SLEMAN - Jauh sebelum publik sepak bola tanah air takjub oleh lemparan ke dalam maut milik Pratama Arhan, Bumi Mataram sudah memiliki sang pelopor.
Pemain tersebut adalah Fajar Listyantoro, pemain berusia 45 tahun ini memang terkenal dan sudah lebih dulu memiliki lemparan ke dalam yang jauh dan identik pada masanya.
Ya, Fajar Listiyantoro, legenda PSS Sleman dan PSIM Jogja ini memang terkenal dalam meneror lini pertahanan lawan lewat spesialisasi lemparan jauhnya pada masa masa keemasannya.
Berbicara soal kemampuannya melakukan lemparan ke dalam yang melesat jauh ke kotak penalti, Fajar menyebutnya sebagai perpaduan bakat alam dan teknik yang matang.
Kemampuan ini ternyata mengalir dalam darah keluarganya.
Fajar lahir dari keluarga besar 11 bersaudara.
Menariknya, hampir seluruh saudara laki-lakinya adalah pesepak bola yang mengawali karier dari klub lokal legendaris, PS Kalasan.
"Kakak saya yang namanya Mas Aris itu dulu juga PSS, dia juga punya lemparan jauh. Jadi cara melempar itu sebenarnya ada tekniknya. Sebelum ada Arhan, ya mungkin waktu itu saya sama Mahyadi Panggabean," kenang Fajar saat ditemui di kediamannya yang terletak di Barat Pasar Kalasan, Sleman, Selasa (7/7/2026) sore.
Karier Fajar Listiyantoro di kancah sepak bola DIY sendiri terbilang panjang dan berpindah antar-klub rival, mulai dari PSS Sleman hingga PSIM Jogja.
Masa keemasannya terbentang di usia 23 hingga 28 tahun (sekitar tahun 2000 hingga 2008), di mana ia juga sempat mencicipi seragam Timnas U-23.
Salah satu momen yang paling ia kenang adalah saat membawa PSS Sleman menjuarai kompetisi Divisi Utama LPIS pada tahun 2013 silam, serta gol tendangan voli spektakuler dari tengah lapangan yang pernah dicetaknya.
Setelah gantung sepatu dari kancah nasional pada 2015 silam, Fajar sendiri mengaku sempat beralih ke bisnis rental mobil wisata.
Namun, kecintaannya pada si kulit bundar ternyata tak pernah padam.
Ia mengambil lisensi kepelatihan dan menukangi tim SSB Potorono U-15.
Baca Juga: Lima Tahap Pembangunan Rampung, Gedung Baru SMPN 1 Wates Siap Ditempati Tahun Ajaran 2026/2027
Namun, roda nasib kini telah berputar.
Sosok yang identik dengan nomor punggung 27 itu kini harus menepi dan berjuang di lapangan yang berbeda.
Fajar tengah berjuang melawan penyakit ginjal yang mengharuskannya menjalani ritual cuci darah (hemodialisis) secara rutin.
Sudah lima bulan Fajar harus keluar masuk rumah sakit untuk berobat dan cuci darah demi melawan penyakit yang dideritanya.
Akibat kondisi kesehatannya yang drop, aktivitas melatih tersebut kini terpaksa diserahkan sementara kepada asistennya.
"Kangen sekali. Kadang saya lihat foto-foto dulu, terus mikir kapan ya saya bisa merumput lagi. Intinya sembuh dulu, ke lapangan dulu. Karena sepak bola itu sudah jadi passion saya sejak kecil," cetusnya.
Fajar menceritakan, awal mula kepayahan fisik yang dirasakannya itu bermula saat ia hendak menyalurkan kerinduannya pada sepak bola.
Berniat menonton langsung laga PSS Sleman atau PSIM Jogja ia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
Baca Juga: Big Bike New Rebel 1100, Simbol Kebebasan Ekspresi Generasi Modern
"Awalnya saya merasa sudah kayak gampang capek. Misalnya pas Sleman main saya lihat, atau PSIM main, kan naik tangga itu. Nah, itu sampai atas terus menggos-menggos (terengah-engah). Saya merasa emang ada yang gak beres," katanya.
Kecurigaan itu membawanya ke fasilitas kesehatan.
Tepat pada 14 Maret lalu, hasil cek laboratorium menunjukkan angka volume kreatinin dan uriumnya melonjak drastis.
Tak hanya itu, tekanan darah Fajar Listiyantoro pun juga meninggi, padahal biasanya selalu stabil di bawah angka 130.
Lalu saat itu juga dokter langsung menganjurkannya untuk menjalani tindakan cuci darah.
Fajar menduga kondisi yang menyebabkan ia harus keluar masuk rumah sakit itu merupakan akumulasi dari riwayat penyakit asam urat yang dideritanya sejak sebelum pandemi Covid-19 silam.
Konsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang dan terkadang luput dari kontrol rutin bulanan disinyalir menjadi pemicunya.
Baca Juga: Dinilai Lamban, Progres Pembebasan Lahan Tol Jogja-Bawen di Magelang Disorot DPRD Kabupaten Magelang
"Sekarang seminggu harus dua kali cuci darah," lontarnya.
Oleh karena itu, meski tengah rutin menjalani perawatan medis.
Tapi Fajar yang masih memiliki keinginan untuk membina anak-anak muda di lapangan hijau tetap memiliki semangat untuk bisa cepat sembuh.
"Harapannya (frekuensi) cuci darahnya bisa berkurang seminggu sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali, sampai nanti bisa lepas. Itu doa saya," ujarnya.
Meski begitu Fajar sendiri tidak mau menyerah.
Ia mengungkapkan jika saat ini kondisi fisiknya perlahan mulai membaik dan nafsu makannya juga kembali normal.
Baca Juga: Dinilai Lamban, Progres Pembebasan Lahan Tol Jogja-Bawen di Magelang Disorot DPRD Kabupaten Magelang
Tak lupa walaupun kini sedang berjuang melawan penyakit yang dideritanya, sebagai mantan legenda sepak bola DIY, Fajar tetap berpesan untuk sepak bola Bumi Mataram.
Melihat PSS Sleman dan PSIM Jogja yang kini berada di kasta kompetisi yang sama, ia berharap kedewasaan datang dari tribun penonton.
"Saya sih berharap suporter bisa dewasa. Di dalam lapangan kami memang lawan, tapi di luar kami semua teman. Apalagi kami satu DIY. Harus saling menghargai dan saling support demi membawa nama baik daerah," tandasnya. (ayu).
Editor : Iwa Ikhwanudin