SLEMAN - Bong Supit Suryono adalah salah satu klinik khitan legendaris di Jogjakarta lewat tagline khasnya, "Ora Lara Ora Lara". Tempat sunat yang berlokasi di Kalurahan Sumberadi, Mlati, Sleman ini sudah berdiri sejak tahun 1990 dan kini sudah memiliki generasi penerus, yakni Yogi Surya Husada.
Anak sulung dari Suryono ini mengaku sudah mulai dikenalkan dengan profesi ini oleh ayahnya sejak kelas 6 SD. Lalu saat SMP mulai belajar cara menangani anak yang rewel hingga teknik menjahit kala itu. Lalu mencoba praktik menyunat dengan didampingi dan tangannya masih dipegangi.
"Kalau pertama kali benar-benar nyunatnya kelas 1 SMA. Seinget saya di Wates saat ada sunatan massal. Dulu ndredeg dan kringet dingin," katanya ditemui saat akan melakukan sunatan massal di Caturharjo, Sleman Selasa (16/6).
Sejak saat itu dia rutin membantu sang ayah menjalankan usaha khitanan. Sebelum proses khitanan dimulai Yogi telah menjelaskan tahapan yang harus dilalui, obat yang akan diberikan, hingga makanan yang sebaiknya dihindari. Pantauan Radar Jogja, proses sunat setiap anak cukup cepat, sekitar lima hingga sepuluh menit saja. Para peserta sejak masuk hingga keluar ruangan juga tidak menangis.
Pria 36 ini mengaku, memang keputusan untuk terjun dalam profesi ini tak lepas dari pengaruh sang ayah. Dalam satu tahun ada sekitar seribu orang yang dilayani di kliniknya berdua dengan sang ayah. Belum lagi jika ada sunatan massal semacam ini. Dia memperkirakan sudah menyunat sekitar 1.200 orang.
"Metodenya flash cauter atau orang-orang menyebutnya laser. Menurutku ini memang masih yang paling aman," katanya.
Ada berbagai pengalaman unik yang dia dapat selama menjalankan profesinya. Mulai dari menyunat bule, menyunat pasien termuda berusia delapan hari yang baru saja pulang dari rumah sakit, hingga melakukan pembenaran penis bagi pria berusia 79 tahun karana bentuknya yang kurang sempurna. Termasuk menemui berbagai kondisi penis lain yang beragam.
Menurutnya, tagline Ora Lara-Ora Lara ini masih digunakan hingga kini oleh Bong Supit Suryono. Dia sebut sebenarnya tagline ini adalah bagian dari memberi sugesti anak melalui alam bawah sadarnya bahwa prosesi sunat itu tidak menyakitkan. Untuk itu setiap kali melakukan sunat tagline ini juga akan dia ucapkan berulang-ulang.
"Tagline itu pertama ada waktu saya SMA, sekitar 2009 sampai sekarang," ujarnya. (del)