Nama Prof. Dr. dr. Julie Sulianti Saroso, MPH mungkin paling dikenal masyarakat modern sebagai nama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) di Jakarta yang menjadi benteng utama penanganan Covid-19.
Namun, jauh sebelum namanya abadi di dinding rumah saki, perempuan kelahiran Karangasem, Bali pada 1917 ini adalah seorang pejuang tangguh, pemikir visioner, dan sosok di balik lahirnya sistem Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di seluruh pelosok Indonesia.
Perjalanan hidupnya dipenuhi intrik sejarah yang luar biasa: mulai dari menjadi tawanan perang tentara Belanda, hingga keberaniannya menyuarakan isu kesehatan reproduksi yang membuatnya sempat mendapatkan teguran keras dari Presiden Soekarno.
Menjadi Dokter Pejuang dan Tawanan Perang Belanda
Lulus dari sekolah kedokteran Geneeskundige Hoogeschool (GHS) Batavia pada tahun 1942, Sulianti langsung terjun ke masa-masa pergolakan kemerdekaan. Ia bukan sekadar dokter yang duduk manis di dalam klinik, melainkan seorang pejuang lapangan yang aktif mengirimkan obat-obatan dan makanan ke kantung-kantung gerilyawan republik di Yogyakarta.
Baca Juga: SPMB SMPN di Kulon Progo Kekurangan Murid, Disdikpora Kulon Progo Jelaskan Penyebabnya!
Ketika Agresi Militer Belanda II meletus pada Desember 1948, Sulianti ditangkap oleh tentara NICA Belanda karena aktivitas pemberontakannya. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan menjadi tawanan perang di Yogyakarta selama beberapa bulan.
Pengalaman menjadi tawanan perang dan melihat langsung bagaimana rakyat jelata serta para pejuang menderita akibat sanitasi buruk dan penyakit infeksi tanpa adanya akses medis primer, justru menempa pemikiran besarnya.
Di dalam benak Sulianti, sebuah negara merdeka harus memiliki sistem pencegahan penyakit yang menyentuh rakyat paling bawah, bukan sekadar mengobati orang sakit di perkotaan.
Sukses Menciptakan Konsep Puskesmas (Cikal Bakal Proyek Bekasi)
Setelah bebas dan kedaulatan Indonesia diakui, Sulianti Saroso menyadari bahwa model kedokteran warisan Belanda terlalu berfokus pada penyembuhan kuratif (mengobati yang sudah sakit) di rumah sakit besar. Sulianti menawarkan ide radikal pada masanya: Kesehatan masyarakat harus dimulai dari pencegahan (preventif) dan promosi hidup sehat di tingkat desa.
Gebrakan besarnya terwujud ketika ia menginisiasi "Proyek Bekasi" pada tahun 1956 bersama institusi kesehatan internasional. Di Bekasi, Sulianti mendirikan Laboratorium Kesehatan Masyarakat yang menjadi cikal bakal Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) pertama di Indonesia.
Melalui model ini, ia mengintegrasikan layanan pengobatan publik dengan pendidikan kesehatan, pelayanan ibu dan anak, pencegahan penyakit menular, serta keluarga berencana. Konsep jenius dari mantan tawanan Belanda inilah yang diadopsi secara nasional oleh pemerintah Indonesia hingga hari ini sebagai jaringan Puskesmas di setiap kecamatan.
Keberanian Isu KB dan Teguran dari Presiden Soekarno
Sebagai pakar kesehatan masyarakat, Sulianti Saroso sangat menaruh perhatian pada tingginya angka kematian ibu dan bayi akibat kehamilan yang tidak direncanakan serta jarak kelahiran yang terlalu rapat. Ia menjadi salah satu dokter pertama yang gencar mengampanyekan pentingnya Keluarga Berencana (KB) dan penggunaan kontrasepsi di awal tahun 1950-an.
Baca Juga: Prediksi Dukun Ghana Terbukti Benar saat Portugal Kalahkan Kroasia, Kebetulan?
Namun, keberaniannya ini sempat membentur tembok politik. Pada masa itu, Presiden Soekarno menganut paham bahwa Indonesia adalah negara yang luas dan membutuhkan populasi penduduk yang besar untuk menjadi bangsa yang kuat. Akibatnya, gagasan Sulianti tentang pembatasan kelahiran dan edukasi seks dianggap tabu dan bertentangan dengan visi negara.
Sulianti Saroso bahkan sempat mendapatkan teguran keras secara langsung dari Presiden Soekarno. Sulianti pun sempat dilarang membicarakan masalah kontrasepsi secara terbuka di ruang publik.
Kendati ditegur presiden, Sulianti tidak patah arang. Ia bergerilya melalui jalur organisasi kemasyarakatan wanita dan swasta hingga akhirnya mendirikan Yayasan Kesejahteraan Keluarga (cikal bakal PKBI) demi tetap menyalurkan edukasi kesehatan reproduksi secara senyap.
Warisan Emas untuk Dunia
Keteguhan sikap dan kecerdasannya membuat Sulianti Saroso dihormati di panggung dunia. Ia berhasil meraih gelar Master of Public Health dan Doktor dari Universitas Minnesota, Amerika Serikat. Kariernya terus melejit hingga dipercaya menjadi Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan, dan Pembasmian Penyakit Menular (P3M) Kementerian Kesehatan, bahkan menjadi perempuan kedua dalam sejarah yang menjabat sebagai Ketua Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) di WHO.
Dari seorang tawanan perang yang dikurung Belanda, Sulianti Saroso berhasil membuktikan bahwa kebebasan berpikir dan pengabdian tulus mampu melahirkan sistem kesehatan yang menyelamatkan jutaan nyawa rakyat Indonesia hingga lintas generasi. (Tita Aurelia Pitaloka)
Editor : Bahana.