KULON PROGO - Nunut Masjid, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat Padukuhan Geger Bajing, Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh. Namun, kini warga bisa bernafas lega berkat keberhasilan pembangunan masjid secara gotong royong.
Bagi Umat Islam, adzan merupakan pertanda waktu mendirikan sholat. Namun bagi warga Padukuhan Geger Bajing, adzan bukan sekedar pertanda waktu sholat, namun wujud kemandirian warga desa. Lantaran, bangunan berukuran 9 meter kali 15 meter yang kini diberi nama Masjid Baitusalam itu merupakan cerminan perjuangan masyarakat.
Singkatnya pembangunan masjid diinisiasi sosok Aiptu Heri Pracaya. Sosok Bhabinkamtibmas ini, telah mengabdi di Pagerharjo selama 12 tahun. Selama itu pula ia melihat kebiasaan masyarakat. Setiap hari jumat, masyarakat selalu menempuh tiga sampai empat kilometer untuk berangkat shalat jumat.
"Sejak dari dulu tidak ada masjid, setiap jumat warga harus ke pedukahan tetangga atau nunut," ucap Aiptu Heri, Minggu (14/6/2026).
Sebenarnya masyarakat telah memiliki cita-cita membangun masjid. Bermodal tanah wakaf, dan menunggu donatur masyarakat berharap masjid segera dibangun. Sayangnya, harapan mereka pupus. Lantaran, donatir pembangunan masjid meminta beragam syarat.
Melihat kondisi itu, Hari tak mau tinggal diam. Ia menemui tokoh masyarakat hingga Rois setempat. Tujuannya, mendiskusikan pembangunan masjid. Dari situlah, masyarakat sepakat untuk memulai pembangunan.
"Waktu itu sebagaian gaji saya digunakan untuk donasi awal pembangunan masjid," ungkapnya.
Keqdaan ekonomi masyarakat sekitar membuat donasi tak bisa langsung terkumpul. Aiptu Heri sengaja menyisakan sebagain gajinya untuk memulai donasi awal. Berkat inisiasi itu, pembangunan masjid dapat dimulai di tahun 2021 ditandai dengan pembangunan pondasi.
Pembangunan dilakukan secara bertahap, karena masyarakat mayoritasnya petani. Masih teringat pada benak Heri, beberapa masyarakat sempat berdonasi dalam bentuk material bangunan. Paling mengena, masyarakat sempat berdonasi pohon jati yang masih tertanam do perbukitan Puncak Widosari. Alhasil, ia bersama masyarakat harus menaiki perbukitan demi mendapat kayu dari pohon jati.
"Itu yang paling mengena, donasi berupa pohon untuk usuk dan reng masjid," ungkapnya.
Berkat kerja keras dan gotong royong itu, bangunan masjid dan sarpras lain rampung tahun 2025. Kini warga Geger Bajing tak perlu lagi nunut masjid di padukuhan tetangga. Masjid Baitusalam kini menjadi pusat sosial masyarakat.
Bukan hanya sarpras untuk ibadah, beberapa kegiatan sosial lain turut di akomodir dalam masjid itu. Salah satunya Taman Pendidikan Al-Quran, yang mana pengampunya adalah Heri. Sepulang berdinas, Heri rutin mengajar ngaji di masjid tersebut. (gas)