Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kuasai Tari Klasik Yogyakarta di Usia Belia, Francis El Nathan Hardianto Terima Anugerah Kebudayaan Kabupaten Sleman 2025 sebagai Penari Termuda

Delima Purnamasari • Jumat, 5 Desember 2025 | 05:30 WIB

Francis El Nathan Hardianto.
Francis El Nathan Hardianto.


SLEMAN - Di antara enam orang penerima Anugerah Kebudayaan Kabupaten Sleman 2025 di Gedung Serbaguna Sleman, Kamis (4/12/2025) terlihat ada satu sosok yang masih belia di antara para senior.

Dia adalah Francis El Nathan Hardianto yang menerima penghargaan anak berprestasi di bidang kebudayaan.

Usai menerima penghargaan, laki-laki kelahiran Sleman 22 Oktober 2015 ini turut menampilkan tari keahliannya, yakni Klana Topeng.

Tari yang membawanya bisa diundang di berbagai acara daerah, nasional, hingga internasional.

Termasuk di Pendapa Sri Manganti dan menjadi penari termuda Klana Topeng di Keraton Yogyakarta.

"Seneng. Suka nari Klana Topeng karena pakai topeng," terang laki-laki yang akrab dipanggil El ini saat ditemui di sela-sela acara.

Saat ditanya cita-citanya, dia mengaku belum tahu pasti. Hanya saja ingin terus bisa melestarikan budaya Jawa.

Ibunya, Siska Dwi Sari bercerita, ketertarikan putranya pada dunia kesenian berawal saat menginap di salah satu hotel Kaliurang pada 2023.

Saat itu ada acara kirab pusaka dan acara jatilan yang meriah. Usai melihat kegiatan itu, El secara mandiri kerap mencari informasi mengenai tradisi dan tari-tari Jawa.

Siska menyebut, dia dan suaminya sama sekali tidak ada latar belakang budayawan.

"Ketertarikannya awalnya memang pada tarian topeng, seperti gedruk dan bujang ganong," katanya.

Saat itu, sang ayah mendokumentasikan El yang mencoba menari dengan mencontoh YouTube lalu mengunggahnya di media sosial.

Banyak rekan yang menyebut putranya sangat luwes dan menjiwai. Hingga akhirnya orang tua mencoba memasukkan El ke ke Sanggar Omah Cangkem.

Dia tempat belajar kesenian pertamanya ini, El berlatih menabuh kendang, menari di atas panggung, dan mulai berkenalan dengan berbagai seniman di Jogja.

Siska juga bercerita bahwa putranya juga belajar menari Bambangan Cakil dan seringkali diajak pentas bersama Sanggar Kinnara Kinnari di Magelang.

Tahun 2024, El dipercaya untuk terlibat dalam Kegiatan Rumaket dengan judul "Srikandi Maguru" dan berperan sebagai Cakil.

Di situ El banyak berkenalan teman-teman baru yang menarikan tari klasik Yogyakarta.

Saat itu, El mulai tertarik untuk belajar tari klasik dan kemudian bergabung dengan Sanggar Tari Siswo Among Bekso, Paguyuban Seni Suryo Kencono, dan berkesempatan belajar langsung Tari Klana Topeng gaya Yogyakarta dengan KRT Condrowasesa.

"Sekarang El makin fokus mendalami tari Klasik Yogyakarta dan setiap hari Minggu rutin ikut gladhi beksan di Bangsal Srimanganti Kraton Yogyakarta," tambahnya.

Baca Juga: Polisi Bekuk 17 Tersangka selama Operasi Curas Progo 2025, Mayoritas Jambret

Selain Tari Jawa, El mampu menarikan beberapa tarian Bali. Misalnya, Tari Baris Tunggal, Topeng Keras, dan Rangda. El juga piawai dalam bermain kendang.

Walau masih terbilang muda, ada berbagai kendangan yang dia kuasai. Di antaranya, Lancaran, Bubaran, Ladrang, Semarangan, dan Gangsaran.

"Memang El ini dikenal cepat belajar. Kami sebagai orang tua tidak pernah mengarahkan karena memang tidak paham. Kami hanya berusaha mendukung," katanya. (del)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Anugerah Kebudayaan #Tari Klasik Yogyakarta #Sleman #Keraton Yogyakarta #Penari Termuda