Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Anggota DPRD DIY Lilik Syaiful Ahmad, Berangkat dari Bisnis ke Meja Legislator tanpa Modal Bitingan

Anom Bagaskoro • Minggu, 28 Juni 2026 | 09:26 WIB
Headshot Lilik Syaiful Ahmad. Dokumentasi Pribadi


 
Headshot Lilik Syaiful Ahmad. Dokumentasi Pribadi  

KULON PROGO - Kesuksesan bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan yang harus memberi manfaat seluas-luasnya. Prinsip inilah yang mencerminkan sosok Anggota DPRD DIY Lilik Syaiful Ahmad.

Berawal dari pengusaha muda di bisnis perdagangan, ia kini dikenal sebagai politikus yang mampu meraih kepercayaan dan simpati masyarakat.

Lilik menceritakan, fondasi hidupnya berawal dari keluarga. Figur yang mendampinginya ialah ayahnya Ahmad Subangi, sosok guru yang pernah mencicipi dunia politik. Lilik kecil hidup dalam keluarga yang berorientasi dengan pemikiran kritis.

"Dulu kalau nonton TV, selalu ditanya oleh bapak apa maksud dari tayangan yang dilihat tadi," ucap Lilik, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: Zuly Qodir Nilai Demonstrasi Bentuk Kesadaran Mahasiswa Menyampaikan Hak Konstitusional

Masa kecilnya sama seperti anak-anak lainnya. Namun perbedaannya terletak pada pola pemikiran. Keluarganya secara tidak langsung menanamkan pola pikir kritis dan solutif.

Contohnya saat melihat berita di televisi, Lilik selalu ditanya tanggapan atas isi berita. Seringkali, Lilik diajak berargumen dengan ayahnya. Hal itu, ia anggap sebagai cara mendidik anak untuk berfikir kritis.

Pria kelahiran 22 Februari 1977 itu, menghabiskan masa mudanya di Pondok Pesantren Nurul Ummah di Kota Gede, sekaligus tetap mendapat pendidikan formal dari SD hingga SMA.

Selama di pondok pesantren itulah, sosok Lilik muda mulai ditempa. Lantaran, pondok pesantren mengutamakan kemandirian pribadi serta mengajak penghuninya untuk bertahan dengan segala kondisi.

"Selama di pondok banyak ilmu yang didapat, ilmu agama hingga menempa kepribadian, kalau tidur hanya bermodal sajadah itu selama tiga tahun," ungkapnya.

Baca Juga: Ketika Aktivisme Mahasiswa Kembali Menguat di Berbagai Daerah lewat Aksi Demo, Alarm Bahwa Kondisi Negeri Ini Sedang Tidak Baik-Ba

Lilik mengenang masa SMP hingga SMA-nya di Kotagede. Selama hidup di pondok pesantren penuh dengan kesederhanaan. Acap kali tidur beralas sajadah dengan bantal dari tumpukan pakaian menjadi kenangan tersendiri.

Hal itu membuat dirinya ditempa untuk dapat beradaptasi di situasi apapun.

Pengalaman bisnisnya di awali saat duduk di SMA. Lilik memiliki sahabat yang berasal dari keluarga produsen perak di Kotagede. Saat itu, industri perak Kotagede telah menembus pasar ekspor.

Untuk menembus pasar ekspor, barang harus dikurasi secara seksama, dan menghasil barang reject atau pengembalian. Melihat kondisi itu, Lilik memanfaatkan barang reject untuk dijual kembali.

"Sejak SMA sudah nyales, perak yang tidak layak ekspor tapi bagus saya jual ke salon-salon, saya pinjem ke teman saya kalau terjual saya kasih uangnya," ucapnya.

Baca Juga: Warga Tegalwangi Kekurangan Air Bersih, Pamsimas Sering Mati, Mulai Andalkan Bantuan Droping

Profesi sales terus dijalaninya hingga masa kuliah di Universitas Wangsa Manggala. Usai kuliah ia memutuskan menikah, dan membangun bisnis dari nol. Bermodal uang pinjaman dari orang tua, ia memulai bisni busana bersama istrinya.

Setiap minggunya, ia rutin ke Jakarta untuk membeli produk dan di jual kembali ke Jogja. Berkat itu, ia mampu mengembangkan bisnisnya. Mulai dari bisnis busana, sepatu, batik, hingga biro perjalanan.

Berkat kesuksesan di bidang bisnis itu, Lilik diusung sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Dari situlah, beragam organisasi menjadi rumah keduanya. Ketertarikan terjun di dunia politik terjadi sebelum 2019. Lilik sempat adu argumen dengan orang tuanya.

Terutama ayahnya yang pernah mencicipi dunia politik. Setelah memastikan tujuannya, Lilik memutuskan berkarir di dunia politik. Berkat dukungan masyarakat, ia terpilih sebagai Anggota DPRD DIY 2019-2024.

"Masyarakat itu baik, cuma kami harus memberikan pengertian politik, kebijakan, dan anggaran," ungkapnya.

Baca Juga: Perluas Pasar Nasional-Internasional, Kemasan Mie Lethek Yu Murti dari Trimurti, Bantul Lebih Modern

Lilik menjelaskan, strategi politik yang digunakan untuk meraih simpati masyarakat. Hal ini didasari peran lembaga legislatif yang menampung aspirasi masyarakat.

Lilik cukup tegas menolak politik uang. Bahkan ia berani menyebut politik uang sebagai politik bitingan yang sama sekali tak mencerminkan tanggung jawab moral anggota legislatif.

Selama ini, Lilik tak pernah menggunakan politik uang. Lilik justru lebih memilih jalan dialog untuk mendapat kepercayaan masyarakat. Selama dua periode di DPRD DIJ, Lilik menjaring aspirasi langsung ke masyarakat.

Baca Juga: Marak Bentor Parkir Sembarangan di Pinggir Jalan Malioboro, Dikeluhkan Warga Bikin Macet: Begini Katanya!

Tak kenal siang dan malam, aspirasi terkadang dikumpulkan melalui pos ronda hingga rumah-rumah warga. "Saya sering main ke rumah warga minta kopi, ngobrol hingga pagi," ungkapnya.

Aspirasi yang didapat dari masyarakat langsung ditindaklanjuti melalui program hingga kebijakan. Hal inilah yang membuat dirinya tak pernah melakukan politik bitingan saat kontestasi politik Pemilu.

Melalui dialog masyarakat diarahkan untuk memilihnya dan diberikan jaminan program sesuai keinginan publik. (gas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Anggota DPRD DIY #bisnis #Legislator #Bitingan #Mengenal