Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Agung Sulistyo, Dulu Satpam Kini Bergelar Doktor;  Keterbatasan Ekonomi Tak Jadi Penghalang untuk Menempuh Pendidikan Setinggi Mun

Cintia Yuliani • Selasa, 16 Juni 2026 | 18:48 WIB
INSPIRATIF: Agung Sulistyo saat mendapatkan gelar doktor di UMY. (Dokumentasi Pribadi)
INSPIRATIF: Agung Sulistyo saat mendapatkan gelar doktor di UMY. (Dokumentasi Pribadi)

 

BANTUL - Berawal dari banyaknya waktu luang saat bekerja sebagai satpam di perusahaan media cetak di Jogja, Agung Sulistyo memanfaatkan untuk kuliah sambil bekerja. Kini, ia pun sukses mencapai gelar akademik tertinggi, strata tiga (S3) alias doktor. Bagaimana perjuangannya?

Keputusan itu bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Saat bekerja sebagai security pada 2008, Agung merasa aktivitasnya berjalan monoton. Apalagi saat itu hubungan jarak jauhnya dengan sang kekasih yang kini menjadi istrinya, membuat waktu luangnya semakin banyak.

"Saya memutuskan kuliah karena waktu saya sangat longgar sekali," katanya Selasa (16/6).  Menurut Agung, aktivitas hariannya saat itu hanya bekerja dan pulang ke rumah. Kondisi itu membuat teman dekatnya yang kini menjadi istrinya menyarankan agar ia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat dengan Endang Sri Sumiyartini Politikus Marhaen dari Guru Tari Honorer Jadi Ketua DPRD Gunungkidul

Setahun setelah bekerja sebagai satpam, Agung memberanikan diri mengambil program studi Manajemen konsentrasi Pemasaran di STIE Widya Wiwaha Jogja. Pilihan jurusan itu bukan karena alasan khusus.

Saat itu pilihan program studi kelas karyawan masih terbatas dan ia merasa pemasaran lebih cocok dengan dirinya dibandingkan jurusan sumber daya manusia (SDM) maupun akuntansi.

Perjuangan menempuh pendidikan dilakukan dengan segala keterbatasan. Gaji satpam yang diterimanya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun dia tetap berusaha menyisihkan penghasilan untuk membayar biaya kuliah yang saat itu bisa diangsur setiap bulan. "Jadi setiap bulan saya bayar kurang lebih Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu," katanya.

Tak berhenti di situ, Agung juga memutar otak untuk mencari tambahan penghasilan. Seusai bekerja, dia berkeliling menawarkan pemasangan iklan untuk surat kabar tempatnya bekerja sebagai biro iklan lepas. "Ada iklan baris atau kolom, saya muter cari iklan menawarkan iklan yang mau masang di koran," ungkapnya.

Baca Juga: Mengenal Sekretaris Satpol PP Gunungkidul Sigit Pramudiyanto, Sukses Bertani Bawang Merah, Panen Empat Kali Setahun

Penghasilan tambahan itu menjadi salah satu penopang biaya kuliah yang dijalaninya sambil bekerja. Di saat yang sama, kehidupan ekonominya juga terus berproses.

Setelah beberapa tahun berpindah-pindah rumah kontrakan bersama orangtuanya sejak merantau ke Jogja, Agung memberanikan diri mengambil kredit kepemilikan rumah pada 2010. "Jadi 2010 kuliah, kerja, nyicil rumah juga," katanya.

Agung berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2013. Tak lama berselang, dia melanjutkan pendidikan magister di jurusan dan kampus yang sama. Prestasi akademik yang diraih membuatnya memperoleh potongan biaya pendidikan sebesar 50 persen.

Ia berhasil menyelesaikan pendidikan magister pada tahun 2015. "Saya tetap membayar kuliah S1 dan S2 dengan gaji saya di satpam," tegasnya.

Baca Juga: RM Satrio Wijayanto Terpilih Jadi Presiden Brajamusti;  Punya Kewajiban Jaga Persatuan Semua Laskar

Lulus magister, arah perjalanan kariernya mulai berubah. Meski awalnya berharap ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat untuk pekerjaannya di media cetak itu, kenyataan membawanya ke dunia pendidikan tinggi.

Pria yang saat ini tinggal di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul itu kemudian mengundurkan diri dan melamar menjadi dosen ke sejumlah perguruan tinggi, hingga akhirnya diterima sebagai dosen di STIE Ambarukmo Jogjakarta.

Meski telah menjadi dosen, semangat belajarnya tak berhenti. Pada 2020, Agung kembali mengambil langkah besar dengan mendaftar program doktor di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan jurusan yang sama seperti S1 dan S2.

Seluruh biaya pendidikan ditempuh secara mandiri di tengah situasi pandemi Covid-19. "Karena keterbatasan kemampuan finansial, akhirnya mungkin orang bisa selesai tiga tahun, tapi alhamdulillah rezekinya saya selesai di lima tahun," ujarnya, tertawa.

Baca Juga: Mengenal General Manager YIA Muhammad Thamrin, Mulai Karier Aviasi sebagai Air Traffic Controler

Untuk menopang biaya pendidikan, pria yang lahir dan tumbuh di Tangerang ini mengambil pekerjaan tambahan dari kementerian pariwisata. Hasil pekerjaan itu digunakan untuk menambah biaya kuliah hingga akhirnya berhasil menyelesaikan program doktor.

"Posisi seperti sekarang, saya nggak pernah sama sekali bermimpi, karena kuliah pun saya tidak pernah berpikir sejauh ini," katanya.

Bagi Agung yang saat ini memiliki gelar doktor, pendidikan bukan semata-mata tentang gelar atau peningkatan ekonomi. Pendidikan telah mengubah cara berpikir dan cara memandang kehidupan.

Ia juga menjadi doktor pertama dalam garis keluarganya, dari generasi kakek hingga dirinya saat ini. Oleh karena itu, meskipun dia terlahir dari orang tua yang bekerja sebagai buruh, Agung berharap kisahnya dapat menjadi contoh bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

"Target ke depan bukan hanya bangga dengan gelar doktor saja, tetapi gelar itu diharapkan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas," ungkapnya. (cin/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#strata tiga #Agung Sulistyo #STIE Widya Wiwaha Jogja #satpam #UMY