Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Ismail, Rangkai Bodi Motor Bekas Jadi Robot Raksasa Dikerjakan di Playen, Dikirim hingga Korea Selatan

Yusuf Bastiar • Sabtu, 6 Desember 2025 | 15:30 WIB
Ismail sedang rehat di bengkel seninya itu.
Ismail sedang rehat di bengkel seninya itu.

 

 

 

 

GUNUNGKIDUL - Di sebuah bengkel sederhana di sudut Kalurahan Getas Kapanewon Playen, Gunungkidul aroma besi dan cat menyatu dengan suara gesekan mesin gerinda. Di bawah atap seng yang mulai kusam, berdiri sosok robot raksasa setinggi tiga meter.

 

Tubuhnya tersusun dari potongan limbah bodi motor yang dipadukan sedemikian rupa hingga tampak gagah seperti baru keluar dari film fiksi ilmiah. Di tengah jajaran robot itu, seorang pria duduk santai berkaus abu-abu, tangan kirinya memegang gelas kopi yang tinggal separo.

Dialah Ismail (46), seniman pematung yang memilih jalan berbeda. “Awalnya pematung biasa, pakai semen atau kayu,” tuturnya sambil tersenyum kecil saat ditemui pada Jumat, (5/12).

 Baca Juga: Striker PSIM Jogja Nermin Haljeta Santai Sikapi Jeda Liga: Ada Turnamen Bagus, Tidak Ada Juga Oke

Perjalanan seninya berubah ketika ia menemukan potensi lain dari bahan yang tak banyak dilirik orang, limbah plastik bodi motor. Dari kepingan yang tak terpakai itulah ia membangun dunia baru, sebuah semesta robot logam dengan karakter kuat, detail rumit, dan postur gagah.

 

Sudah lebih dari satu dekade Ismail berkarya dengan material tak lazim ini. Tangannya lihai menyusun satu per satu potongan, membentuk torso, kaki, hingga wajah robot yang futuristik. “Saya belajar otodidak. Di Wonosari banyak seniman. Saya lihat, saya coba bikin, lama-lama bisa,” ujarnya.

 Baca Juga: PSS Sleman Beri Kelonggaran kepada M. Fahri yang Tertahan di Kampungnya Aceh, Ansyari Lubis Doakan sang Kiper Tetap Sabar

Ia mengaku, darah seninya mengalir dari sang ayah yang merupakan pelukis. Kemudian, menurun kepadanya dalam wujud patung robot. Karya Ismail tak hanya memikat pasar lokal.

 

Pesanannya pernah terbang jauh hingga Korea Selatan melalui jasa agen. Saat pandemi Covid-19 melanda, ia mendapat pesanan ambisius, 100 robot setinggi empat meter. Namun pembatasan aktivitas oleh pemerintah memotong langkahnya. “Baru jadi 30 langsung saya kirim pakai kontainer, mumpung bisa. Akhirnya proyeknya enggak selesai,” kenangnya. 

 

Indonesia pun menjadi pasar tetap baginya. Robot-robot buatannya menghuni area wisata, hotel, atau perusahaan yang ingin menarik perhatian lewat instalasi seni berukuran raksasa. Malaysia pernah merasakan hasil tangannya. Kini, ia sedang menyelesaikan lima robot pesanan sebuah perusahaan wisata di Bangka Belitung serta pesanan lain dari Pacitan.

 Baca Juga: Material Longsor di Secang, Magelang Timpa Pipa Saluran Air, Dua Dusun Krisis Air Bersih

Meski sempat vakum empat tahun karena pesanan menurun, Ismail kembali menghidupkan las dan kompresor empat bulan lalu. Bengkelnya kini kembali ramai dengan tumpukan bodi motor bekas, kabel berserakan, dan robot-robot yang berdiri gagah menunggu sentuhan akhir. 

“Sekarang pesenan jarang, tapi kalau pas ramai ya ramai. Robot setinggi tiga meter beratnya bisa sampai 200 kilogram. Awet, jadi jarang beli lagi,” ia tertawa kecil.

 Baca Juga: Dinas Sosial Sleman Baru Penuhi Hak Dasar Disabilitas Berat, Salurkan Rp 300 Ribu Tiap Bulan

Di sela jeda pesanan, ia tak berhenti bekerja. Kayu, semen, besi, semua bisa ia bentuk. Di balik sisa-sisa limbah plastik yang berserakan, di antara gubahan raksasa yang berdiri membisu, ada kisah kegigihan seorang seniman yang tak pernah berhenti bereksperimen.

Dari sampah menjadi karya seni bernilai tinggi, Ismail menjadi bukti bahwa kreativitas dapat lahir dari keterbatasan. “Semua rezeki saya terima,” ujarnya mantap. (bas/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#Pacitan #bangka belitung #bekas #Malaysia #Gunungkidul #bodi motor #Playen #Ismail #Sampah #Korea Selatan #robot raksasa