Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jejak Usmar Ismail dalam Membangun Perfilman Indonesia

Bahana. • Selasa, 31 Maret 2026 | 13:22 WIB
Umar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia (laman FFI).
Umar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia (laman FFI).
Nama Usmar Ismail tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perfilman Indonesia. Ia dikenal sebagai Bapak Perfilman Indonesia karena kontribusinya yang besar dalam membangun fondasi industri film nasional. Bagi Usmar, film bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan gagasan, identitas, dan realitas kehidupan bangsa Indonesia.

Usmar Ismail lahir pada 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatra Barat. Sejak muda, ia telah menunjukkan minat besar terhadap dunia seni, khususnya sastra dan teater. Ia sempat menempuh pendidikan di Yogyakarta dan aktif dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Ketertarikannya pada dunia cerita dan ekspresi membuatnya terlibat dalam kelompok sandiwara, yang kemudian menjadi pintu masuknya ke dunia perfilman.

Karier Usmar di dunia seni bermula dari teater dan penulisan naskah. Ia dikenal sebagai sosok yang kritis dan memiliki pandangan kuat terhadap kondisi sosial masyarakat. Pengalaman ini membentuk gaya penceritaannya yang realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari panggung teater, Usmar mulai melangkah ke dunia film yang saat itu masih dalam tahap perkembangan di Indonesia.

Baca Juga: Gelombang Rossby Picu Penumpukan Awan Hujan di DIY, BMKG Minta Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem 

Dilansir dari laman Festival Film Indonesia (FFI), tonggak penting dalam perjalanan perfilman nasional ditandai melalui film Darah dan Doa (1950) yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Film ini diproduksi melalui perusahaan yang ia dirikan, yakni Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Karya tersebut dianggap sebagai film nasional pertama karena dibuat oleh sineas Indonesia dengan sudut pandang dan cerita yang merepresentasikan pengalaman bangsa sendiri.

Selain Darah dan Doa, Usmar Ismail juga menghasilkan sejumlah karya penting lainnya seperti Lewat Djam Malam dan Tiga Dara. Film-filmnya dikenal memiliki kedalaman cerita, karakter yang kuat, serta keberanian dalam mengangkat realitas sosial. Ia tidak ragu menyuarakan kritik terhadap kondisi masyarakat melalui karya-karyanya, menjadikan film sebagai alat refleksi sosial.

Kontribusi Usmar Ismail tidak hanya terbatas pada karya film, tetapi juga pada pemikiran dan visinya terhadap industri perfilman. Ia percaya bahwa film harus memiliki nilai dan identitas, bukan sekadar mengikuti selera pasar. Gagasannya ini kemudian memengaruhi banyak sineas Indonesia di generasi berikutnya.

Baca Juga: Joko Anwar Kembali Guncang Dunia, Film Ghost in the Cell Laku di 86 Negara Sebelum Tayang di Indonesia

Hingga kini, warisan Usmar Ismail masih terasa dalam perkembangan perfilman Indonesia. Tanggal 30 Maret yang berkaitan dengan pemutaran Darah dan Doa diperingati sebagai Hari Film Nasional. Hal ini menjadi bukti bahwa peran Usmar Ismail tidak hanya penting dalam sejarah, tetapi juga terus dikenang sebagai fondasi bagi kemajuan industri film Indonesia.

Penulis: Ferry Aditya

Editor : Bahana.
#perfilman indoesia #Usmar Ismail Award 2016