KULON PROGO - Di tangan Benny Triono, 50, limbah garmen berubah menjadi peluang ekonomi.
Warga Padukuhan Banggan, Sukoreno, Sentolo ini sudah 20 tahun konsisten mengolah kain perca menjadi produk bernilai tinggi, menembus pasar ekspor, sekaligus membuka ruang kerja bagi puluhan tetangganya. Semua ini tertuang, dari usahanya yang telah dijalankan sejak 2003 silam.
"Dulu mulai usaha dari menjahit kain perca menjadi tas, pemasarannya di Pasar Beringharjo," ucap Benny, Jumat (5/12/2925).
Baca Juga: Pulang dari Eropa Ngegas di Pasar Sapi Siyono, Cara Pebalap Veda Ega Pratama Jaga Skill dan Feeling
Benny menyampaikan, usahanya berawal dari rasa penasaran belaka. Sebelum mulai usaha, dia sempat membeli beragam motif kain.
Dengan kain baru, Benny memotongnya menjadi beragam bentuk kemudian dijahit menyatu.
Alhasil, muncul motif unik dari penggabungan berbagai kain yang berbentuk produk selimut bantal.
Baca Juga: Minggu Depan PSS Sleman Uji Coba Lawan Garudayaksa FC
Produk itu, lantas menarik hati sahabatnya. Dari situlah, sahabatnya memberikan saran agar Benny memanfaatkan kain limbah dari produksi garmen. Tentu, saran dari sahabatnya dinilai lebih menguntungkan.
Melihat potensi itu, Benny mulai membangun bisnis pengolahan kain perca bernama Ben's Perca.
Berani berinovasi dan membaca peluang, membuat produknya mulai diminati banyak toko. Lantaran, produknya cukup otentik dan awet. Hal itu, berkaitan dengan inovasi yang dilakukan Benny.
Selama membuat produk, dirinya melakukan riset pengolahan limbah. Tujuannya, memastikan produknya lebih awet, mulai dari penjahitan hingga bahan.
Tak jarang, inovasinya juga berkaitan dengan perpaduan antar motif kain perca. Awalnya, broduknya hanya menampilkan batik.
Namun, inovasinya mengarah pada pemanfaatan kain perca motif lain. Alhasil, perpaduannya dapat mengikuti perkembangan pasar dan zaman.
Baca Juga: Striker PSIM Jogja Nermin Haljeta Santai Sikapi Jeda Liga: Ada Turnamen Bagus, Tidak Ada Juga Oke
Berkat kerja kerasnya, produknya mampu dikenal dan dipasarkan ke beberapa wilayah. Bahkan rutin di ekspor ke mancanegara, tiga kali dalam setahun.
"Sekarang bisa memberdayakan sekitar 20 pekerja yang merupakan warga sekitar," ungkapnya.
Sisi inspiratif dari Benny juga berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat. Di rumahnya, Benny mempekerjakan puluhan orang untuk menjahit kain perca.
Hal ini, mampu mengangkat perekonomian masyarakat sekitar.
Menurutnya, dalam membuat usaha perlu keyakinan khusus dan pantang menyerah. Namun, khusus di era global ini, tantangannya berupa inovasi dan mengambil peluang pasar.
Ia mencontohkan kain perca sebagai limbah merupakan peluang pasar yang jarang dilirik. Sedangkan, diversifikasi produk merupakan inovasi untik bertahan di era global. (gas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita