KEBUMEN - Per 5 Juni lalu, Sudiharto dipercaya mengemban amanah sebagai direktur utama PT BPR BKK Kebumen. Tapi siapa sangka, di balik jabatan itu ada perjalanan panjang dirinya mengabdi di dunia perbankan. Dia telah melewati fase tersulit sebagai seorang staf hingga kini dipercaya menduduki kursi direktur.
Sudiharto lahir pada tahun 1967 di Desa Lemahduwur, Kuwarasan, Kebumen. Dia mengawali karier di perbankan dari posisi paling dasar. Kala itu sekitar tahun 1985, pria kalem ini mulai bekerja sebagai staf. Seiring waktu, dia kemudian dipercaya menjadi kasir.
Dari sekian banyak pegawai di kantornya, mungkin Sudiharto bisa dikatakan orang yang paling loyal kepada BPR BKK Kebumen. Sudah 41 tahun dia setia mengabdi di bank milik pemerintah daerah tersebut. Baginya, kesetiaan dan loyalitas tak bisa ditawar. Pegangan inilah yang membuat dirinya teguh dalam menapaki jenjang karier hingga menempati berbagai posisi strategis.
"Saya istikamah di BPR BKK, ibaratnya saya lahir dan dibesarkan di BKK. Sulit kalau berpaling," ungkapnya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (19/6).
Sudiharto mengungkapkan, kesetian kepada perusahaan daerah bukan tanpa ujian. Selama puluhan tahun berkarier, dia sering mendapat tawaran untuk berpindah ke perusahaan lain. Sepak terjangnya yang fokus pada kondisi kesehatan keuangan perusahaan membuat dirinya kerap ingin dipinang lembaga keuangan lain. Namun semua tawaran itu dia tolak meski mendapat iming-iming materi lebih besar. "Godaan itu ada saja. Tawaran harta benda banyak, tetap hati saya jatuh cinta di BKK. Semua saya syukuri," jelasnya.
Dia bercerita, salah satu tonggak penting kariernya ketika dia mendapat promosi sebagai pimpinan cabang Karanganyar. Tepatnya sekitar tahun 1988 hingga 2002. Ketika itu kondisi kantor masih sangat sederhana dengan total aset Rp 60 juta. Ditambah lagi posisi saat itu tingkat kredit bermasalah mencapai 50 persen. Melalui upaya pembenahan terstruktur, kondisi bank perlahan membaik hingga menetaskan rekor perolehan aset mencapai Rp 4 miliar. "Dunia Bank itu besar saja tidak cukup, perlu juga tingkat kesehatan bank. Tumbuh kalau tidak sehat, sama saja," terangnya.
Kemampuan Sudiharto dalam penyehatan bank menghantarkan dirinya dipercaya membantu lembaga keuangan lain terkait persoalan kesehatan bank. Pada tahun 2008 dia ditugaskan sebentar untuk menata Bank Kebumen. Lalu, dia juga membantu penyehatan BKK Purwoerejo pada periode 2009 hingga 2013. Setelah menyelesaika tugas tersebut dia dtarik kembali ke BPR BKK Kebumen sebagai direktur kepatuhan. "Misi saya sesuai khitah bank daerah, yaitu Ngopeni UMKM. Menyediakan sarana permodalan kepada pelaku usaha sebagai penggerak ekonomi," ucapnya.
Baca Juga: Disdikpora DIY Kumpulkan Data dan Klarifikasi Terkait Dugaan Kasus Bullying di SMAN 2 Bantul
Selain berkiprah di perbankan, Sudiharto juga aktif di bidang pendidikan. Alumnus doktoral Universitas Islam Sultan Agung (Unisula) ini rutin diundang sebagai dosen tamu. Tak hanya itu, kemampuan dalam regulasi tata kelola perbankan membawanya dipercaya sebagai trainer bersertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Berbagai pelatihan telah diberikan kepada direksi hingga komisaris bank dari banyak daerah. "Spesifik saya di perundangan bank. Fokus di situ," urainya.
Dari kiprahnya beberapa penghagaan juga telah diraih. Terbaru dia menyabet penghargaan nasional kategori pemimpin bank menginspirasi dan inovatif. Sebelumnya dia diberi penghargaan sebagai pemimpin bank paling menjanjikan dan inovatif dalam kualitas layanan tahun 2026. Kini, sebagai direktur utama PT BPR BKK Kebumen, Sudiharto akan memimpin perusahaan dengan total aset Rp 563 miliar dan capaian kredit Rp 375 miliar. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita