Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Merawat Sejarah dari Balik Jersey, Dedikasi Akbar Kusumowibowo untuk PSIM Jogja dengan Ratusan Koleksi Lintas Era

Fahmi Fahriza • Rabu, 22 April 2026 | 07:00 WIB
Akbar Kusumowibowo saat menunjukkan jersey PSIM Jogja dari masa ke masa. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Akbar Kusumowibowo saat menunjukkan jersey PSIM Jogja dari masa ke masa. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

 JOGJA - Di tengah hiruk-pikuk pertandingan dan euforia suporter, ada cara lain untuk mencintai klub. Bukan hanya dengan berteriak di tribun, namun juga bisa dengan merawat jejak sejarahnya. Itulah yang dilakukan Akbar Kusumowibowo.

Pria kelahiran 24 Maret 1988 ini sudah jatuh cinta pada PSIM sejak ia kecil. Rumahnya yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari Stadion Mandala Krida dan Wisma PSIM Jogja, membuatnya tumbuh dalam atmosfer sepak bola. Lebih spesifiknya PSIM dengan begitu kental.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar sekitar tahun 1996/1997, ia mulai mengenal PSIM. Namun bukan hanya sebagai tontonan semata, tetapi juga bagian dari keseharian hidupnya.

 "Dulu saya sering main di sekitar stadion. Kalau tim latihan atau tanding juga pasti nonton. Ditambah jarak rumah dan lingkungannya juga sangat suportif PSIM," katanya, Sabtu (18/4).

Baca Juga: PSS Sleman Memiliki Arti Spesial bagi Gustavo Tocantins

 Dari kedekatan itu, kecintaannya berkembang ke arah yang tidak biasa, yakni mulai mengoleksi jersey. Khususnya yang benar-benar pernah dipakai pemain dalam pertandingan atau match worn (MW).

Awal koleksinya tak lepas dari peran sosok legendaris di tubuh PSIM, yang disebutnya sebagai Pakde Cunong, yang saat itu menjadi kitman tim. Kedekatan Akbar dengan tim terjalin melalui usaha roti keluarganya yang kerap menyuplai konsumsi bagi para pemain. Di situlah pintu untuk mendapatkan koleksi jersey terbuka.

 "Jersey pertama dikasih dari Pakde Cunong sekitar tahun 1996. Saat itu belum terpikir value dari jersey. Hanya senang karena punya jersey yang original pemain," ungkapnya.

 Seiring waktu, koleksinya terus bertambah. Kini, alumni jurusan ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) itu telah mengoleksi sekitar 150 hingga 200 jersey PSIM dari berbagai era. Sekitar 70 persen di antaranya ia dapatkan secara cuma-cuma. Hasil relasi dan pendekatan personal dengan para pemain, terutama pada era media sosial mulai berkembang di medio 2010-an.

Baca Juga: Polres Gunungkidul Bongkar Sindikat Pil Sapi Lintas Provinsi Yang Sasar Pelajar, Tiga Tersangka Terancam 12 Tahun Penjara

 "Sekitar tahun 2010-an itu saya inbox semua pemain di Facebook untuk minta jersey-nya nanti di akhir musim. Akhirnya saya dapat satu jersey dari Ardianto Wahyu," tuturnya.

 Meski begitu, berburu jersey bukan perkara mudah. Tidak semua pemain merespons dan tak semua upaya berbuah hasil. Namun, justru dari proses itulah nilai koleksi itu terbentuk.

Dari yang diingatnya, jersey PSIM tertua yang ia miliki berasal dari tahun 1989. Sementara salah satu yang paling ikonik adalah jersey PSIM dengan brand Adidas era Liga Dunhill 1995. Musim pertama setelah peleburan kompetisi perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia.

"Ada beberapa jersey yang termasuk sulit dicari. Saya harus cari cukup lama, sebelum akhirnya bisa mendapatkannya," katanya.

 Proses pencariannya pun beragam. Ia melakukan perburuan mulai dari kaskus, melakukan pendekatan personal dan persuasif kepada para pemain, bahkan pernah secara tidak sengaja mendapat dari seorang yang sedang mengenakan jersey PSIM di jalanan.

Baca Juga: PSS Sleman Memiliki Arti Spesial bagi Gustavo Tocantins

"Saya ingat pernah beli di tukang tambal ban. Jadi dia pakai jersey PSIM saat itu dan langsung saya nego di tempat. Akhirnya dapat," kenangnya.

Sebagai penonton sekaligus kolektor, Akbar juga memiliki cara pandang yang berbeda terhadap sosok pemain. Ia mengaku tidak benar-benar memiliki idola di PSIM.

Baginya, pemain datang dan pergi, sementara klub dan sejarahnya tetap tinggal. Ia juga mengaku lebih memilih jersey match worn dibanding versi retail. Baginya, setiap jersey menyimpan cerita, tentang pertandingan, pemain, hingga momen yang tak tergantikan.

Meski telah memiliki ratusan koleksi, diakuinya masih ada beberapa jersey Laskar Mataram yang ia buru. Seperti musim kompetisi 1998, 1999/2000, dan 2005.

"Itu beberapa jersey yang masih saya cari. Memang cukup langka, kalaupun ada harganya tinggi juga," tuturnya.

Lebih dari sekadar kolektor, Akbar juga memikirkan masa depan sejarah PSIM itu sendiri. Ia berharap suatu saat manajemen klub dapat membangun museum resmi untuk menyimpan berbagai memorabilia.

"Banyak bukti fisik yang tercecer atau hilang. Kalau ada museum, sejarah PSIM bisa terdokumentasi dan dikumpulkan dengan baik," ucapnya.

Ia pun membuka kemungkinan bekerja sama dengan manajemen jika koleksinya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan itu.

Kini, di tengah kesibukannya sebagai ayah dari dua anak, Akbar tetap menjaga koleksinya. Soal apakah koleksi itu akan diwariskan, ia belum memiliki jawaban pasti.

Namun satu hal yang jelas, bagi Akbar, setiap jersey bukan sekadar kain, melainkan potongan sejarah yang ia rawat, satu per satu.

"Kalau ditanya pemain idola saya bingung, sepertinya tidak ada. Pemain itu datang dan pergi. Yang saya jaga itu sejarahnya PSIM," tandasnya. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Akbar Kusumowibo #PSIM #Suporter #jersey #PSIM Jogja