Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Doa di Tanah Suci yang Terjawab, Lika-Liku Hidup Faried Zulkarnain Hingga Kini Memimpin BNNP DIY

Fahmi Fahriza • Sabtu, 6 Juni 2026 | 16:39 WIB
Kepala BNNP DIY Faried Zulkarnain. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Kepala BNNP DIY Faried Zulkarnain. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

 

 

JOGJA - Di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, pada awal 2026 lalu, Kombes Pol Faried Zulkarnain mendadak bersujud syukur.

Saat itu ia baru menerima kabar yang sudah lama ditunggu-tunggu, yakni dirinya dipercaya menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY.

Bagi sebagian orang, mungkin kabar mutasi dan perpindahan jabatan terasa biasa.

Namun bagi Faried, penugasan ke Jogja merupakan jawaban atas doa yang terus ia panjatkan selama bertahun-tahun.

"Doa saya cuma satu, Ya Allah tempatkan saya di Jogjakarta dengan pangkat jenderal," katanya pada Radar Jogja, Jumat (5/6/2026).

Baca Juga: Pulang ke Jepang, Yusaku Yamadera Tetap Jaga Kondisi dan Akui Sedang Negosiasi Kontrak Dengan PSIM Jogja 

Ia mengenang, doa itu dipanjatkannya berulang kali, termasuk saat menunaikan ibadah haji bersama istrinya pada 2024. Dua tahun kemudian, doa tersebut terjawab.

Faried resmi dilantik sebagai Kepala BNNP DIY pada 26 Februari 2026.

Namun perjalanan menuju titik itu tidaklah singkat.

Di balik jabatan yang kini diembannya, tersimpan kisah panjang tentang keraguan, pengorbanan, kehilangan, hingga keteguhan menghadapi berbagai ujian hidup.

Pria kelahiran Solo pada 9 Oktober 1971 tersebut lahir dari pasangan ayah asal Jambi dan ibu asal Bojonegoro, Jawa Timur.

Ayahnya merupakan anggota Polri yang bertugas di Solo.

Meski tumbuh di lingkungan keluarga polisi, Faried sempat tidak tertarik mengikuti jejak sang ayah karena melihat profesi tersebut menuntut pengorbanan besar dari keluarga.

"Keinginan ayah saya salah satu anaknya meneruskan profesi keluarga, akhirnya saya coba mendaftar Akademi Kepolisian," ungkapnya.

Baca Juga: SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta Raih Peringkat 2 Sekolah Swasta Sekaligus Ranking 3 Se-Kota Jogja Nilai TKA/TKAD 2026

Meski sempat ragu dengan kemampuannya, tekad untuk lulus tumbuh saat menjalani proses seleksi di Magelang.

Setelah lulus Akpol, Faried memulai karier di Polda Metro Jaya sebelum kemudian bertugas di Korps Brimob.

Ia terlibat dalam pengamanan peristiwa 27 Juli 1996 di Kantor PDI dan menjadi saksi langsung gelombang Reformasi 1998.

Di tengah dinamika tugas yang berat, kehidupan pribadinya juga memasuki babak baru.

Ia menikah pada April 1998, hanya beberapa pekan sebelum kerusuhan Mei meletus.

Sebagai komandan peleton Brimob, Faried harus berpindah-pindah wilayah untuk membantu pengamanan Jakarta.

Di saat bersamaan, ia tidak mengetahui kondisi istrinya yang harus berjuang sendiri di tengah situasi ibu kota yang mencekam.

Baca Juga: Jelang Musim Libur Sekolah, Kulon Progo Siapkan Obwis, Antisipasi Tarif Nuthuk

Pengorbanan untuk tugas kembali dirasakan ketika anak pertamanya lahir pada akhir 1999.

Saat itu Faried tidak dapat mendampingi proses persalinan karena masih menjalankan tugas pengamanan Natal dan Tahun Baru.

"Itu rasanya sedih dan dilematis, karena saya tidak bisa menemani," kenangnya.

Namun ujian yang lebih berat datang pada 2001.

Ketika sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), anak keduanya meninggal dunia dalam usia dua bulan.

Belum selesai berduka, istrinya juga didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah dua kali setiap pekan.

Baca Juga: Jadi Operator sekaligus Perantara, Dua Pengedar Sabu Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara

Situasi itu membuat Faried nyaris menyerah dan sempat ingin mengundurkan diri agar bisa fokus merawat istrinya.

Atas dukungan pimpinan dan rekan-rekannya, Faried memutuskan bertahan. Setiap hari ia membagi waktu antara ruang kuliah dan rumah sakit hingga akhirnya kondisi sang istri perlahan membaik dan pulih.

"Itulah yang saya yakini sebagai mukjizat Allah. Saat itu kami padahal sudah pasrah," katanya.

Setelah lulus PTIK, karier Faried terus berkembang.

Ia pernah menjadi pembina taruna di Akademi Kepolisian, Wakapolres Ponorogo, bertugas di Tulungagung, Kediri, dan Surabaya, sebelum kemudian dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis.

Di DIY, Faried pernah menjabat sebagai pejabat Ditlantas Polda DIY, Kabag Binkar Ro SDM Polda DIY, Kapolres Gunungkidul, Kapolres Sleman, Kepala SPN Selopamioro, hingga Direktur Samapta Polda DIY.

Baca Juga: Jelang Musim Libur Sekolah, Kulon Progo Siapkan Obwis, Antisipasi Tarif Nuthuk

Kariernya kemudian berlanjut sebagai Direktur Samapta Polda Riau dan Karolog Polda Sumatera Barat.

Meski berpindah-pindah daerah, satu hal yang tidak berubah adalah kedekatannya dengan keluarga.

"Arti keluarga bagi saya adalah sumber kekuatan dan motivasi terbesar," ujarnya.

Faried mengaku Jogja memiliki tempat tersendiri di hati dirinya dan keluarga.

Ia pertama kali bertugas di DIY sekitar 2010 dan seiring waktu keluarganya memutuskan menetap di Jogja.


Karena itulah, ketika harus bertugas ke Riau dan Sumatera Barat, kerinduan untuk kembali ke kota gudeg tidak pernah hilang. 

Harapan tersebut akhirnya terwujud ketika ia menerima kabar penugasan sebagai Kepala BNNP DIY.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade mengabdi sebagai anggota Polri, Faried mengemban tanggung jawab baru memimpin BNNP DIY.

Baca Juga: Hasil Indonesia vs Oman, Tanpa Kapten Jay Idzes, Skuad Garuda Menang Telak dan Catatkan Cleansheet

Sejak dilantik pada Februari 2026, ia menekankan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga pencegahan melalui penguatan ketahanan sosial masyarakat.

Bagi Faried, seluruh perjalanan panjang yang dilaluinya mengajarkan satu hal penting, bahwa keluarga adalah sumber kekuatan yang membuat seseorang mampu bertahan menghadapi situasi sesulit apa pun.

Karena itu, ketika kini memimpin BNNP DIY, ia tidak hanya berbicara soal penegakan hukum, tetapi juga tentang menjaga keluarga agar tetap menjadi benteng pertama dalam melindungi generasi muda dari ancaman narkoba.

"Doa saya sekarang adalah ingin mengabdi di Jogja sampai akhir penugasan saya sebagai anggota Polri apapun jabatannya, sehingga dapat tetap dapat berkumpul bersama keluarga," pungkasnya. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#kepala bnnp diy #Faried Zulkarnain #Doa di Tanah Suci #karier #bnnp diy