Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Ketua Yayasan Asram Hafidh Asrom, Tak Malu Disebut Sales, Pernah Jual Koran dan Beras

Fahmi Fahriza • Minggu, 4 Januari 2026 | 07:00 WIB

 

PANTANG MENYERAH: Hafidh Asrom dikenal sebagai pengusaha, pendidik dan seorang senator selama empat periode.
PANTANG MENYERAH: Hafidh Asrom dikenal sebagai pengusaha, pendidik dan seorang senator selama empat periode.

RADAR JOGJA - Sosok Hafidh Asrom lahir di Desa Kelet, Keling, Jepara. Dia pun tumbuh di lingkungan keluarga petani dan saudagar kopra (daging kelapa kering). Namun siapa sangka, namanya semakin dikenal sebagai pengusaha, pendidik, dan senator selama empat periode.

Pria kelahiran Jepara, 23 November 1957 silam ini mengaku, sejak kecil dua tidak hanya belajar di ruang kelas madrasah ibtidaiyah. Tetapi juga di sawah, lumbung padi, dan pasar. Ia terbiasa membantu orang tua mengelola hasil panen. Dari situlah ia belajar arti kerja keras dan kepercayaan. 

 Baca Juga: Hujan Deras Disertai Angin Kencang Terjadi di Gunungkidul sejak Kamis, 11 Kalurahan di Lima Kapanewon Ikut Terdampak

"Saya tidak pernah menolak jika dimintai tolong orang lain. Saya merasa itu amanah," katanya Jumat (2/1).

Namun menurutnya, pendidikan pesantren menjadi fase penting dalam hidupnya. Di Pesantren Al Mu’thi, Kudus, dia ditempa dalam kedisiplinan, kesederhanaan, dan keikhlasan. Ia juga diperkenalkan kepada ulama-ulama besar. Seperti KH Basyir di Kudus dan KH Hamid di Pasuruan. 

"Pesantren adalah rumah kedua saya. Dari sana saya belajar menjalani hidup dengan hati yang ikhlas dan penuh syukur," ujarnya.

Ketua Badan Pengelola dan Pelaksana Harian (BPPH) Al Azhar Yogyakarta sekaligus ketua Yayasan Asram itu mengaku, hidupnya banyak digerakkan oleh keyakinan. Dia menekankan, bahwa setiap hal yang dikerjakan harus dilakukan dengan serius dan semaksimal mungkin. 

"Saya background-nya pondok pesantren, jadi hampir di atas 50 persen tidak dengan teori. Tapi dengan keyakinan dan doa," tuturnya. 

Saat kuliah di Yogyakarta, jalan hidupnya mulai berubah. Dengan nyaris tanpa modal, dia memberanikan diri menjadi pemasar. Dia menjual berbagai hal, mulai dari mebel, batik, koran, majalah, beras, bahkan berlian. Dia tak malu disebut sales. 

 

 

Selain itu, dia juga sempat menjadi loper koran dan distributor Majalah Prisma, media bergengsi yang membahas isu ekonomi, sosial, dan budaya. Di saat yang sama, dia turut aktif di Majalah Gelora Mahasiswa (Gema) dan mengenal dunia jurnalistik dari ruang redaksi hingga pemasaran.

 

Berbagai lika-liku dan pengalaman hidup tersebut secara signifikan akhirnya membentuknya tumbuh sebagai seorang entrepreneur yang tangguh. "Modal terbesar itu keyakinan, doa, keinginan belajar, kemauan kuat, kerja keras, tahan banting, kreativitas, dan kemampuan komunikasi," ucapnya.

Dalam perjalanan hidupnya, Hafidh menemukan prinsip keseimbangan. Dia meyakini, usaha, ibadah, aktivitas sosial, dan kehidupan keluarga harus berjalan harmonis. "Bagi saya, hidup harus ada keseimbangan. Seimbang antara kegiatan ekonomi dan sosial, antara sisi pribadi dan masyarakat," tegasnya.

Mimpinya di pesantren untuk melihat lembaga pendidikan yang modern, bersih, dan tetap berpegang pada tradisi akhirnya terwujud dalam Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS). 

Kini, dalam kurun 2005–2025, AYWS sendiri telah berkembang menjadi belasan unit sekolah dari tingkat KB-TK, SD, SMP, SMA, serta boarding school di Sleman dan pesantren di Gunungkidul.

Di ranah publik, Hafidh juga dikenal sebagai senatorpreneur. Dia memadukan jiwa wirausaha dengan pengabdian politik. Dia terpilih sebagai anggota DPD RI empat periode sejak 2004 hingga 2024. Secara garis besar, dia aktif memperjuangkan isu pendidikan, ekonomi masyarakat, dan pembangunan daerah DIY.

 

Namun di balik seluruh perjalanan itu, Hafidh tetap menempatkan mimpi dan doa sebagai bahan bakar hidupnya.

Sepengalamannya saat menjadi mahasiswa, dia pernah memasang kalender bergambar Kakbah. Itulah yang menjadi salah satu proyeksi dan manifestasi untuk bisa berangkat haji.

 

"Enam bulan setelah itu, Alhamdulillah berkah dari Allah saya bisa berangkat haji," katanya. 

 

Baginya, itu bukti bahwa mimpi harus diperjuangkan dan diimplementasikan. Kini, di usia yang matang, Hafidh merasakan ketenangan atas jalan hidup yang telah ditempuh dan dipilihnya. "Yang mendominasi saya itu petunjuk dari Allah. Saya sangat menikmati hidup saya hari ini," ujarnya. (iza/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#jepara #sales #AYWS #Ketua Yayasan Asram Hafidh Asrom #Yayasan Asram #Hafidh Asrom #entrepreneur #Al Azhar Yogyakarta World Schools #Senator