YOGYAKARTA – Yogyakarta memang istimewa, selalu punya cara sendiri untuk memeluk ingatan. Di sebuah sudut yang tenang, tak jauh dari hiruk pikuk kota, sebuah rumah di kawasan Museum Diponegoro bertransformasi menjadi monumen hidup.
Bukan untuk mengenang pahlawan perang, melainkan riwayat panjang seorang empu musik, Andi Bayou, yang memilih pulang, kembali kepada akar, setelah puluhan tahun malang melintang di gelanggang industri musik nasional.
Di sanalah, atmosfer magis itu tercipta. Sejak Kamis (4/12) hingga Minggu (7/12) lalu, Pameran Arsip ‘Beyond The Notes – Andi Bayou’ membuka ruang perjumpaan unik: antara manusia, bunyi, dan perjalanan batin yang jarang terkuak di balik megahnya panggung hiburan.
Masuk ke dalam museum, pengunjung seolah tak sekadar melihat artefak. Bukan cuma alat musik, catatan kusam, atau pita rekaman tua yang mulai memudar warnanya. Lebih dari itu, mereka diajak menyelami ruang dalam seorang komposer; sebuah ruang yang penuh kegelisahan, pencarian jati diri, kerja panjang tanpa lelah, dan keyakinan teguh bahwa musik jauh melampaui sekadar rentetan nada. Ia adalah perjalanan menemukan ruh.
Di atas meja kayu yang memancarkan nostalgia, tersusun rapi harta karun keluarga. Ada piano kuno warisan nenek dari tahun 1920 yang usianya seabad lebih namun masih berfungsi prima.
"Ini sangat monumental, piano peninggalan nenek saya, usia 100 tahun lebih masih berfungsi sangat baik. Dengan alat ini pula saya belajar bermain piano," ungkap Andi, mengenang masa kecilnya.
Di sebelahnya, kontras dengan piano klasik, teronggok keyboard dan gitar yang pernah ia gunakan untuk 'mengisi nyawa' dalam rekaman band-band besar macam Sheila on 7 atau Kangen Band. Jejak atlet bulutangkis masa remaja pun tak luput dipajang, dari tulisan lirik lagu yang berserak hingga piagam dan piala. Semuanya bercerita tentang persimpangan jalan seorang anak dari keluarga dokter yang memilih jalur sunyi, menantang arus.
Raden Andi Haryo Setiawan, nama lengkapnya, lahir di Kota Gudeg pada 20 Agustus 1971. Dibesarkan dalam lingkungan akademisi medis, ia justru memilih bius yang berbeda: musik. Keputusan nekat yang membawanya hijrah ke Jakarta, memulai semuanya dari nol, dan akhirnya menjadi salah satu tokoh kunci di balik layar industri musik Indonesia.
Sempat mencuri perhatian lewat band Bayou di era 90-an, namanya kian melambung sebagai produser dan penata musik jempolan. Iwan Fals, Sheila on 7, Judika, Nicky Astria, Agnez Mo, hingga deretan jebolan pencarian bakat nasional pernah merasakan sentuhan dingin tangannya.
Namun, pameran ini bukan sekadar merayakan cuan dan popularitas. Andi ingin menunjukkan denyut ruang batin yang mengiringi setiap proses kreatif, bahwa di balik nada yang enak didengar, ada tetes keringat dan pergulatan eksistensi.
Kolaborasi apik dengan Prodi Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta, yang dipandegani oleh Dr. Mikke Susanto, melahirkan sebuah diksi menarik: setiap nada dalam karya Andi adalah ‘jejak batin, sebuah doa’.
"Di museum kecil itu, penjelasan tersebut menemukan bentuknya, mulai instrumen yang menua bersama perjalanan, master rekaman yang pernah melintasi batas waktu, hingga catatan harian yang mencatat arah hidup yang mengubah Mas Andi," papar Mikke Susanto, Penanggung Jawab Pameran.
Pameran ini sekaligus menjadi penanda 35 tahun perjalanan musikal Andi Bayou. Sebuah lintasan yang tak hanya berkutat di dapur rekaman lokal, tapi juga menembus panggung global, diundang langsung oleh Roland di Hamamatsu Jepang, hingga hadir di pameran musik terbesar dunia di Frankfurt, Jerman, dan NAMM Show di Anaheim, Amerika Serikat.
Namun, seperti nada yang selalu kembali pada akarnya, Andi memilih purna tugas di Jakarta dan pulang ke Jogja. Menemukan makna lain dari musik yang ia geluti: kesunyian, ketulusan, dan pencarian jati diri.
Keputusan inilah yang kemudian melahirkan Andi Bayou Museum, museum musik pribadi pertama di Indonesia yang diinisiasi langsung oleh sang seniman.
Di museum itu, narasi terasa utuh. Ada studio rekaman interaktif, ruang pertunjukan mini untuk musisi muda, dan zona edukasi sejarah musik Indonesia. Semua dirangkum dalam satu kutipan bijak di dinding:
“Musik bukan hanya tentang nada. Ia adalah perjalanan, tentang bagaimana manusia menemui dirinya di antara bunyi, waktu, dan ketulusan.”
Para pengunjung tak hanya pulang dengan pengetahuan baru tentang sosok musisi legendaris. Mereka pulang dengan sebuah renungan mendalam: bahwa di balik karya agung, selalu ada manusia yang terus mencari, jatuh bangun, keluar dari zona nyaman, lalu menemukan 'rumah' dalam dirinya sendiri.
Pameran yang telah usai pekan lalu ini sendiri mendapat apresiasi tinggi dari berbagai tokoh permuseuman dan seniman Jogja, termasuk Ketua Barahmus DIY Dr. Hajar Pamadhi, penyanyi jazz Iga Mawarni, dan maestro lukis Hani Santana, yang hadir saat pembukaan.
Editor : Heru Pratomo