Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita Srikandi PSS Fans Dessy Suganda, Nekat Nonton Langsung PSIM Jogja dan Persis Solo demi Rawat Mataram is Love

Rizky Wahyu Arya Hutama • Kamis, 21 Mei 2026 | 07:08 WIB
Dessy Suganda
Dessy Suganda

 

 

 

 

 Usai menjadi saksi PSS Sleman kembali ke Super League musim depan, Dessy menonton langsung pertandingan PSIM Jogja di Stadion Sultan Agung, Bantul dan Persis Solo di Stadion Manahan, Solo. Sebuah perjalanan yang menebalkan asa di hatinya agar narasi Mataram Is Love tak sekadar kosmetik di media sosial, melainkan abadi di akar rumput. Apa yang mendasarinya?

Rasa penasaran dan kecintaannya pada sepak bola. Itulah yang mendorong Dessy nekat melakoni perjalanan ke Solo dan Bantul demi mencicipi laga home terakhir Persis Solo dan PSIM Jogja.

 Berbekal keputusan untuk melepas seluruh atribut kelompok suporter demi keamanan. Dessy menjadi saksi bagaimana sepak bola bisa menyajikan wajah yang berbeda-beda dalam satu waktu.

Baca Juga: Perintah Sultan HB X, Keraton Yogyakarta Bakal Sederhanakan Prosesi Garebeg Besar Mulai Idul Adha 2026

Waktu menonton di Stadion Manahan Solo, Dessy merasakan atmosfer yang berbeda. Sebab saat itu, tim Persis Solo sedang terkena sanksi dari Komite Disiplin  PSSI penutupan tribun utara dan selatan, plus imbauan tanpa atribut. Sehingga tribun diisi penonton bergaya kasual dengan batik.

Atmosfernya mungkin kurang maksimal, tapi tensi pertandingannya luar biasa krusial, karena Solo harus menang biar tidak degradasi. “Itu membuat saya flashback ke posisi (PSS) Sleman musim lalu yang juga berdarah-darah di papan bawah," ungkapnya.

Pengalaman berbeda juga Dessy rasakan saat bergeser ke SSA, Bantul untuk menyaksikan PSIM Jogja. Meskipun Laskar Mataram harus terusir dari Mandala Krida karena Stadion Mandala Krida sedang terkendala sebuah hal yang sempat memicu kekecewaan para suporter.

Baca Juga: Genjot Kesadaran Cek dan Aktifkan Kepesertaan, 98 Persen Warga Magelang Sudah Terdaftar JKN tapi Belum Dianggap Aman

Akan tetapi baginya hal itu tidak menyurutkan antusiasme Brajamusti dan The Maident untuk hadir ke stadion. Saat itu tiket tiket terjual habis dan sangat stadion bergemuruh. "Laga home terakhir PSIM itu meriah sekali. Antusiasme suporternya berbeda dari laga-laga sebelumnya,” kata dia. “Menonton langsung klub lain memberikan saya pandangan baru bahwa tiap klub punya cara sendiri merayakan identitasnya.” 

Sebagai perempuan yang lahir dan besar di Sleman, Dessy tidak menampik bahwa hatinya sudah tertambat untuk tim berjuluk Super Elang Jawa. Sebab, baginya mendukung PSS Sleman di kandang sendiri selalu menghadirkan ikatan emosional yang tak bisa digantikan oleh klub mana pun.

Saat disinggung mengenai potensi bersatunya kembali tiga tim legendaris Mataram, PSS Sleman, PSIM Jogja, dan Persis Solo di kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada musim depan, Dessy menyimpan sejuta harapan. Dia percaya perdamaian bukan hal yang mustahil jika dimulai dari jajaran manajemen atas hingga ke bawah.

Baca Juga: Pemkab Targetkan 3.000 Transaksi per Bulan, ASN Magelang Didorong Belanja di Warung Tetangga

Dimulai dari pihak manajemen klub dengan saling sowan, sarasehan, atau silaturahmi formal. “Kalau petinggi klubnya sudah adem, suporter di bawah pasti juga akan ikut dingin," harapnya.

Dessy juga menekankan pentingnya edukasi reguler dari klub kepada basis suporternya yang masif. Menurutnya, suporter harus paham betul regulasi dan konsekuensi hukum maupun sanksi yang membayangi klub jika terjadi pelanggaran di luar batas.

Mengingat esensi suporter adalah mendukung, bukan justru memberikan kerugian finansial atau sanksi laga usiran bagi tim kebanggaan. "Kalau memang memakai atribut justru memicu gesekan dan menyakiti orang lain, lebih baik tanggalkan saja atribut itu demi kedamaian," tegasnya. 

Dalam bayangannya, persepakbolaan di tanah Mataram bisa menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia. Rivalitas hanya berlangsung selama 90 menit di atas lapangan hijau, selebihnya adalah persaudaraan. "Jangan sampai tim harus terusir ke daerah lain hanya karena kita tidak bisa menjaga rumah sendiri," ujarnya. (pra)

Editor : Heru Pratomo
#dessy suganda #PSS #PSIM #Mataram is Love #persis