RADAR JOGJA - Adit Setiawan termasuk pengusaha yang moncer di usia muda. Saat ini umurnya baru 37 tahun. Namun berbagai unit usaha sukses dipegangnya. Adit membagi kunci sukses sebagai wirausaha. Salah satunya, konsisten menerapkan sikap disiplin.
“Dalam menjalankan usaha, disiplin sangat menentukan berkembang atau tidaknya bisnis,” ujar Adit dalam sebuah perbincangan saat menerima silaturahmi pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY di kantornya di kawasan, Minggir, Sleman, pada Rabu (24/12).
“Disiplin menepati janji. Disiplin dalam pembayaran kewajiban, serta disiplin dalam pengiriman produk tepat waktu. Dari situlah kepercayaan dibangun,” lanjut pemilik Pabrik Plafon PVC Indofon PT Plafon Indonesia Semesta ini.
Di depan Ketua PWI DIY Hudono, Adit menceritakan lika-liku dan perjalannya menjadi pengusaha. Jiwa wirausaha tumbuh sejak belia. Ketika mengikuti orang tuanya berdagang. Pengalaman itu membentuk kemampuannya membaca peluang. “Menyusun strategi pemasaran, dan menilai prospek sebuah usaha,” katanya.
Sebelum menjadi pengusaha, tiga tahun setelah lulus dari SMAN 1 Godean, Sleman, Adit sempat menjadi tentara. Dia berdinas sebagai anggota TNI AD. Karir militer dilakoni selama 12 tahun. Dari 2010 hingga 2022. “Saya memutuskan pensiun dini. Saya masuk tentara dari jalur bintara, bukan perwira,” kenang alumni Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Semarang ini.
Pengalaman sebagai tentara mengajarkan disiplin tinggi menjadi bekal menjalankan usaha. Adit merintis usaha plafon PVC pada 2018. Momentum penting datang ketika rekonstruksi pascagempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Melalui sistem pengadaan pemerintah secara elektronik (e-katalog), produk Indofon cepat dikenal. Terutama di kalangan kontraktor rekanan pemerintah.
Plafon PVC digunakan secara luas. Mulai perkantoran, sekolah, rumah sakit, kantor kepolisian, hingga Rumah Sakit Internasional Mandalika dan kawasan Sirkuit Mandalika. Plafon PVC dipilih karena dinilai lebih aman saat gempa. Materialnya ringan. Tak mengandung asbes maupun timbal. Keunggulan itu sejalan dengan kebijakan pemerintah menerapkan standar bangunan tahan gempa.
Permintaan pasar terus meningkat. Dari proyek rekonstruksi Lombok dengan nilai ratusan miliar rupiah tersebut, Adit memperoleh keuntungan signifikan. Hasilnya kemudian diinvestasikan kembali. Memasuki 2019, dia membangun pabrik plafon PVC pertama di Bogor, Jawa Barat. Nilai investasinya Rp 20 miliar.
“Semua berasal dari hasil usaha tanpa pinjaman pihak lain,” tutur lulus Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini.
Seiring meningkatnya permintaan, pertengahan 2022 Adit membuka pabrik baru di kawasan industri Tuksono, Sentolo, Kulon Progo. Saat ini, PT Indonesia Plafon Semesta mengelola sedikitnya 10 merek plafon PVC nasional. Antara lain Indofon, Plafindo, Jaguar, Fonda, Viston, Inco, Garuda, dan Aveon. Semua diproduksi di pabrik milik Adit sendiri.
Tak hanya sukses mengembangkan usaha, Adit juga aktif di berbagai organisasi pengusaha dan sosial. Baru-baru ini dia terpilih secara aklamasi sebagai ketua Ikatan Alumni SMAN 1 Godean (IKA SMAGO) Masa Bakti 2025-2030.
Dia juga menjabat ketua bidang kerja sama internasional Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DIY, ketua bidang industri dan perdagangan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) DIY, dan ketua bidang industri pangan Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI) DIY. Adit juga pernah menjabat ketua umum HIPMI Sleman dan ketua komite hubungan internasional Kadin DIY. (kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita