GUNUNGKIDUL - Perjalanan hidup Endang Sri Sumiyartini menjadi Ketua DPRD Gunungkidul tidak lepas dari jejak panjang pengabdian di tengah masyarakat. Berawal dari guru honorer tari hingga dipercaya memimpin kalurahan, perempuan yang dikenal dekat dengan wong cilik ini terus menapaki tangga pengabdian hingga kini duduk sebagai pimpinan lembaga legislatif daerah.
Perempuan kelahiran Kalurahan Karangasem Kapanewon Paliyan itu mengawali pengabdiannya pada 1997, tak lama setelah lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Alih-alih menetap di kota, Endang memilih pulang ke kampung halaman untuk menghidupkan kembali geliat kesenian di desanya.
"Saya mulai semua ini dari guru honorer. Setelah lulus ISI Jogjakarta, saya mengajar tari sambil berusaha menghidupkan kesenian di Karangasem," ujarnya kepada Radar Jogja saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: Donny Warmerdam Resmi Berpisah dengan PSIM Jogja
Berbekal seperangkat gamelan dan wayang yang dimilikinya, Endang mengajar tari sekaligus merintis usaha rias pengantin. Ia pernah mengabdi sebagai guru honorer di SMA Panggang sebelum akhirnya berpindah ke SMP 2 Paliyan.
Di sela aktivitas itu, dirinya dipercaya menjadi fasilitator Program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang mempertemukannya secara langsung dengan berbagai persoalan masyarakat desa.
Menurutnya, pengalaman mendampingi warga menjadi bekal penting dalam memahami kebutuhan masyarakat dari lapisan paling bawah. Kedekatan itu pula yang mendorongnya mengambil keputusan besar pada awal 2003 yakni, maju dalam pemilihan lurah di Kalurahan Karangasem.
Kala itu, perempuan yang terjun ke dunia pemerintahan desa masih sangat sedikit. Apalagi, latar belakangnya hanyalah seorang guru tari honorer.
"Saya memberanikan diri mencalonkan diri menjadi lurah, meskipun perempuan itu masih jarang memimpin desa. Saya juga bukan siapa-siapa, hanya guru tari honorer," ujarnya mengenang.
Di luar dugaan, Endang memperoleh suara terbanyak. Pada usia 32 tahun dan telah memiliki dua anak, ia dipercaya memimpin Kalurahan Karangasem dengan visi Karangasem Adem Ayem Toto Titi Tentrem. Pengabdian sebagai lurah, kata dia, dijalaninya dengan penuh konsekuensi. Bahkan, ketika kesempatan diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) datang, Endang memilih tetap menjadi lurah.
"Saya pernah dihadapkan pada pilihan menjadi guru PNS atau tetap menjadi lurah. Banyak ibu-ibu datang dan bilang, 'Bu Lurah, mosok tega ninggalke warga?'. Itu yang menguatkan saya untuk tetap mengabdi," tuturnya.
Baca Juga: Batasi Penggunaan Gawai Saja Tak Cukup, KPAID Kota Jogja Dorong Ruang Kreatif untuk Remaja
Selama dua periode memimpin hingga 2013, ia menikmati perannya melayani masyarakat. Dengan gaji lurah sekitar Rp 85 ribu per bulan saat itu, ia bahkan menyerahkan pengelolaan tanah bengkok kepada warga.
Tak jarang dirinya baru pulang menjelang tengah malam setelah menyelesaikan berbagai urusan masyarakat. Pengalaman sebagai perias manten juga membentuk karakter hidupnya. Ia terbiasa menjalani laku prihatin, termasuk berpuasa saat menangani prosesi pernikahan adat Jawa.
Memasuki Pemilu 2014, peluang keterwakilan perempuan di DPRD Gunungkidul membawanya bergabung dengan PDI Perjuangan. Ideologi marhaenisme yang berpihak kepada rakyat kecil membuatnya merasa sejalan dengan partai berlambang banteng tersebut.
"Sebagai orang yang percaya pada marhaen, saya merasa cocok dengan PDI Perjuangan. Saya membangun karier ini benar-benar dari bawah dan dekat dengan rakyat," ungkapnya.
Dua periode pertama di DPRD Gunungkidul, Endang banyak bertugas di Komisi A. Sementara hasil Pemilu 2024 mengantarkannya menduduki kursi Ketua DPRD Gunungkidul. Baginya, jabatan bukanlah tujuan akhir. Kepercayaan masyarakat merupakan amanah yang harus dijaga melalui kerja nyata dan kedekatan dengan warga.
"Ini semua berkat warga. Tanpa kedekatan dengan rakyat, tidak mungkin saya bisa sampai di titik ini," tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita