Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Disangka! Batok Kelapa ‘Murah’ Ini Laris di Eropa, Berkat Mahasiswa UMY yang Ubah Jadi Energi Hijau

Fahmi Fahriza • Sabtu, 17 Januari 2026 | 23:00 WIB

 

TEMBUS PASAR GLOBAL: Mahasiswa UMY berhasil membawa briket berbahan arang tempurung kelapa ke pasar internasional.
TEMBUS PASAR GLOBAL: Mahasiswa UMY berhasil membawa briket berbahan arang tempurung kelapa ke pasar internasional.

RADAR JOGJA - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Muhammad Aryo Lambang berhasil membawa briket berbahan arang tempurung kelapa menembus pasar internasional.

Produk energi ramah lingkungan yang berangkat dari usaha keluarga tersebut kini diminati sejumlah negara di Eropa dan Asia.

Berangkat dari kepeduliannya terhadap melimpahnya limbah tempurung kelapa di Indonesia, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan UMY angkatan 2023 ini melihat potensi besar bahan tersebut untuk diolah menjadi sumber energi alternatif.

Tempurung kelapa diketahui memiliki kandungan karbon tinggi, berkisar antara 60 hingga 70 persen, sehingga mampu menghasilkan panas yang stabil dengan daya bakar hingga beberapa jam.

"Selama ini batok kelapa sering dianggap tidak bernilai. Padahal di luar negeri, khususnya Eropa, justru dicari karena termasuk sumber energi hijau," ujar Aryo, Sabtu (17/1/2026).

Inovasi tersebut sejatinya berangkat dari usaha keluarga yang telah dirintis kedua orang tuanya sejak sekitar 2015-2016, ketika ia masih duduk di bangku SMP.

Kala itu, orang tuanya memproduksi arang tempurung kelapa dan memasoknya ke pabrik-pabrik briket.

"Awalnya bapak dan ibu saya hanya memproduksi arang tempurung kelapa, lalu dikirim ke pabrik-pabrik briket. Dari situ saya mulai belajar, ikut riset, dan terpikir untuk memproduksi briket sendiri," ungkapnya.

Sebagai generasi penerus, laki-laki asal Brebes, Jawa Tengah ini ingin usaha keluarganya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Meski saat ini masih memproduksi dengan peralatan manual dan skala terbatas, ia optimistis usahanya bisa tumbuh lebih besar.

Baca Juga: Pesawat ATR 42-500 IAT Dipastikan Hilang Kontak di Maros, Tim SAR Fokus Pencarian di Area Pegunungan Kapur Bantimurung

"Harapannya ke depan ada mitra atau pihak-pihak yang mau bekerja sama untuk memfasilitasi dan mengembangkan bisnis ini bersama-sama," jelasnya.

Kini, produk briket tempurung kelapa karya Aryo telah menembus sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Swiss, Denmark, dan Inggris.

Sementara di kawasan Asia, pasar terbesarnya berasal dari Jepang dan Korea, serta beberapa negara di Timur Tengah.

Di Eropa, briket ini banyak digunakan sebagai bahan bakar memasak dan kebutuhan restoran, khususnya untuk aktivitas grill.

Sementara di Timur Tengah, arang tempurung kelapa dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengharum ruangan atau bukhur hingga kebutuhan shisha.

"Di Eropa, kesadaran terhadap energi hijau sudah sangat tinggi. Itu yang membuat peluang pasarnya jauh lebih besar dibandingkan di dalam negeri," terangnya.

Namun demikian, ia mengakui proses ekspor bukan perkara mudah. Hingga kini, Aryo masih menggandeng sejumlah mitra dan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan administrasi, regulasi, dan perpajakan.

"Secara regulasi dan administrasi itu cukup rumit. Kami masih bekerja sama dengan beberapa PT untuk bisa memasarkan produk ini ke luar negeri," katanya.

Diakuinya, dibandingkan arang kayu biasa, briket tempurung kelapa memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari minim asap dan bau, hingga daya tahan panas yang lebih lama.

"Kalau digunakan untuk makanan, baunya tidak sangit. Asapnya juga minim, dan panasnya lebih tahan lama," tutur Aryo.

Selain itu, kandungan karbon yang tinggi membuat arang tempurung kelapa mulai dilirik untuk kebutuhan lain, termasuk industri berbasis karbon.

"Sekarang bahkan pabrik sepeda mulai melirik karbon dari arang tempurung kelapa," tambahnya.

Dalam proses produksi, kualitas menjadi aspek utama yang dijaga. Arang harus melalui pengujian laboratorium, mulai dari kadar air, kadar karbon, kadar besi, hingga residu abu dan asap.

Proses pembakaran sendiri memakan waktu panjang dan penuh risiko. Dalam satu kali pembakaran, dia menggunakan media kolam berukuran besar yang mampu menampung 3-4 ton tempurung kelapa, dengan waktu pembakaran minimal 24 jam saat kemarau dan bisa mencapai 30 jam saat musim hujan.

"Kalau musim hujan, tantangannya lebih berat. Kita harus menjaga api terus supaya tidak habis menjadi abu," ungkapnya.

Selanjutnya, untuk bahan baku, tempurung kelapa diperoleh dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi.

Aryo menyebut tempurung kelapa dari Sumatera dan Sulawesi cenderung lebih tebal dan menghasilkan kualitas arang yang lebih baik.

"Setiap daerah punya karakteristik sendiri. Tapi semuanya kami olah dengan prosedur yang sudah ada supaya kualitasnya tetap terjaga," sambungnya.

Inovasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Ilmu Pemerintahan tidak hanya belajar politik dan birokrasi, tetapi juga didorong untuk peka terhadap isu lingkungan dan energi berkelanjutan.

"Di Ilmu Pemerintahan kami juga belajar soal tata kelola lingkungan dan energi hijau. Itu yang mendorong saya untuk berinovasi," imbuhnya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#pasar internasional #ekspor #mahasiswa UMY #pasar eropa #pasar global #briket arang kelapa #batok kelapa