MAGELANG - Tak semua perjalanan sukses berjalan lurus. Bagi Siska Turniawati, jalan itu berkelok. Misalnya dari bangku kuliah keperawatan, panggung hiburan, ruang protokoler pemerintah, hingga dapur usaha bakso. Namun di setiap persimpangan, ia memilih satu hal yang sama, yakni terus melangkah.
Di balik senyumnya yang ramah dan suaranya yang lantang di atas panggung, Siska menyimpan perjalanan panjang yang tak banyak orang tahu. Bakat di dunia hiburan dalam dirinya diam-diam tumbuh sejak remaja.
Sejak SMA, Siska sudah akrab dengan panggung. Ia mengikuti berbagai lomba menyanyi, dari tingkat kota hingga provinsi, bahkan tampil di layar televisi sejak 2004. Dunia entertainment bukan hal baru baginya, ia sudah menjalaninya jauh sebelum dikenal seperti sekarang.
Baca Juga: Polres Bantul Sita 120 Botol Miras di Kretek, Penindakan Disebut dari Laporan Warga
Namun titik balik besar datang pada 2021, saat ia mengikuti ajang pencarian bakat Rising Star. Dari sana, ia tak hanya membawa mimpinya sendiri, tetapi juga nama daerah. "Waktu itu dari wilayah Kedu cuma saya sendiri. Alhamdulillah dukungannya luar biasa," kenangnya Jumat (3/4).
Dukungan itu, kata dia, bukan sekadar formalitas. Ia benar-benar merasakan bagaimana masyarakat dan para kepala daerah berdiri di belakangnya. Bahkan, ketika ditawari berbagai fasilitas oleh wali kota saat itu, Siska memilih menolak.
Keputusan tersebut justru menjadi titik yang membuka jalan lain. Sepulang dari ajang tersebut, ia mendapat tawaran menjadi pembawa acara protokoler Pemkot Magelang.
Baca Juga: Kejar Kebutuhan Stok Darah, PMI Sleman Buat Kegiatan Pekan Donor Darah
Berbekal pengalaman siaran radio selama enam tahun dan jam terbang di dunia hiburan, Siska menjawab tantangan itu. Selama tiga tahun, ia menjalani peran sebagai pembawa acara resmi pemerintah dengan disiplin tinggi.
Namun, ia menetapkan batas. Pekerjaan hiburan tidak boleh mengganggu jam kerja. "Kalau tidak bisa, ya bilang tidak bisa. Dari dulu saya belajar profesional," katanya.
Namun di balik kesibukan itu, ada satu cerita lain yang terus ia rawat, yakni usaha bakso keluarga. Usaha itu sebenarnya sudah ia mulai sejak 2015, jauh sebelum masuk ke pemkot. Bersama sang suami yang telah lebih dulu berjualan daging sapi selama puluhan tahun di Pasar Gotong Royong, Siska membangun bisnis dari nol.
Ia tak gengsi turun langsung. Dari menawarkan ke kantor-kantor secara door to door hingga mengelola pemasaran sendiri, semua dijalani dengan tangan terbuka. "Jualan itu bukan hal memalukan," tegasnya.
Baca Juga: Bapanas Sebut DMO 35 Persen Dinilai Mampu Jaga Stabilitas Minyakita, Dorong Alokasi Ditingkatkan Jadi 60 Persen
Meski begitu, jalan yang ia tempuh tak selalu mulus. Ada saja suara sumbang yang meremehkan. "Masa MC protokoler kok jualan bakso? Ada yang bilang begitu," ujarnya menirukan.
Alih-alih patah semangat, Siska justru menjadikannya bahan bakar semangat. Ia membuktikan keseriusannya dengan melengkapi seluruh legalitas usaha. Dari BPOM, sertifikasi halal, hingga merek dagang HAKI. Bahkan, ia menjadi salah satu binaan BPOM pusat di Jakarta.
Perlahan, usahanya tumbuh. Ia membagi peran dengan suami. Dirinya fokus pada pemasaran dan relasi, sementara produksi dipegang sang suami. Di saat yang sama, kariernya di dunia hiburan justru semakin melejit.
Setelah tiga tahun di pemkot, Siska memutuskan melangkah penuh di dunia entertainment. Tawaran menjadi pembawa acara berdatangan tanpa henti. Dari acara pernikahan hingga event korporat di Magelang, Jogja, hingga Semarang.
Pengalaman sebagai pembawa acara protokoler menjadi bekal penting untuk menembus dunia korporat yang lebih profesional. "Kalau dulu tidak di pemkot, mungkin saya belum sampai ke MC corporate," lontarnya.
Siska berbagi satu pengalaman yang paling membekas. Itu ketika ia menjadi MC di sebuah hotel mewah di kawasan Borobudur. Acara itu singkat, hanya sepuluh menit. Namun honor yang ia terima setara dengan dua bulan gaji saat bekerja di pemerintahan. "Itu momen wow buat saya. Dari situ saya sadar, rezeki itu tidak hanya dari satu pintu," tambahnya.
Kesadaran itu, lanjut Siska, mengubah cara pandangnya. Ia tak lagi melihat pekerjaan sebagai satu jalur lurus, melainkan sebagai jaringan peluang yang luas. Kini, Siska tak hanya dikenal sebagai pembawa acara, tetapi juga pelaku UMKM yang berprestasi.
Bahkan, ia berhasil meraih juara 2 UMKM Awards dari bupati Magelang tak lama setelah keluar dari pemkot. Di tengah semua pencapaiannya, satu hal yang tetap ia pegang adalah prinsip sederhana, yakni bekerja dengan hati, menjaga relasi, dan selalu berpikir positif. (aya/eno)