumbuhan bawah di ekosistem vulkanik aktif yang kaya akan senyawa unik dan bisa menghasilkan produk bernilai tambah. Dari hasil riset tersebut sudah tercatat ada 160 jenis tumbuhan bawah yang dikoleksi.
"Bioprospeksi di kami sudah beberapa tingkat lebih maju karena biasanya hanya sampai identifikasi dan menginformasikan fungsinya," katanya saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (10/7).
Heri menyebut, TNGM sudah sampai pada proses pembuatan produk bioprospeksi. Ada 27 produk yang dihasilkan dengan pemanfaatan delapan jenis tumbuhan dan satu mineral. Pemanfaatan bahan seperti Clidemia hirta, Acacia decurrens, hingga Laccifer lacca menghasilkan produk hayati Gunung Merapi.
Produknya mencakup bahan pangan, kesehatan, dan perawatan kulit. Sebut saja gel rambut, merapi body wash, tetes telinga, sampo alami, hingga skincare acne series Merapi.
Tantangannya saat ini adalah agar bisa mengomersialisasikan produk-produk tersebut untuk bisa dijual pada masyarakat. Sayangnya, ada peraturan birokrasi ketat yang membatasi institusi negara untuk berdagang.
Di sisi lain, memastikan proses produksi agar sumber daya alam yang ada tetap tersedia seimbang dengan pemanfaatannya juga jadi tantangan tersendiri. Pengembangannya juga perlu keahlian sumber daya manusia yang menguasai iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan dukungan anggaran yang tak sedikit.
"Harapannya ada dorongan payung hukum dan bisa difasilitasi oleh pemerintah juga," katanya.
Apabila nantinya proses hilirisasi keanekaragaman TNGM bisa terealisasi, akan memberikan harapan baru sebagai sumber ekonomi masyarakat sekitar. Termasuk memberi royalti bagi para peneliti yang telah mengembangkan produk ini.
Inovasi produk ini sendiri sudah mengantongi lima sertifikat hak paten dari Kemenhumham RI khususnya untuk bahan Clidemia hirta pada produk kosmetik antijerawat, sabun cuci muka, ekstrak antioksidan, serum antijerawat, dan boba jelly antioksidan. "Kalau ada hak paten ada royalti. Itu masuk ketika nanti sudah melalui tahap komersialisasi," ujar lulusan SMA Negeri 8 Jogja.
Baca Juga: Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Longgar, Reklame Rokok Tak Berizin Bermunculan di Kulon Progo
Proses untuk bisa mencapai tujuan itu jelas butuh waktu panjang dan tak mudah. Namun dia berharap, hasil dari perantauannya di Jayapura, Sorong, hingga Maluku Utara bisa memberikan pelayanan terbaik di daerah asalnya. "Kami diamanahi mengelola kawasan itu sebenarnya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kami pilah-pilah mana yang krusial dan harus segera dituntaskan," ujarnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita