BANTUL - Jalan hidup Kwintarto Heru Prabowo tak pernah benar-benar lurus. Lahir dan besar di Gilangharjo, Pandak, Bantul, dia tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai pendidikan dan pengabdian.
Ayahnya merupakan pegawai negeri sipil di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DIy. Sementara ibunya seorang guru taman kanak-kanak yang kemudian memilih menjadi ibu rumah tangga demi mengasuh anak-anaknya.
Kwintarto adalah anak dari enam bersaudara, seluruhnya laki-laki. Kini, di usia 54 tahun, ia mengakui bahwa nilai disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab yang ditanamkan orang tua sejak kecil menjadi fondasi kuat dalam perjalanan kariernya.
Meski berasal dari keluarga PNS, jalan Kwintarto menuju status aparatur sipil negara tidak instan. Ia justru sempat menikmati dunia swasta.
Sejak SMP hingga kuliah, dia terbiasa bekerja membantu usaha percetakan keluarga. Dari mesin stensil manual, mesin ketik berat, hingga komputer generasi awal, dia ikut tumbuh bersama perubahan teknologi.
Kebiasaan bekerja keras itu berlanjut saat ia menempuh pendidikan S1 Ilmu Pemerintahan di Universitas Diponegoro. Ia lulus pada 1996. Namun di tengah pendidikannya, dia sempat memutuskan berhenti kuliah selaam 14 bulan. Hal ini lantaran Kwintarto memutuskan menikah pada 1993 dan memiliki anak setahun kemudian.
Namun dorongan ibu dan dosen pembimbing membuatnya kembali menuntaskan skripsi. “Pesan ibu itu sederhana, tapi menancap kuat. Orang tua akan lega kalau anaknya lulus kuliah,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (27/2).
Setelah lulus, Kwintarto sebenarnya belum berminat menjadi PNS. Dunia swasta kala itu dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Namun dorongan keluarga terutama sang ibu akhirnya mengubah keputusannya. Setelah sempat gagal pada seleksi 1997, dia diterima sebagai PNS pada 1998.
Penempatan pertamanya di Kantor Sosial Politik (Sospol) Bantul, cikal bakal Kesbangpol. Di sinilah karakter kerjanya mulai menonjol. Saat Pemilu 1999 pemilu pertama era reformasi, Kwintarto dipercaya mengelola data perolehan suara karena kemampuannya di bidang komputer. Selama delapan hari rekapitulasi, dia nyaris tak pulang. Lembur hingga Subuh, lalu kembali bekerja.
Kepercayaan pimpinan membawanya pindah ke Sekretariat DPRD Bantul pada 2001. Setahun kemudian, ia menjadi kepala Subbagian Humas, Protokol, dan Pelayanan Aspirasi Masyarakat. Di masa reformasi yang penuh dinamika, ia dan tim menjadi jembatan antara masyarakat dan DPRD, termasuk dalam penanganan aspirasi dan unjuk rasa.
Bersama tim, Kwintarto menggagas terobosan komunikasi publik melalui program talk show DPRD di televisi lokal. Program tersebut mencatat rating tertinggi di antara TV lokal Jogjakarta kala itu. Keberhasilan itu kembali ia tekankan sebagai hasil kerja kolektif, bukan individu.
Pada 2008, setelah sekitar satu dekade mengabdi, Kwintarto dipercaya menjadi kepala bagian. Ia pernah memimpin tiga bagian berbeda di Setwan, pengalaman yang memperkaya pemahamannya tentang tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.
Kariernya berlanjut menjadi camat Sewon pada 2014. Di wilayah ini, bersama perangkat kecamatan dan masyarakat, ia mengantarkan Bantul meraih prestasi lomba desa hingga tingkat nasional. Prestasi tersebut kembali menegaskan kemampuannya membangun kerja tim lintas sektor.
Tahun 2017, ia ditunjuk sebagai pelaksana tugas kepala Dinas Pariwisata Bantul. Tantangan besar menantinya. Sebab pendapatan retribusi pariwisata stagnan selama bertahun-tahun.
Melalui intensifikasi pengawasan, perbaikan sistem, dan penguatan kinerja tim lapangan, retribusi melonjak signifikan. Dari sekitar Rp 12,8 miliar menjadi Rp 17,3 miliar. Lalu menembus Rp 25 miliar, bahkan mencapai puncak hampir Rp 32 miliar sebelum pandemi. “Kalau bicara prestasi, itu kerja tim. Saya hanya mengorkestrasi,” tegasnya.
Di tengah kesibukan, Kwintarto menuntaskan pendidikan S2 Ilmu Pemerintahan. Meski lulus pada 2018, penyesuaian administrasi gelarnya baru rampung pada 2025. Baginya, pendidikan S1 dan S2 Ilmu Pemerintahan menjadi pelengkap sekaligus penguat praktik birokrasi yang telah ia jalani di lapangan.
Pada Maret 2024, Kwintarto dipercaya menjabat kepala Disdukcapil Bantul hingga 2028. Di instansi pelayanan dasar yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, ia kembali menegaskan prinsip hidupnya sejak muda. Yakni bekerja maksimal, di posisi apa pun, dengan siapa pun.
“Jabatan itu amanah. Tapi keberhasilan selalu milik bersama,” ujarnya.
Perjalanan panjang Kwintarto Heru Prabowo menjadi bukti bahwa kesuksesan birokrasi tidak lahir dari jalan pintas. Melainkan dari kerja keras, ketekunan, dan kemampuan membangun tim. “Kerja sungguh-sungguh tak pernah sia-sia,” sebutnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita