Usmar Ismail lahir pada 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatra Barat. Sejak muda, ia telah menunjukkan minat besar terhadap dunia seni, khususnya sastra dan teater. Ia sempat menempuh pendidikan di Yogyakarta dan aktif dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Ketertarikannya pada dunia cerita dan ekspresi membuatnya terlibat dalam kelompok sandiwara, yang kemudian menjadi pintu masuknya ke dunia perfilman.
Karier Usmar di dunia seni bermula dari teater dan penulisan naskah. Ia dikenal sebagai sosok yang kritis dan memiliki pandangan kuat terhadap kondisi sosial masyarakat. Pengalaman ini membentuk gaya penceritaannya yang realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari panggung teater, Usmar mulai melangkah ke dunia film yang saat itu masih dalam tahap perkembangan di Indonesia.
Baca Juga: Gelombang Rossby Picu Penumpukan Awan Hujan di DIY, BMKG Minta Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem
Dilansir dari laman Festival Film Indonesia (FFI), tonggak penting dalam perjalanan perfilman nasional ditandai melalui film Darah dan Doa (1950) yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Film ini diproduksi melalui perusahaan yang ia dirikan, yakni Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Karya tersebut dianggap sebagai film nasional pertama karena dibuat oleh sineas Indonesia dengan sudut pandang dan cerita yang merepresentasikan pengalaman bangsa sendiri.
Selain Darah dan Doa, Usmar Ismail juga menghasilkan sejumlah karya penting lainnya seperti Lewat Djam Malam dan Tiga Dara. Film-filmnya dikenal memiliki kedalaman cerita, karakter yang kuat, serta keberanian dalam mengangkat realitas sosial. Ia tidak ragu menyuarakan kritik terhadap kondisi masyarakat melalui karya-karyanya, menjadikan film sebagai alat refleksi sosial.
Kontribusi Usmar Ismail tidak hanya terbatas pada karya film, tetapi juga pada pemikiran dan visinya terhadap industri perfilman. Ia percaya bahwa film harus memiliki nilai dan identitas, bukan sekadar mengikuti selera pasar. Gagasannya ini kemudian memengaruhi banyak sineas Indonesia di generasi berikutnya.
Hingga kini, warisan Usmar Ismail masih terasa dalam perkembangan perfilman Indonesia. Tanggal 30 Maret yang berkaitan dengan pemutaran Darah dan Doa diperingati sebagai Hari Film Nasional. Hal ini menjadi bukti bahwa peran Usmar Ismail tidak hanya penting dalam sejarah, tetapi juga terus dikenang sebagai fondasi bagi kemajuan industri film Indonesia.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.