JOGJA - Di saat banyak warung burjo bertransformasi menjadi warmindo. Burjo Murni di Jalan Tunjung Baru, Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja milik Surja masih setia menjajakan bubur kacang ijo (burjo) khas Kuningan, Jawa Barat. Ternyata, Surja memilih alasan khusus untuk mempertahankannya.
Dandang-dandang berisi bubur kacang hijau dan ketan hitam masih berjejer rapi di warung burjo milik Surja. Bau khas santan juga tercium tajam. Tidak ada etalase yang menyajikan telur balado, orek tempe, maupun sarden.
Burjo Murni diketahui merupakan satu-satunya warung kuliner khas Kuningan di Jogja yang masih mempertahankan burjo sebagai menu utama. Di saat banyak burjo beralih mengganti nama sebagai warmindo, lalu menjajakan nasi atau mi instan.
Namun Surja memilih mempertahankan menu burjo yang sudah dijualnya sejak 1981. Hal ini dilakukan untuk menegaskan ciri khas kampung halamannya di perantauan. Dia pun mengaku enggan untuk mengikuti arus.
“Kalau warmindo itu yang baru-baru dan jualannya telur-teluran, saya dari dulu pokoknya tetap burjo,” ujar Surja ditemui di warungnya Selasa (13/1).
Ingatan Surja juga masih tajam. Dia tidak langsung menjual burjo di warung miliknya. Sempat berjualan keliling di kampus-kampus. Per mangkoknya dihargai Rp 100. Tiga tahun berjualan pindah-pindah, dia akhirnya memilih membuka warung di Jalan Tunjung sekitar 1984.
Warung Burjo Murni, sejak dulu menjadi jujukan mahasiswa untuk mengenyangkan perut. Seiring berjalannya waktu banyak pelanggan yang sudah dewasa dan berkeluarga. Namun tetap setia menjadi pelanggannya.
Terbukti sampai saat ini, pelanggannya dari masa lalu tetap menyembatkan datang saat berkunjung ke Jogja. Pelanggan dari luar Jogja ini lah yang turut menjadi alasan Surja untuk mempertahankan menu burjo.
“Dari dulu sampai sekarang ada pembeli dari Wonogiri dan Prambanan yang rela jauh-jauh datang ke sini,” jelas laki-laki berusia 50 tahun ini.
Banyak beralihnya warung burjo khas Kuningan menjadi warmindo ternyata membawa berkah bagi Burjo Murni. Menurut Surja, warung burjo miliknya kini dinobatkan sebagai satu-satunya yang menjual burjo khas Jawa Barat. Alhasil banyak pembeli yang menjadikan warungnya sebagai jujukan.
Dalam sehari, dia mampu menghabiskan sebanyak tiga dandang burjo atau sekitar 12 kilogram kacang hijau dan ketan hitam. Adapun satu mangkok burjo biasa kini dihargai Rp 8.000. Jika ditambah dengan susu, pembeli hanya perlu menambah RP 1.000.
“Saya sampai sekarang dan tahun-tahun mendatang tetap akan konsisten mempertahankan burjo, kalau yang lain biarkan usahanya masing-masing,” sebutnya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita