Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita Ezra Timothy Nugroho, Alumni UGM Yang 57 Hari Berada di Benua Antartika; Temukan Spesies Hewan Berusia 3.500 Tahun

Agung Dwi Prakoso • Kamis, 9 April 2026 | 21:13 WIB
(DOK. PRIBADI EZRA TIMOTHY NUGROHO)
(DOK. PRIBADI EZRA TIMOTHY NUGROHO)

 

Tak banyak orang Indonesia yang berkesempatan bisa menginjakkan kaki di Benua Antartika. Dari sedikit itu, salah satunya adalah anak muda alumni Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ezra Timothy Nugroho. Selama 57 hari, ia melakukan penelitian terkait keberadaan hewan laut dengan penuh tantangan.

Usianya masih sangat muda, 25 tahun. Namun, Ezra berhasil bergabung menjadi tim peneliti yang lokasi penelitiannya berada di ujung bumi. Mahasiswa S3 Institute for Marine and Antarctic Studies, University of Tasmania, Australia itu melakukan penelitian pada tahun ini.

Mulai 2 Januari hingga 27 Februari, ia fokus melakukan riset di Antartika untuk tugas akhir sewaktu menempuh pendidikan S2 di universitas yang sama. Penelitiannya tentang sedimentary ancient DNA atau DNA purba dari sedimen.

 "Sedimen bawah laut saya ambil lalu saya ekstraksi DNA-nya. Fokus penelitian saya untuk mendeteksi DNA-DNA hewan laut, khususnya DNA-DNA hewan laut moluska," kata Ezra saat ditemui di UGM, Kamis (9/4).

Baca Juga: Presiden Prabowo: Pemerintahan Efektif dan Andal, Capai Prestasi Nyata dalam 1,5 Tahun

Latar belakang dirinya bisa melakukan penelitian di Antartika bermula pada saat dosen pembimbingnya mengajaknya mengambil sampel di wilayah Antartika Timur. Tepatnya di Cook Region. Ezra menjadi satu-satunya WNI yang melakukan penelitian di sana bersama para peneliti dari negara lain.

 "Selama ekspedisi itu, sebagai orang Indonesia yang belum pernah bekerja di dalam kapal itu saya harus bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan dalam kapal. Harus bisa beradaptasi untuk bisa bekerja dan hidup selama dua bulan di kapal. Itu cukup menjadi tantangan tersendiri," bebernya.

 Beberapa tantangan seperti badai, ombak tinggi hingga suhu yang mencapai -3 derajat Celsius menjadikan pengalaman kali pertama ia rasakan. Ia harus bisa beradaptasi dengan suhu yang jauh berbeda dengan di Indonesia. Kutub Selatan, lanjutnya, sangat dingin.

 "Karena di sana es semua. Harus bisa beradaptasi dengan cuaca di sana. Kami harus pakai jaket tebal dan berlapis-lapis," paparnya.

Baca Juga: Pakar UGM Sebut WFH Tak Efektif Diterapkan 100 Persen di Semua Lini Pekerjaan, Ini Alasannya!

 Salah satu perbedaan fenomena alam yang paling mencolok adalah posisi matahari. Pada bulan Januari, Antartika masuk pada musim panas. Sepanjang hari, matahari selalu tampak dan tidak pernah tenggelam.

 "Hampir 24 jam terang terus. Jam 11 malam masih terang. Jam 12 malam matahari mulai redup, tapi masih kelihatan cahaya. Jadi nggak benar-benar malam. Jam 1 pagi di sana sudah siang lagi," katanya.

 Ia membutuhkan waktu dua minggu untuk benar-benar bisa beradaptasi dengan cuaca. Terlebih ada angin laut selatan yang menurutnya sangat dahsyat dan membuat cuaca sangat dingin.

Diungkapkan, sebelum keberangkatannya ke Antartika ada persiapan-persiapan yang ia lakukan. Khususnya terkait kesehatan. Kondisi kesehatan yang baik bagi peneliti yang akan berangkat ke Antartika menjadi suatu syarat yang harus terpenuhi.

 "Karena kalau misalnya sakit di sana ribet, karena jauh dari mana-mana. Jauh dari rumah sakit. Sangat terisolasi," ujarnya.

Pengalaman menarik lainnya yang tidak ia dapatkan di tempat lain adalah bisa melihat satwa khas Antartika seperti pinguin, paus hingga burung laut.

Hasil penelitian Ezra di Antartika adalah menemukan spesies berusia 3.500 tahun. Sampel yang diambil adalah sedimen laut dengan menggunakan metode coring, yakni teknik mengumpulkan sampel sedimen bawah laut dengan menggunakan tabung silinder berongga yang ditancapkan vertikal ke dalam sedimen untuk mengekstrak lapisan-lapisan sedimen.

  "Saya berhasil mendeteksi DNA dari hewan moluska dari sampel sedimen saya yang diambil dari Antartika. Untuk riset S3 ini, saya ambil sampel lagi yang masih berbentuk sedimen dan masih disimpan di universitas saya. Rencana akan saya mulai lagi bulan depan," jelasnya.

Baca Juga: Sosok Praka Farizal Rhomadhon Dipandang Sebagai Pahlawan Kemanusiaan, Ini Kata AWMI

 Ezra berhasil mengidentifikasi spesies-spesies moluska yang hidup ribuan tahun lalu. Sampel yang ia dapat sekitar 6 hingga 3.500 tahun lalu. Menurutnya, penelitian tentang moluska semacam itu belum pernah dikerjakan. Itu merupakan kali pertama dilakukan riset.

  Tahap selanjutnya akan dibandingkan dari segi sequence DNA. Itu untuk mendapatkan hasil apakah ada perubahan genomik saat ini dengan 3.500 tahun lalu. Selain itu, ia juga ingin mengetahui perubahan lingkungan yang terjadi selama ribuan tahun lalu.

 "Dengan kami bisa tahu perubahan lingkungan yang terjadi. Misalnya perubahan temperatur, adaptasi yang dilakukan hewan ini supaya bisa bertahan hidup. Nah, kami bisa meneliti dengan perubahan gen dan sequence DNA di situ," bebernya.

Penelitiannya akan mengetahui cara hewan laut beradaptasi dan bisa memprediksi di masa depan, apabila ada perubahan lingkungan. Penelitian itu akan dilakukan untuk studi doktoralnya.

 "Mereka ini hewan-hewan moluska, merupakan hewan di dasar laut dan mereka hewan yang sangat berpengaruh untuk ekosistem di laut. Jadi dengan kita mengetahui adaptasi mereka, dari masa ke masa bisa survive. Bisa beradaptasi sangat penting untuk keberlangsungan hidup organisme-organisme lain yang hidup di situ," jelasnya. (oso/laz)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#Ezra Timothy Nugroho #UGM #universitas gadjah mada #antartika